Suluk Makrifat ala Al-Ghazali

Suluk Makrifat ala Al-Ghazali
©Jatman Online

Suluk Makrifat ala Al-Ghazali

Umumnya, para sarjana Islam terutama golongan sufi mengatakan bahwa makrifat berarti mengetahui sesuatu apa adanya (tidak menerima keraguan). Dalam tasawuf, makrifat digunakan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati sanubari. Hati sanubari inilah yang akhirnya menjadi alat untuk mengenal Tuhan. Tentunya, proses mengenal Tuhan haruslah dengan menggunakan kekuatan batin dengan mengetahui rahasia-Nya.

Itu sebabnya, tujuan yang ingin dicapai maqam makrifat adalah bagaimana mengetahui rahasia-rahasia yang muncul dari Tuhan. Pengenalan batin ini penting dipahami dengan baik. Sebab, terkadang seseorang melakukan sesuatu yang dikira baik, namun sebenarnya merusak. Salah satu yang terpenting dari pemahaman amal batin bagi penempuh jalan ibadah adalah sikap tawakal. Karena manusia tidak akan pernah luput dari kekhawatiran, dan ini sering merusak sikap tulus dan rida dengan keputusan Allah swt.

Berbeda dengan pandangan Harun Nasution misalnya, makrifat berarti mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan. Namun, sebagian sufi berpendapat bahwa, jika mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah swt. Begitu juga, jika makrifat mengambil bentuk materi, semua orang yang melihatnya akan mati karena tidak tahan melihat wujudnya.

Dalam kitabnya, al-Ghazali menyebutkan: “Barangsiapa tidak mengenal Allah swt. di dunia, ia tidak akan melihat-Nya di kemudian hari. Dan barangsiapa tidak mendapatkan kebahagiaan ma’rifah di dunia ini, tidak akan memperoleh kebahagiaan pemandangan di akhirat. Tak seorang pun dapat menyeru (untuk memohon kepada Allah) di hari nanti, manakala tidak mencari persahabatan-Nya di dunia ini, dan tidak seorang pun akan menuai apabila tidak menabur benih.”

Dari itu, jelas, ketika seseorang dalam hidupnya hanya berkutat dengan kesibukan duniawi tanpa memperhatikan kehidupan akhirat, maka baginya adalah sebuah kerugian amat besar. Hakikat kebahagiaan adalah ketika seorang hamba dapat berkomunikasi secara intim dengan Tuhan-Nya. Wujud komunikasinya dapat berupa selalu mengingat akan kebesaran dan kekuasaan Allah swt.

Kita tahu, orang yang mengenal Allah adalah orang yang telah mengalami pengetahuan ruhani yang tinggi, sehingga seolah-olah mereka dapat melihat dan berhadapan dengan-Nya. Tidak sedikit orang arif ketika melaksanakan shalat misalnya, mereka terlihat tersenyum dan khusyuk. Ini menjadi tanda bahwa mereka telah merasakan kenikmatan dan kegembiraan luar biasa ketika berhadapan dengan Sang Maha Pengatur kehidupan.

Bagi al-Ghazali, luapan kerinduan para arif biasanya dirasakan dalam beberapa macam, yaitu keterperanjatan (ad-dahsy), keterpesonaan (al-haiman), yakni apabila kalbu mulai tenang kemudian decaknya berulang-ulang, maka kalbu menjadi takjub, bimbang akan kebajikan dan karismanya. Kemudian penempatan (at-tamkin), isyarat menuju pangkal kemandirian, hingga tidak satu pun seakan ada yang masuk, atau tidak satu pun jalan yang melintasinya.

Singkatnya, yang menjadi rahasia dan ruh untuk mengenal Allah swt. adalah ketauhidan. Dengan ketauhidan seseorang dapat menyucikan segala sifat tercela. Karena itu, tanda makrifat salah satunya adalah hidupnya hati bersama Allah swt. Tidak ada sesuatu yang singgah di dalam hati seorang sufi kecuali hanya asma-Nya.

Baca juga:

Suluk Kemakrifatan

Beberapa kalangan menyamakan kata makrifat dengan kata ilm, sehingga semua kata ilm adalah makrifat, dan semua makrifat termasuk dalam kategori ilm. Demikian juga, setiap orang yang memiliki ilmu tentang Tuhan maka, ia telah mempunyai makrifat mengenai Tuhan. Bagi para sufi, makrifat adalah karakteristik orang yang sangat dekat dengan Tuhan melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Orang yang seperti ini adalah orang bersih dari kecenderungan berbuat negatif dan hanya mengharap ridha-Nya dengan hati yang terus merindukan-Nya. Makrifat tidak dapat dibeli dan dicapai melalui usaha manusia, karena akrifat adalah anugerah dari Allah swt. Setelah seseorang berada pada tingkatan makrifat, seorang arif akan mengenal rahasia Allah swt (apabila hati mereka hidup melalui dzikir dan berkeinginan untuk menerima rahasia ketuhanan).

Namun demikian, pendapat lain menyatakan bahwa makrifat harus dicari dengan kebenaran hati dan akal pikiran, sehingga Tuhan memberikan karunia-Nya kepada manusia tersebut. Niat dan cita-cita untuk mencapai makrifat adalah terdapat dalam hati. Atas dasar itu, Nabi saw. pernah bersabda: “Bahwa siapa saja yang telah memiliki niat didalam hatinya kemudian belum sempat untuk melakukannya hingga mereka meninggal, maka Allah akan jadikan manusia tersebut tergolong orang yang alim.”

Begitu mulia gambaran orang yang mencari makrifat. Para malaikat berbagi peran dalam memberikan ruh Muhammad yang dapat menghubungkan antara hamba dengan Sang Khaliq. Dalam hal ini, kedudukan niat dan kemauan sangatlah urgen untuk menggapai dan mewujudkan cita-cita yang tertunda itu. Dan, untuk mencapai tingkatan makrifat, maka harus melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya.

Sifat-sifat kemanusiaan maksudnya seperti, iri, dengki, sombong, riya’, ujub dan lainnya. Banyak orang yang berilmu di dunia, akan tetapi di alam kubur menjadi orang yang hina, yaitu mereka yang ketika di dunia telah menyombongkan ilmunya. Mereka menggunakannya untuk mencari kepuasan duniawi sehingga terus menerus berbuat maksiat dan dosa. Bahkan memiliki ilmu yang luas tetapi tak mampu menghalangi perbuatan yang dilarang oleh syariat Islam.

Karena itu, seseorang yang tidak memadukan ilmunya dengan perilaku dan terus berupaya menyempurnakannya tidak akan mendapatkan pahala. Tentu, pandangan ini dipegang oleh dua kelompok. Salah satunya menuntut ilmu demi memperoleh reputasi besar (di tengah masyarakat) karena mereka tidak mampu mengungkapkannya dalam tindakan dan mencapai realisasi utuh atas ilmunya.

Sementara, yang lain memisahkan ilmu dari amal karena tidak memiliki ilmu ataupun amal. Maka dari itu, orang bodoh berpendapat bahwa ucapan tidaklah diperlukan, karena kondisi spiritual adalah satu-satunya hal yang diperlukan. Orang ini sama bodohnya dengan orang yang mengatakan bahwa ilmu itu diperlukan, sedangkan amal adalah sia-sia.

Memang, kesadaran akan amal batin ini cukup banyak disinggung dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Dalam kitab itu juga disebutkan jenis orang yang mudah tertipu karena kurang memakrifati batinnya. Mereka yang sering tertipu karena melalaikan ilmu seperti, kalangan ilmuwan yang hanya memfokuskan diri pada masalah lahiriah. Sedemikian mendalam saat mengurai argumen aqliyah, namun melupakan dan tidak memperhatikan pemeliharaan batin. Allah swt berfirman:

Baca juga:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (QS. As-Syams: 9).

Nabi saw juga bersabda: “siapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah amalnya, akan bertambah jauh diri dari Allah swt.” Kedua, tipuan ini bisa menimpa kepada ahli ibadah dan ahli beramal. Tipuan kepada kelompok ini cukup banyak ragamnya. Misalnya, sikap mementingkan fadhilah (keutamaan) dan sunnah peribadatan, tetapi meremehkan hal yang fardhu.

Termasuk yang terkena tipuan ini adalah golongan ahli tasawuf, terutama para sufi kontemporer, dengan menunjukkan sikap bahwa ia mengaku sebagai orang yang telah memiliki ilmu makrifat. Ia merasa telah mampu memelihara Tuhan dengan mata hatinya dan merasa telah lulus melewati sejumlah maqam tasawuf. Padahal hasilnya keliru dan bahkan kadang menyesatkan.

Syahdan, berbeda dengan al-Ghazali, bagi al-Mishri, puncak makrifat terdapat dua macam, yaitu ketercekaman dan keterpesonaan. Dua hal ini dapat dijadikan tolak ukur bahwa sebelum seorang sufi mencapai maqam makrifat, maka harus memiliki dua perasaan tersebut. Karena itu, ketika seorang hamba telah sampai pada makrifat, Allah swt. akan tampak baginya melalui setiap dorongan spiritual, melindungi batinnya dari serbuan pemikiran sesat dan sesuatu selain Allah swt.

Salman Akif Faylasuf
Latest posts by Salman Akif Faylasuf (see all)