Surat dari Puisi

Surat dari Puisi
©Blogger

Kau pasti bertanya isi surat ini
Maaf karena selalu menodai matamu dengan air mata
Yang jelas ini adalah awal dan akhir dari kita
Anggap saja ini sajak yang terluka dan sekaligus rindu

Kau tahu setelah kau pergi aku tidak lagi menulis puisi
Tapi entah apa semalam lima cangkir kopi membawaku menulis puisi tentangmu
Walaupun isinya tak sempat membuatmu sebahagia dulu. Itu benar
Tak ada yang berubah. Kau masih memilik rindu yang utuh
Nyatanya surat ini penuh dengan kata rindu. Aku tidak peduli apakah kau mengerti
Dengan rindu atau tidak. Tapi rindu tetaplah rindu menjelma menjadi candu
Seperti aku yang candu dengan kopi yang menjadi alasan kau pergi

Sudah saatnya dosa kita ini dihentikan. Sebab secangkir kopi masih selalu mengingatkan
Aku tentangmu yang sudah lama pergi
Maka kau tak perlu merasa berdosa atas apa yang telah kau buat
Aku yang berdosa untuk semuanya ini karena lebih memilih kopi untuk bercerita
Daripada memilihmu untuk membangun masa depan

Ledalero, 2019

Barangkali

Barangkali aku jadi cangkir yang hangat
Kopi yang pahit atau sendok yang bunyinya mengganggu sunyi

Jika kau tidak menyukai kopi karena alasan tertentu
Aku jadi senja yang selalu basah di kepalamu supaya kau mengerti
Bahwa mencinta berarti memahami yang tak terselesai

Ledalero, 2019

Tiba-Tiba Menghilang

Mungkin kau sedang mengutuki kepergiaanku
Seperti hujan yang menjarum di kepalamu

Seharusnya setiap malam dilewatkan dengan secangkir kopi berdua
Yang ada hanya ada sunyi dan dirimu. Aku tidak tahu apa yang sedang kau buat di sana

Mungkin kau sedang berlangkah ke dalam kamar sambil melihat foto yang tersusun rapi
Pada dinding kamarmu sambil membayangi momen tertentu yang kau anggap berharga

“mengapa kau tiba-tiba pergi?”
Tanyamu ketika kau menelepon.
“karena aku lebih mencintai Dia yang bersifat kekal.” Jawabku
Kau tiba-tiba diam. Begitu juga aku

Setelah percakapan itu aku tidak lagi menerima kabar darimu
Semuanya jelas untuk kau pahami. Dan aku mulai terbiasa
Terbiasa untuk tidak lagi menerima kabar tentangmu

Ledalero, 2019

Sonny Kelen
Latest posts by Sonny Kelen (see all)