Subjektivitas, Tangisan dan Pembelaan Soren Kierkegaard

Subjektivitas, Tangisan dan Pembelaan Soren Kierkegaard
Ilustrasi: mactoons.com

Soren Kierkegaard, salah satu filsuf paling menonjol dalam sejarah eksistensialisme, dikenal baik sebagai teolog kenamaan di tanah lahirnya, Denmark. Hal tersebut tergambar jelas di hampir seluruh buah pikirnya. Fokus perhatiannya nyaris hanya tertuju pada satu persoalan saja, yakni bagaimana menjadi seorang Kristen dalam umat Kristiani.

Dalam Filsafat Eksistensialisme (Vincent Martin: 2001), sebuah buku yang menghadirkan pemikiran tiga filsuf eksistensialis secara garis besar, Søren Kierkegaard, Jean-Paul Sartre, dan Albert Camus, menjelaskan bahwa pengetahuan Kierkegaard tentang umat Kristiani ia dapatkan dari pernyataan Lutherianisme Denmark di abad 19: bahwa Lutherianisme adalah agama resmi negara; pendeta adalah pejabat negara.

Sehingga, dalam kesimpulannya, menjadi seorang Kristiani adalah sesuatu yang diidam-idamkan. Sementara, Kristen sebagai agama, dipandangnya adalah sikap yang diterima secara umum.

“Begitulah, semua adalah orang Kristen.” (hlm. 4)

Memang, di masa Søren Kierkegaard, agama Kristen menjadi ajaran yang benar-benar radikal (mengakar kuat). Kristen menjadi arah dunia yang baru. Ia cair karena semua kepedihan dan kekerasan telah dibuang. Kristen telah disekulerkan. Ia menjadi sekadar hal yang rutin.

“Setiap orang adalah Kristen, namun tidak berpikir tentang tuhan. Setiap orang adalah Kristen, namun hidup dalam kategori-kategori non-Kristen. Setiap orang berkata bahwa ia adalah pengikut Kristen, tetapi malah lari dari Salib. Agama Kristen sudah menjadi hal yang biasa, membosankan, dan sedang-sedang saja.” (hlm. 5)

Demikianlah pemandangan yang Kierkegaard saksikan di lingkungan semasa hidupnya. Kondisi-kondisi itulah yang mengantarkan dirinya untuk getol mempertanyakan: bagaimana menjadi seorang Kristen yang baik dalam umat Kristiani.

Selain pengaruh pernyataan Lutherianisme Denmark, filsafat Hegel juga menjadi alasan utama mengapa Kierkegaard memunculkan masalah krusial seputar agama Kristen ini.

Kita tahu, khususnya di Jerman dan di negara-negara Skandanavia masa itu, Hegelianisme menjadi filsafat yang paling berpengaruh. Banyak pejabat yang mempelajari itu di perguruan-perguruan tinggi. Mereka mulai menafsirkan ajaran Kristen dalam terma-terma pemikiran Hegel.

Lantaran Hegel menafsir iman sebagai sesuatu yang rendah dibanding filsafat, hanya sebagai salah satu langkah saja menuju filsafat, Kierkegaard kemudian muncul memberi kritik utamanya atas itu. Baginya, Hegel telah melakukan kesalahan mendasar mengenai iman. Hegel telah merusak pemikiran yang benar tentang iman Kristen.

Dalam upayanya melawan ini, Søren Kierkegaard kemudian mengemukakan sebuah polemik yang menggerakkan semua pemikiran dan tindakannya, yang kelak berpengaruh kuat bagi para penulis setelahnya, menjadi motif utama bagi semua tokoh eksistensialis modern, yang disebut dengan subjektivitas.

Sebagai poros argumen Kierkegaard atas pemikiran yang salah tentang agama Kristen, ia menjelmakan subjektivitas sebagai tangisannya atas laku para pejabat negara di masanya, sekaligus pembelaannya terhadap orang awam kala itu. Bahwa orang Kristen, bagi Kierkegaard, harus menjadi pemikir yang subjektif.

Lihat juga: Satu Alasan Mengapa Manusia Harus Berfilsafat

Guna menerangkan ini lebih jauh, Kierkegaard mengidentikkan subjektivitas dalam kerangka filsafat spekulatif. Bahwa makna subjektivitas yang berarti pemberian dan penerimaan agama Kristen, menurutnya, bertujuan untuk menjadi seobjektif mungkin, yakni melihat objek tanpa hasrat dan kepentingan pribadi.

“Semakin banyak pemikir bisa mengabstrasikan dari dirinya sendiri dan setelah itu ia mengenyampingkan semua kepentingan pribadi, maka semakin filosofis pula pandangannya dan semakin benar pula pendekatannya terhadap suatu permasalahan.” (hlm. 10)

Melalui makna awal di atas, bisa diterangkan bahwa spekulasi, yakni subjektivitas, berarti memperhatikan, memandang, melihat.

“Orang tidak harus melihat agama Kristen saja; orang harus menyerapnya, karena agama Kristen bukanlah suatu ajaran untuk dipelajari, tetapi lebih merupakan kehidupan untuk diikuti. Orang Kristen harus terlibat secara mendalam dan pribadi dengan agamanya; ia harus benar-benar peduli terhadap agama Kristen, karena sikapnya terhadap agama itu akan menentukan kepribadiannya.” (hlm. 10)

Selanjutnya, subjektivitas juga Kierkegaard maknai sebagai kesadaran pemikir yang tetap bahwa ia adalah seorang yang eksis.

“Seorang Kristen tidak boleh lupa, meskipun sesaat, bahwa ia adalah seorang individu yang eksis karena tugasnya bukanlah lari dari yang individu menuju yang umum, melainkan tugasnya adalah untuk masuk ke dalam eksistensinya dengan berpikir, menembus eksistensinya dengan kesadaran.” (hlm. 12)

Makna ketiga dari subjektivitas Søren Kierkegaard, yakni sebagai etika. Ia meyakini bahwa semakin banyak filsafat yang dikemukakan oleh seorang individu untuk banyak orang, maka akan semakin banyak pula penekanannya, terutama pada etika. Sebab etika, menurutnya, mementingkan individu, yang secara etis merupakan tugas setiap orang dalam rangka menjadi manusia yang utuh.

“….karena etika bukanlah sekadar pengetahuan, melainkan juga perbuatan.” (hlm. 15)

Yang keempat, subjekvitas dimaknai sebagai keputusan, pilihan, atau hasrat. Bahwa para pemikir subjektif tidak  boleh hanya mengetahui etika, tetapi juga harus melakukan sesuatu mengenai itu: harus menghidupkannya.

“Menghidupkan etika berarti membentuk sebuah keputusan, membuat pilihan, menggunakan kemauan.” (hlm. 15)

Begitulah secercah pemikiran Kierkegaard tentang subjekvitas sebagai tangisan sekaligus pembelaannya atas kehidupan umat Kristiani. Maka, beberapa hal bisa kita simpulkan di sini, di antaranya:

  1. Mengubah pikiran seorang beragama (orang Kristen) untuk tidak hanya mengetahui doktrin agama, tapi juga menghidupkannya kembali.
  2. Membantu menyadari bahwa untuk menghidupkan ajaran agama, perlu keputusan, niat, tujuan, dan antusiaisme.
  3. Menyadarkan bahwa manusia adalah individu yang eksis, pribadi-pribadi, diri yang sadar, bukan sekadar bagian dari kerumunan.
  4. Mendorong manusia untuk bersungguh-sungguh dalam kehidupan berbasis etika, menjadi individu-individu yang reflektif.

Singkat kata, Kierkegaard, sebagaimana umumnya filsuf eksistensialisme, membuat kita lebih eksistensial: mampu mengekspresikan, menyelami kedalaman-kedalaman terkait hakikat manusia yang sebenarnya.

___________________

Artikel Terkait:
Mimin NP
Latest posts by Mimin NP (see all)