Suami yang Nyinyir, Istri Kena Copot; Apa Gak Salah?

Suami yang Nyinyir, Istri Kena Copot; Apa Gak Salah?
©Mixnews

Nalar Warga – Anggota keluarga: orang tua, suami/istri, atau anak, semuanya adalah “orang lain”. Siapa pun yang melakukan “kesalahan”, maka yang bersangkutan yang harus bertanggung jawab, kena sanksi. “Orang lain” (anggota keluarga) tidak wajib ikut menanggung.

Di kasus yang tengah viral ini, hal pertama yang mesti kita tanyakan: apa salah nyinyir? Kemudian, bisakah individu dihukum hanya karena menyatakan “rasa benci” atau “tidak percaya”?

UU ITE memang mengatur soal ujaran jenis ini, terkategori “hate speech”. Tapi perkara ini pun, sejatinya, bukan sebuah pelanggaran.

Alih-alih merampas, “hate speech”, dan melontarkannya ke siapa saja, adalah bentuk pemenuhan hak. Yang melarang itulah yang justru melanggar, bukan sebaliknya!

Terkait hukum disiplin pejabat, dan hukum tentang apa saja, napas aturannya harus individual. Tidak bisa, misalnya, karena yang bersangkutan adalah anggota Persup (Persatuan Suami Pejabat), maka si istri, yang pejabat, turut dan harus bertanggung jawab.

Dalam “konsep dosa”, tidak ada istilah dosa kolektif. Masing-masing individu bertanggung jawab atas tindakannya sendiri-sendiri. Tidak ada pelibatan siapa-siapa di dalamnya selain diri dan sang hakim. Individual!

Maka, sesiapa yang melakukan dosa, dialah yang mesti kena sanksi. Menghukum dua-duanya adalah menyalahi “konsep dosa”. Sebab suami-istri tidak punya ikatan, kecuali DALAM CINTA.

*Maman Suratman

Baca juga:
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)