Sumpah Pemuda: Cinta Membuat Kita Muda

Persis bertepatan dengan momen pandemi, dan diperparah dengan eskalasi konflik internasional yang makin tidak menentu dan sulit diprediksi, kita butuh membaca ulang matra khas sumpah pemuda, yakni pengakuan akan satu tanah air Indonesia, berbangsa satu yakni bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Tiga komitmen tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Pertama, hubungan pemuda dengan tanah air Indonesia dalam dua arti. Arti pertama, tanah air secara geografis yang merupakan kedaulatan eksistensial semua makhluk hidup di darat, lautan, dan udara.

Artinya, selain mengakui, kaum muda Indonesia mesti menjaga dan mempertahankan tanah air itu dari segala bentuk ancaman pengerusakan lingkungan, baik oleh korporasi asing maupun kekeliruan intervensi negara.

Arti kedua, yakni tanah air Indonesia sebagai konsep politik yang merupakan parameter bagi kaum muda hari ini untuk merumuskan dan melakukan politik. Jika pengertian pertama cenderung direduksi sebagai penanda kedaulatan NKRI, pengertian kedua merupakan medan negosiasi politik.

Mengenai dua pengertian di atas, bisa baca dua buku Carl Schmitt, yakni Land and Sea (Plutarch Press, 1997) dan The Concept of the Political (The University of Chicago Press, 2007).

Kedua, hubungan pemuda dengan masyarakat sebagai sebuah bangsa. Sebagai bagian dari bangsa yang multikultural, kaum muda Indonesia mesti mengedepankan empati dan pengertian dalam setiap pemikiran dan tindakannya.

Di situ muncul pertanyaan: Bagaimana kaum muda hari ini dapat membantu memperdalam empati dan pemahaman berbagai suku bangsa terhadap problem sosial politik hari ini dan mendorong kita semua untuk mengambil tindakan?

Ketiga, hubungan pemuda dengan bahasa. Ini bagian paling fundamental karena mengukur kedalaman relasi kaum muda hari ini dengan bahasa.

“Pada mulanya adalah sabda” bukan hanya mau menegaskan bahwa Tuhan adalah sabda, melainkan menunjukkan bahwa Tuhan hanya bisa menjadi manusia ditentukan dari kemampuan-Nya berbahasa. Menggunakan bahasa, itulah yang menentukan orang menjadi manusia, menjadi pemuda Indonesia.

Baca juga:

Sitor Situmorang menulis sebuah sajak tanpa judul yang termuat dalam buku kumpulan puisinya: Rindu Kelana, berbunyi demikian: 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯/𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯,/𝘏𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢𝘬.//𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶/𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪/𝘥𝘪𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶.

Bagi Sitor, hubungan kita dengan sajak adalah hubungan manusia dengan bahasa. Sebab yang sanggup menghancurkan bukan cuma lengan yang perkasa; yang mampu memompakan ketakutan ke dalam diri orang bukan hanya moncong senjata; yang merendahkan martabat orang bukan hanya keterpurukan ekonomi; yang menghancurkan masa depan orang bukan cuma pencabutan hak politisnya.

Demikian pula, yang bisa membangun dan memberi daya tumbuh tidak cuma dana dan struktur, sistem dan gagasan; yang membesarkan hati dan membuat orang bertahan dalam sebuah perjuangan bukan hanya kemegahan bangunan.

Budi Kleden menulis, “adalah juga bahasa dan sajak yang dapat menghancurkan: memisahkan dan memutuskan sebuah relasi, membangun dan meneguhkan sebuah persahabatan, menorehkan luka yang dalam pada sejumlah orang, dan menyiramkan semangat juang dalam diri mereka yang dipinggirkan”.

Artinya, selain menjunjung Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, orang muda Indonesia perlu bertanya: Berhadapan dengan krisis lingkungan, krisis kesehatan, dan krisis politik hari ini, apakah kita membutuhkan kata-kata yang berbeda untuk mengungkapkan kompleksitas, urgensi, dan ketidakpastian bersakala mendadak seperti itu, termasuk menciptakan kisah yang berbeda?

Demikian pula sebagai mahasiswa, apakah membaca, menulis, dan berdemonstrasi mampu memperluas imajinasi kita sehingga kita dapat menciptakan cara baru untuk hidup, melibatkan komunitas yang terabaikan dan memperbaiki ketidakadilan lama?

Selamat Merayakan HUT Ke-93 Sumpah Pemuda.

Jadilah generasi yang selalu muda dan energik, berapa pun usia Anda, tanpa harus mengikuti klasifikasi usia produktif dan nonproduktif dari negara!

Baca juga:
    Hans Hayon
    Latest posts by Hans Hayon (see all)