Surat Al-Luka

Surat Al-Luka
©Blog

Dialah utusan Tuhan, tentang kisah luka-luka-Nya.

oOo

Sampaikanlah pada kaummu (Yuzar) tentang kisah kaum Sakih yang melebihi batas dan sesungguhnya merekalah orang-orang yang belum mengetahui. Sesungguhnya Kami menurunkan sebuah kisah yang paling baik bagi kamu, agar kamu mudah memahaminya. Perhatikanlah apa yang Kami kisahkan ini kepadamu dan kabarkan pada mereka. Sakih adalah kaum yang celaka, maka janganlah kamu contoh mereka. Karena mereka telah mendustai dan me-luka-i Tuhan alam semesta.1

(Ingatlah), ketika kaum Sakih melempari Han (utusan Kami sebelumnya) dengan kerikil. Han berdoa kepada Kami, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaum Sakih adalah orang-orang yang belum mengetahui. Janganlah Engkau murkai mereka, sebelum aku selesai (mengemban amanah) sebagai utusan-Mu dan janganlah beri (mereka) azab, sebelum mereka melebihi batas.”2

Kaum Sakih berkata, “Wahai Han, jika Tuhan Maha Pengasih, kenapa kami menderita? Jika Tuhan itu adil, kenapa ada si miskin dan si kaya? Jika Tuhan Maha Bijaksana, kenapa Dia ciptakan si kaya untuk menghina si miskin? Jika Tuhan itu baik, kenapa Dia tidak mengasihi kami kaum miskin? Dan jika Tuhan memang baik dan tidak mau mengasihi kami, kenapa Dia disebut Tuhan?”3

Dan demikianlah Tuhanmu, memerintahkan kamu (untuk menceritakan kaum Sakih) dan diajarkan-Nya kepadamu teladan dari perjuangan Han dan disempurnakan-Nya kisahnya kepadamu dan kepada kaummu, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada utusan pendahulumu. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.4

 Sesungguhnya ada tanda-tanda kasih sayang Tuhan pada (kisah) Sakih dan utusan Kami sebelum kamu, bagi orang-orang yang bertanya.5

Yaitu ketika mereka (Sakih) berkata, “Sesungguhnya kita kaum beruntung, alam yang kita miliki menjadi sumber kehidupan. Dan kasihanlah mereka yang alam-alamnya tandus lagi kekeringan. Ini adalah suatu keberuntungan yang besar, tapi kenapa Han tidak percaya (ini sebuah) keberuntungan dan berkata seperti orang gila jika ini semua adalah dari Tuhan?”6

“Bunuh saja Han, sesungguhnya dia benar-benar gila atau buang saja dia ke negeri jauh lagi kekeringan. Biarkan Tuhannya memberi kekayaan alam seperti milik kita.”7

Seorang di antara mereka berkata, “Jangan bunuh Han, lebih baik kita penjarakan saja dia dan tuntut Tuhannya agar memberi kita kekayaan sebagai tebusannya.”8

Mereka berkata, “Wahai Lily (Ibu Han), izinkan kami membawa Han untuk berburu di hutan. Seperti yang biasa kami lakukan sebelum memasuki bulan Cahaya (bulan yang tidak ada hujan), agar persediaan makanmu tercukupi.”9

“Biarkan dia pergi bersama kami malam nanti, agar (Han) bisa merasakan senangnya berburu kebaikan. Sebab dia belum (pernah) berburu sama sekali dan janganlah engkau khawatir, kami pasti menjaganya.”10

Lily berkata, “Sesungguhnya kepergian Han bersama kalian sangat berat bagiku. Aku khawatir ketika kalian sedang memburu hewan, Han lengah dari penjagaan. Aku takut dia tidak (bisa) menjaga dirinya, sebab ini baru pertama kalinya (berburu).”11

Mereka berkata, “Jika kami lengah (dalam) menjaganya, sedang kami adalah orang yang terbiasa (dan kuat). Maka sesungguhnya kami adalah orang yang ceroboh.”12

Kemudian mereka membawa Han ke dalam hutan dan (sepakat) memasukannya ke penjara dan (ketika sudah dalam penjara) Kami wahyukan kepada Han, “Sesungguhnya perbuatan mereka adalah ceroboh. Mereka telah mendustaimu dan me-luka-i Kami sebagai penciptanya. Ketahuilah, Tuhanmu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”13

Lalu kembalilah mereka kepada Lily di kemudian hari sambil menangis.14

Mereka berkata, “Wahai Ibu Han, demi anak panah yang menjadi saksi perburuan kami. Sesungguhnya kami (berlari) mengejar hewan untuk dibunuh dan kami kira Han (ada) di sisi kami. Tetapi setelah (sampai) di perbatasan. Celakalah! Han tidak ada dalam (rombongan) kami.”15

Mereka datang dengan (sandiwara) menangis sejadi-jadinya atas dasar kepalsuan dan di pundak mereka terdapat hewan-hewan yang diikat. Kemudian mereka turunkan (hewan) itu dan memberikannya kepada Lily sebaga bukti kejujuran mereka.16

Berkata Lily, “Sebetulnya kalian sendirilah yang menilai itu adalah baik (jika memang cerita itu benar) dan baik pula pemberian hewan buruan kalian (atas kesabaranku). Sesungguhnya Tuhan Maha Penolong bagi hamba-Nya yang meminta pertolongan.”17

Kemudian pergilah mereka meninggalkan hewan-hewan perburuan. Seorang di antara mereka tertawa lepas, (ada juga) yang berkata, “Kapan kita minta tebusan kepada Tuhan yang Han sembah itu?”18

Mereka berkata, “Demi Han yang menjadi salah satu golongan kami. Sesungguhnya dia adalah orang yang baik, (akan tetapi) menjadi gila setelah mengakui adanya Tuhan yang ia sebut-sebut setiap hari.”19

“Besok lusa kita datang (ke penjara) di hutan, siksa Han hingga Tuhan yang dia sembah menolongnya.”20

Kemudian mereka bersiap-siap membawa bekal (untuk) menyiksa Han dan datanglah mereka dalam keadaan mabuk lagi kehilangan kesadaran. Maka kami wahyukan kepada Han ketika mereka lengah (karena terlalu mabuk), “Wahai Han, sesungguhnya kamu adalah utusan Kami. Janganlah kamu bersedih lagi ketakutan.”21

Berkata Han, “Tuhanku, jika ini terbaik untukku, aku siap menerimanya dan jika ini terburuk untukku, maka tolonglah aku dalam lindungan-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pelindung bagi yang meminta perlindungan.”22

Kemudian datanglah kelompok Pemburu (dari negeri seberang) dan berkata mereka kepada kaum Sakih (yang sedang mabuk), “Sungguh celakalah kalian! Dia (Han) adalah orang yang datang dalam mimpi-mimpi kami dan dialah orang yang terpilih (sebagai) utusan Tuhan.”23

Berkatalah kaum Sakih, “Sesungguhnya Han adalah orang di antara kami dan kamilah yang lebih mengetahui atas dirinya dan dialah satu-satunya orang gila di kaum kami.”24

Dan Pemburu dari negeri seberang berkata, “Berikan saja dia kepada kami, akan kami tebus dengan hewan-hewan buruan kami sebagai gantinya.”25

Dan berlomba-lombalah mereka dalam memerebutkan (Han). Salah satu dari kaum Sakih menembakkan anak panah tepat di salah satu jantung Pemburu. Dan berperanglah mereka hingga saling membunuh satu sama lain.26

Berkatalah Han, “Tuhanku, kenapa Kau hadirkan darah saat melindungiku. Sesungguhnya mereka (Pemburu) tidaklah memiliki kesalahan apa-apa. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengasih bagi mereka yang berjalan di atas kebenaran.”27

Terbunuhlah semua Pemburu dari negeri seberang dan kemenanganlah bagi Sakih. Mereka berkata, “Di mana Tuhanmu di saat kamu sedang kesulitan, Wahai Han? Apa Tuhanmu (sedang) tidur?”28

Maka Kami wahyukan kepada Han, “Bersabarlah kamu, sesungguhnya kesulitan adalah ujian (dari Kami) untuk meningkatkan derajatmu di sisi Kami.”29

Matahari menuruti titah Tuhan, maka terciptalah kehangatan bagimu. Rembulan menuruti titah Tuhan, maka terciptalah malam yang baik bagimu dan sesungguhnya semua makhluk di dunia menuruti titah Tuhan. Kecuali mereka dirasuki iblis yang bertugas menjauhkan hamba-hamba-Nya dari perintah-perintah-Nya.30

Maka Kami ciptakan waktu agar menjadi batas kamu di dunia. Berbuatlah kebaikan, niscaya waktu yang Kami berikan padamu tidak sia-sia.31

(Ingatlah), ketika Sakih memukul (Han) dengan busur-busur mereka. Keluarlah darah dari segala penjuru tubuh Han. (Dan ingatlah), ketika mereka melakukan kejahatan (terhadap Han), mereka (sedang dalam) pengaruh iblis yang terkutuk. Maka berdoalah kepada Kami, agar iblis tidak berani memengaruhi kalian.32

Bertahun-tahun mereka (Sakih) memenjarakan Han. Bertahun-tahun pula mereka menyiksanya. Sungguh, mereka adalah orang yang telah mendustai (Lily) dan neraka terpedihlah bagi mereka yang tidak bertaubat kepada Kami.33

Kemudian mereka mulai lelah dengan kejahatan (terhadap Han) dan membebaskannya ke dalam hutan yang sangat luas. Maka berkatalah Han kepada mereka, “Sesungguhnya perbuatan kalian adalah kebaikan.”34

Salah satu di antara mereka bertanya, “Kebaikan seperti apa maksudmu? Bukankah kami telah menyiksamu selama bertahun-tahun? Apa kamu telah sadar dari kegilaanmu?”35

Han berkata, “Sesungguhnya perbuatan kalian adalah cara bagiku untuk lebih dekat dengan-Nya. Membuatku lebih akrab dengan Tuhanku.”36

Maka tertawalah mereka dan berkata, “Demi alam yang menjadi sumber kehidupan kami. Demi hewan-hewan yang menjadi makanan kami. Kamu lebih gila (dari) sebelum kami menyiksamu.”37

Kemudian Han pergi meninggalkan mereka dan memasuki hutan dengan kehati-hatian. Sesungguhnya Kami memberi tanda perlindungan Kami terhadapnya. Hewan buas Kami tidurkan, serangga-serangga mematikan Kami tidurkan.38

Ketika Kami pertemukan Han dengan ujung hutan, datanglah salah satu wanita di antara kaum Sakih (yang menetap di rumah) menghampirinya. Wanita itu berkata, “Apakah kamu adalah Han yang hilang ditelan hutan?”39

Berkatalah Han, “Demi Tuhan yang selama ini menjagaku, sesungguhnya aku dipenjara oleh kaumku sendiri. Aku bukan hilang ditelan hutan, melainkan hilang ditelan kebohongan.”40

Maka Kami sampaikan pesan kepada Han, “Sesungguhnya Rena adalah wanita yang baik bagi kamu. Perlakukan ia dengan lembut, niscaya ia akan luluh kepadamu. Sampaikan kabar-Ku padanya.”41

Ketika Han menyampaikan kabar Tuhan, (seketika) Rena meminta Han untuk membaiatnya menjadi pengikutnya. Berkatalah Han, “Bagaimana jika kaummu membenci kamu, Wahai Rena?”42

Berkatalah Rena, “Sesungguhnya kebaikan akan menyertaiku, jika mereka berbuat jahat kepadaku. Itulah risiko agar mendapatkan kebaikan yang lebih baik.”43

Bergembiralah Han mendengar ucapan Rena dan bertanyalah Han kepadanya, “Apa kamu tahu keadaan ibuku? Sungguh tiada hal lain yang aku khawatirkan selain ibuku. Semoga Tuhan melindunginya.”44

Kemudian Rena menundukkan kepala, “Demi Tuhan yang telah menyelamatkanmu dari siksaan kaum Sakih. Aku tidak tahu tentang ibumu.”45

Bergegaslah (Han) menuju rumah. Ketika dalam perjalanan, bertanyalah di antara mereka (kaum Sakih), “Bukankah kamu sudah mati dimakan binatang buas, Wahai Orang Gila?” Han tidak memerhatikan berbagai cercaan yang kaum Sakih layangkan. Ia (dan Rena) terus berjalan menuju rumah ibunya.46

Di antara mereka berkata, “Hei lihatlah! Bukankah itu Han? Kenapa Rena anak pemuka kaum Sakih mengikutinya?”47

Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.48

Dan menangislah (Han) ketika sampai di rumahnya. Sesungguhnya ibunya (Lily) telah dibunuh oleh kaum Sakih. Karena setiap saat menuntut mereka untuk mencari (Han).49

Sesunguhnya Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.49

Berkatalah Han, “Tuhanku, jika memang ini terbaik bagiku, aku menerimanya. Jika ini terburuk bagiku, maka lindungilah hamba dari kejahatan-kejahatan yang iblis ciptakan.”50

Kaum Sakih berkata, “Jika Tuhanmu Maha Pengasih, kenapa tidak mengasihimu? Jika Tuhanmu Maha Pelindung, kenapa tidak melindungi ibumu? Jika Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Pelindung tidak mau mengasihi dan melindungi, kenapa Dia disebut Tuhan!”51

Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar.52

Kemudian Han membawa Rena menjauhi kaum Sakih dan mencari tempat perlindungan dari mereka. Berkatalah Han, “Maukah engkau menjadi istriku, Wahai Rena?”53

(Ingatlah), ketika mereka menikah, maka Kami ciptakan kebahagiaan di antara keduanya. (Dan ingatlah), ketika Rena meminta izin suaminya untuk kembali ke kaum Sakih sebab ia merindukan ibunya. Maka berkatalah Han, “Sungguh aku tidak mengizinkan kamu kembali pada mereka.”54

Kemudian dengan diam-diam, (Rena) meninggalkan Han ketika sedang terlelap dari tidurnya. Sungguh itu perbuatan yang dilarang oleh Kami, larangan suami adalah larangan Kami.55

Ketika Kami perintahkan matahari untuk memunculkan diri, Kami bangunkan Han dari tidurnya. Dan berkatalah ia, “Kemanakah engkau, Wahai Rena?”56

Maka bergegaslah ia (menyusul Rena) menuju kaum Sakih.57

Sesungguhnya Tuhan Maha Melihat lagi Maha Mendengar.58

Tatkala Han (sampai) di kaum Sakih. Berkelilinglah ia dalam penyamaran, mencari rumah Rena (yang tidak ia ketahui keberadaannya). Maka Kami beri ia petunjuk dengan keramaian yang terjadi di antara kaum Sakih.59

Semua kaum Sakih berkumpul, sedang (Han) berada dalam ketidaktahuan. Lalu ia menghampiri (kaum Sakih) dengan langkah kaki cepat.60

Sesungguhnya Tuhan Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.61

Ujian yang Kami berikan adalah untuk meningkatkan derajatmu di sisi Kami.62

Maka Kami ceritakan kisah kaum Sakih dan Han sebagai teladan bagi kamu (Yuzar) sebagai utusan Kami yang terakhir. Sesungguhnya kisah ini adalah yang terbaik. Sebuah kisah yang me-luka-i Kami sebagai Tuhan kalian.63

Kemudian (Han) masuk dengan paksa kerumunan kaum Sakih. Ketika ia sampai pada pusat kerumunan, mengepallah tangannya dan melihatlah ia pada istrinya yang (telah) disalib oleh ayahnya sendiri.64

Ingatlah, Wahai Yuzar! Ketika (Han) melihat istrinya mati mengenaskan dan ia melewati berbagai ujian yang telah Kami berikan. Ia berkata, “Tuhanku telah mati!”65

oOo

Dialah utusan Tuhan, tentang kisah luka-luka-Nya.

Latest posts by Wisnu Maulana Yusuf (see all)