Suara Perjuangan Warga Wadas Menolak Tambang

Gerombolan orang itu kemudian melakukan penangkapan membabi-buta para warga yang berada di masjid itu. Sementara sebagian lain yang tersisa, kami harus tertahan di dalam masjid hingga sore hari tanpa mendapat makanan dan minum yang cukup.

Ketakutan dan pengepungan yang belum mereda pada hari itu membuat kami enggan kembali ke rumah masing-masing.

Ketika kami berhasil kembali pulang, banyak di antara kami mendapati rumah telah sepi dari anggota keluarga. Banyak di antara mereka tidak mengetahui bahwa aparat kepolisian menangkap sebagian keluarganya.

Di tengah perasaan takut, trauma, dan menantikan kabar anggota keluarga yang tertangkap, hal itu menghantui kami terus-menerus sehingga mengganggu tidur kami selama beberapa malam. Hingga saat ini, salah satu warga masih merasa takut apabila melihat orang berpakaian hitam.

Pada kasus lain, ada warga yang masih takut pergi ke ladang dengan membawa arit karena lekat ingatannya atas tuduhan membawa senjata tajam saat berada di kantor polisi.

Pada pertemuan itu, kami juga menyampaikan kepada Pak Ganjar mengapa hingga saat ini kami tetap berjuang menolak pertambangan quarry di tempat kami, Desa Wadas. Kami yang berjuang menolak pertambangan karena mayoritas warga kami menggantungkan kebutuhan ekonomi dari hasil pertanian di desa ini.

Desa kami memiliki kekayaan alam yang melimpah dan telah menghidupi kami dari generasi ke generasi. Bila ditambang, sebagaimana kami sampaikan pada Pak Ganjar, semua kekayaan Bumi Wadas itu akan hilang.

Perjuangan atas penolakan pertambangan di desa kami bukan hanya perkara ekonomi. Warisan sejarah dan budaya nenek moyang yang melekat juga menjadi alasan perjuangan kami.

Baca juga:

Orang tua kami sering menceritakan, sejak zaman kolonial, Wadas telah menjadi incaran penambangan oleh bangsa penjajah. Orang tua kami berhasil mempertahankan kelestarian Bumi Wadas dari ancaman kerusakan tersebut. Pesan untuk selalu menjaga kelestarian Bumi Wadas itulah yang terus meraka turunkan kepada kami, anak-cucu mereka.

Di antara warisan budaya nenek moyang yang mereka turunkan kepada kami di Desa Wadas ada dua, yakni Hutan Sedudo dan Randu Alas.

Bila pertambangan berhasil masuk, dua warisan budaya yang usianya telah ratusan tahun itu akan hilang. Hal ini salah satu yang membuat kami yakin dan konsisten atas perjuangan kelestarian Desa Wadas.

“Tanah di Wadas itu bukan tanah jualan, tetapi menyangkut tanah leluhur, nyawa, serta menjadi generasi berikutnya. Jadi sampai kapan pun, dengan risiko apa pun, dan bagaimana pun caranya, warga Wadas tetap ingin melestarikan, mempertahankan tanah kelahiran kita ini; tanah Desa Wadas tercinta ini,” ungkap salah seorang warga saat pertemuan bersama Pak Ganjar.

Bertolak dari poin-poin yang kami sampaikan sebelumnya, kami menegaskan kepada Pak Ganjar Pranowo untuk mengusut tuntas tindakan kekerasan aparat kepolisian. Di samping itu, kami juga menyampaikan kepada Gubernur Ganjar yang menerbitkan izin pertambangan di Wadas untuk segera mencabut Izin Penetapan Lokasi (IPL) proyek pertambangan batuan andesit di Desa Wadas.

Pertemuan kami bersama Gubernur Ganjar ditutup dengan iringan riuh suara nyanyian, “Cabut IPL.”

Atas nama hak untuk hidup dengan aman tanpa kekerasan, kami warga Wadas yang sejak awal konsisten untuk menjaga kelestarian alam dan menolak pertambangan batuan andesit di Desa Wadas menuntut Gubernur Ganjar Pranowo dan Kapolda Jawa Tengah untuk:

  1. Hentikan rencana pertambangan quarry di Desa Wadas.
  2. Tarik seluruh aparat kepolisian dan preman dari Desa Wadas.
  3. Hentikan kriminalisasi dan intimidasi terhadap warga Wadas.
  4. Usut tuntas tindakan kekerasan yang aparat kepolisian lakukan di Desa Wadas.

Narahubung:

  • Insin Sutrisno/GEMPADEWA (0852-4463-0194)
  • Kuasa Hukum/LBH Yogyakarta (0823-3027-4562)

*GEMPADEWA

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)