Surat Terbuka untuk Mas Menteri

Surat Terbuka untuk Mas Menteri
©THE

Surat terbuka untuk Mas Menteri (Nadiem Makarim) ini merupakan suara dalam bentuk tulisan seorang warganet Twitter berakun @fashihatulaziza (Efha). Ia menujukannya sekaligus ke Pimpinan Fakultas, atasan unit kerja, dan teman-teman di unit kerjanya.

Dalam pengantarnya di media sosial, ia mengaku sebagai penyintas sexual harassment tentang Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021. Ia tidak bermaksud untuk menyerang institusi tempatnya bekerja. Ini adalah upayanya sebagai korban untuk mendesak segera dibuatnya regulasi sexual harassment, dan menekankan kepada Mas Menteri untuk di-notice.

“Mohon maaf sekali harus saya rilis di publik karena rasanya penting untuk dikawal bersama-sama mengingat isu ini sudah sangat darurat dan harus menjadi prioritas untuk segera dibentuk regulasinya,” kicau Efha.

Ia juga mengaku aduannya tidak ditanggapi sejak 2018, padahal dirinya tidak meminta agar pelaku diberi sanksi.

“Barangkali surat terbuka ini bisa mengantarkan pada jawaban; apa alasan aduan saya tidak mendapat tanggapan hingga hari ini (klarifikasi sementara, email beliau jarang dibuka, silakan bilang di publik saja),” tambah Efha.

Berikut isi lengkap dari surat terbuka untuk Mas Menteri (sudah disesuaikan menurut kebijakan redaksi Nalar Politik):

Surat Terbuka untuk Mas Menteri, Pimpinan Fakultas, Atasan Unit Kerja, dan Teman-Teman di Unit Kerja Saya

(Tulisan ini adalah suara saya sebagai penyintas sexual harassment tentang Permendikbud No. 30 Tahun 2021)

1. Dear Mas Menteri,

Saya perempuan dan saya adalah tenaga kependidikan di salah satu fakultas ilmu sosial di kampus negeri yang membawa nama negara kita. Saya sedih sekaligus senang dengan adanya Permendikbud No. 30 Tahun 2021.

Saya sedih karena saat saya mengalami sexual harassment, Mas Menteri belum menjabat sehingga belum ada peraturan ini. Saya sedih karena peraturan ini baru ada sekarang setelah apa yang saya alami sudah berlalu bertahun-tahun, namun hingga hari ini saya masih dalam pemulihan trauma bersama Psikiater atas apa yang saya alami di unit kerja saya.

Saya sedih hingga menangis dengan tangan gemetar saat membaca salinan Permendikbud No. 30 Tahun 2021 karena pasal-pasalnya dan poin-poinnya adalah yang saya butuhkan sekali pada waktu itu. Saya sedih karena saya menangis dengan tangan gemetar saat membaca peraturan itu. Artinya, luka batin karena trauma itu masih mengguncang sekali.

Saya senang atas adanya peraturan ini, sehingga lingkungan belajar dan bekerja di kampus bisa punya payung hukum untuk melindungi civitas akademika dari kekerasan seksual. Saya senang melihat harapan yang dulu tidak bisa saya dapatkan karena di fakultas tempat saya bekerja tidak ada layanan aduan atau layanan konseling untuk tenaga kependidikan, apalagi satgas khusus untuk mencegah dan menangani isu ini.

Saya senang karena melihat harapan dengan adanya payung hukum tentang pencegahan, angka bertambahnya kasus bisa ditekan bahkan mungkin bisa hilang.

Saya senang dengan adanya peraturan ini, kampus jadi punya kewajiban untuk melakukan edukasi, sosialisasi hingga memberikan sanksi untuk pelaku. Saya senang kampus jadi punya kewajiban untuk memberikan pendampingan, perlindungan, dan pemulihan bagi korban. Semua perasaan senang saya ini tidak saya dapatkan dahulu, namun ini tetap menjadi kabar baik sehingga harapannya tidak ada lagi yang harus mengalami apa yang saya alami.

Saya mendukung sekali peraturan ini karena menjadi korban tanpa adanya regulasi yang bisa menaungi keluhan saya, membuat saya berada dalam kebingungan akan nilai dalam masyarakat, khususnya di lingkungan kampus tempat saya bekerja. Saya menerima bentuk pelecehan secara verbal terus-menerus hingga membuat saya tidak nyaman berangkat kerja.

Beberapa contoh perilakunya:

  • pelaku membuat gurauan tentang buah zakarnya sambil menunjuk area kemaluannya saat saya sedang makan bakso di pantry.
  • pelaku membuat gurauan tentang posisi bersenggama saat sedang membahas jadwal piket di 3 (tiga) lantai gedung kami.

“Mau di atas apa di bawah?”

“Lantai 1, pak,jawab saya menghindari istilah atas-bawah.

“Tuh ayang saya sukanya di bawah, perempuan mah gitu ya gak mau capek maunya di bawah, gapapa deh saya yang capek saya yang di atas,jelas pelaku kepada rekan-rekan lain.

  • pelaku membisiki telinga saya “kalo pisang saya suka gak?” saat saya menolak ditawari pisang sale oleh rekan lain di pantry karena kebetulan saya nggak doyan pisang
  • pelaku kerap berdiri di depan kaca meja kerja saya (karena meja kerja saya depannya kaca transparan) dengan tatapan sensual, gesture bibir mencium, bahkan pernah julur-julurkan
  • pelaku pernah mengirimi saya pesan teks “ayang kangen..” di malam hari, di luar jam kerja dan tidak ada hubungannya dengan urusan
  • pelaku mengkonfrontir saya ke rekan-rekan lain tentang pesan teksnya yang tidak saya balas dengan bilang “ayang saya sombong banget deh, semalem saya chat bilang kangen gak dibales, masa sama suami begitu .”

Dan masih banyak sekali perilaku dan dialog pelaku yang membuat saya tidak nyaman. Saya merasa ada di fase kebingungan dalam waktu lama karena teman di unit saya mewajarkan pelecehan yang dilakukan oleh pelaku dan menganggapnya sebagai gurauan. Saya bingung karena saya, pelaku, dan teman di unit kerja saya mempunyai nilai yang berbeda.

Bagi saya, apa yang dilakukan pelaku adalah bentuk pelecehan seksual dan melanggar batas kesopanan serta kepantasan dalam berkomunikasi formal antar-rekan kerja. Namun bagi pelaku itu adalah gurauan, dan bagi teman di unit kerja saya mungkin semua itu hal yang wajar sehingga membuat pelaku terus melakukan hal itu karena merasa perilakunya tidak salah.

2. Dear pimpinan fakultas,

Karena kondisi trauma saya dianggap berat oleh Psikiater hingga diresepkan obat, saya akhirnya memberanikan diri untuk mengirimkan aduan melalui email dengan harapan trauma ini bisa perlahan pulih tanpa terapi obat karena saya rilis ke pihak yang tepat. 19 November 2018 melalui email, saya uraikan keluhan saya hingga ke detail dialog yang kerap diucapkan dan gesture yang kerap pelaku lakukan kepada saya.

Email aduan itu saya kirimkan ke alamat email Wakil Dekan bidang SDM. Dalam email itu, saya tidak meminta pelaku untuk diberi sanksi/hukuman apalagi berharap adanya regulasi dari fakultas untuk mengatur isu ini, terlalu muluk rasanya mengharapkan adanya regulasi.

Kekerasan seksual secara fisik saja sulit dibuktikan dan diusut, apalagi kasus saya secara verbal yang lebih sulit lagi untuk dibuktikan. Ini yang membuat saya (bahkan mungkin ada korban lain) diam dan tenggelam dengan mental yang cedera tanpa ditolong.

Perasaan putus asa karena tahu bahwa isu ini tidak ada regulasinya di fakultas bahkan di tingkat universitas. Perasaan putus asa bahwa kalaupun diungkapkan hanya akan menemui jalan buntu dan identitas sebagai korban bisa jadi bola api yang menggelinding dan membuat kebakaran di grup-grup chat karyawan. Perasaan putus asa kalau identitas saya terungkap saya akan jadi bahan omongan.

Dalam email aduan itu, saya hanya mendesak supaya ada edukasi dan sosialisasi untuk seluruh tenaga kependidikan di fakultas ini tentang batasan sexual harrasment demi menyamakan nilai. Saya hanya mendesak diadakannya sosialisasi itu supaya tenaga kependidikan bisa tahu batasan-batasan perilaku yang melanggar kesopanan dan kepantasan dalam berkomunikasi di lingkungan kampus; sebuah institusi pendidikan.

Desakan itu karena saya tidak ingin ada pembahasan tentang sebutan korban dan pelaku. Saya merasa lebih darurat untuk menyamakan nilai tentang sexual harassment saja daripada apa yang saya alami menjadi perhatian.

Tidak ada tanggapan dari email aduan saya hingga pelaku pensiun pada Oktober 2019. Bahkan, hingga hari ini, saya tidak mendapat jawaban kenapa aduan saya tidak ditanggapi.

Orang dengan trauma memungkinkan sekali lupa akan peristiwanya, tapi karena mental yang sudah cedera, di kemudian hari, bahkan bertahun-tahun kemudian bisa jadi hal yang kembali merenggut kesehatan mental, mengganggu aktivitas sosial, mengubah pola perilaku hingga hilang penghargaan diri karena pernah merasa tidak ditolong, tidak dilindungi, tidak dibantu dipulihkan.

Saya bisa baik-baik saja sejak email aduan saya di 2018 itu, hingga Oktober lalu, saya relapse dan kilatan-kilatan trauma (termasuk trauma sexual harrasment ini) ditayangkan dengan jelas oleh pikiran saya. Kilatan itu muncul setelah paginya ada sesi zoom bersama Wakil Dekan bidang SDM yang memberikan sosialisasi untuk karyawan. Layar zoom dengan wajah Wakil Dekan bidang SDM terus-menerus ditayangkan oleh pikiran saya hingga muncul rasa marah yang meluap-luap tanpa saya tahu saya marah kenapa.

Karena kewalahan emosi yang tiba-tiba, symptoms cedera mental saya muncul; tangan kaki kebas, lalu menjalar kebas ke betis, paha, perut, atas bibir hingga seluruh wajah saya kebas dan kaku. Saya juga sesak  napas. Lalu adik saya melarikan saya ke UGD.

Setelah saya pulang dari UGD, baru bisa saya urai dalam pikiran bahwa meluapnya marah saat pikiran menayangkan layar zoom dengan wajah Wakil Dekan bidang SDM itu karena saya teringat akan sexual harrasment yang saya alami di unit kerja saya dan telah saya adukan namun tidak ada tanggapan.

Melalui surat terbuka ini, saya ingin tahu apakah email saya itu sudah dibaca? Kenapa email saya tidak ditanggapi dan apa alasan email aduan saya tidak mendapat tanggapan hingga hari ini?

Melalui surat terbuka ini pula, saya ingin adanya kepastian bahwa fakultas akan bertanggung jawab untuk melakukan pencegahan, penanganan, dan menyediakan layanan aduan, perlindungan, dan pendampingan untuk civitas akademika (khususnya tenaga kependidikan) di fakultas ini.

3. Dear Atasan Unit Kerja saya,

Saya mohon maaf sekali baru bisa menceritakan apa yang saya alami bertahun-tahun lalu pada 20 Oktober kemarin hingga membuat Ibu menyesal telah membiarkan pelaku pensiun dengan damai, hingga membuat Ibu ikut merasa menyesal atas fase berat yang saya alami bertahun-tahun, hingga membuat Ibu menyesal tidak bisa membantu saya saat itu, hingga membuat Ibu menyesal harus mendengar cerita ini terjadi di bawah kepemimpinan Ibu. Saya nggak tahu kenapa dulu sulit sekali rasanya untuk bercerita dan menuntut mendapatkan kenyamanan padahal saya bisa saja mendapatkan hak itu.

Saya kewalahan emosional pada saat itu hingga ketakutan kalau saya mengungkap apa yang saya alami, saya akan jadi bahan omongan satu fakultas. Pada saat saya memutuskan ingin menceritakan kepada Ibu tentang apa yang pernah saya alami, saya memang tidak sedang ingin mengubah apa pun, selain karena pelaku sudah pensiun, saya hanya ingin memberikan masukan untuk fakultas apabila ibu terpilih menjadi Dekan.

Saya ingin suara dan masukan saya bisa direalisasikan di bawah kepemimpinan Ibu selanjutnya bahwa tenaga kependidikan juga punya potensi mengalami sexual harrasment di institusi pendidikan yang formal ini. Saya ingin memberikan masukan bahwa tenaga kependidikan butuh sekali wadah untuk konseling mengingat Kesehatan Jiwa tidak ada dalam manfaat asuransi swasta yang fakultas berikan. Saya ingin bilang bahwa apa yang saya pernah alami adalah hal yang darurat dan penting untuk dibahas dan ditindaklanjuti.

Selain permohonan maaf karena saya baru bisa cerita baru-baru ini, saya juga berterima kasih sekali atas respons Ibu yang hangat, yang memvalidasi perasaan saya, yang memvalidasi bahwa bertahun-tahun saya ada di masa yang berat untuk setiap pagi berangkat kerja karena harus bertemu pelaku, yang mendukung proses terapi saya dengan Psikiater dan mendukung kesembuhan mental saya yang cedera karena trauma harus menghadapi situasi dilecehkan secara verbal oleh pelaku, yang memeluk saya dengan erat saat saya menangis di tengah cerita saya, yang mengusap kedua lengan saya saat suara saya bergetar karena harus bercerita sambil kembali merasakan perasaan traumanya. Terima kasih ya, bu..

4. Dear teman-teman di unit kerja saya,

Saya marah sekali ketika di antara kalian malah tertawa mendengar dialog pelaku yang berbau seksual dan tidak sopan. Saya marah sekali ketika salah satu dari kalian justru menyetujui permintaan pelaku untuk disamakan jadwal piketnya bersama saya. Saya marah sekali pada kalian yang hanya diam padahal melihat raut muka saya tidak pernah merasa nyaman atas perlakuan pelaku dan saya selalu diam tidak merespons/menjawab dialog pelaku.

Saya marah sekali kalian tidak membantu menyudahi perilaku pelaku yang selalu membuat gurauan ‘saya adalah istri mudanya dan selalu bergurau pulang ke rumah saya setiap tiga hari dan tiga hari lainnya di rumah istri tua’. Saya marah sekali kalian menertawakan gurauan pelaku yang tidak lucu itu. Saya marah sekali.

Namun, saya memahami, barangkali perilaku pelaku sudah diwajarkan sebagai sebuah gurauan dalam budaya kita selama bertahun-tahun bahkan sekian dekade hingga membuat bapak/ibu merasa wajar mendengar dan melihat apa yang dilakukan pelaku kepada saya. Saya berharap bapak/ibu bisa membaca Permendikbud No. 30 Tahun 2021 dan menjadi agent untuk mendukung tercapainya situasi kerja yang aman dan nyaman.

Saya berharap bapak/ibu berani untuk menyetop atau menegur apabila mendengar atau melihat rekan lain bergurau berbau seksual. Sudahi gurauan semacam itu dan jangan anggap wajar gurauan berbau seksual.

**

Tulisan saya ini tidak bermaksud ingin menjatuhkan pelaku atau pihak mana pun. Saya hanya ingin membuka suara tentang pentingnya Permendikbud No. 30 Tahun 2021 dan daruratnya isu ini untuk bersama kita tanggulangi.

Tulisan ini juga sebagai bentuk dukungan saya kepada Mas Menteri atas dibuatnya peraturan itu, bahwa ada seorang penyintas dari tenaga kependidikan yang menyambut hangat dan haru adanya peraturan itu, bahwa ada seorang penyintas yang merasa aman dan lega mengingat adik perempuan saya tahun depan akan masuk perguruan tinggi.

Meski saya tidak tahu surat terbuka ini akan sampai dan bisa dibaca oleh pihak yang saya tujukan atau tidak, saya tetap ingin mengucapkan rasa terima kasih saya untuk Mas Menteri, Pimpinan Fakultas, Atasan Unit Kerja saya, dan teman-teman di Unit Kerja saya apabila telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya ini. [tw]

    Warganet