Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi dan Kemenag RI

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi dan Kemenag RI
©New York Times

Ada jutaan warga negeri ini mendukung Anda, Pak Jokowi, mendukung Anda dengan tulus. Banyak dari mereka yang mengeluarkan uang sendiri demi memberikan dukungan ini.

Bukan cuma uang, banyak juga yang bertaruh nyawa untuk memperjuangkan agar Anda, Pak Jokowi, bisa menjadi pemimpin dan menghadirkan kedamaian untuk negeri ini. Semua pertaruhan itu, sampai pertaruhan nyawa, cuma untuk Pilpres, kami lakukan, Pak Jokowi, karena berharap tidak ada lagi sesama anak bangsa yang saling menzalimi.

Sebab, selama ini, hanya karena punya massa saja, banyak yang merasa leluasa menzalimi sesama anak bangsa. Itu yang bikin negeri ini tidak ubahnya rimba dan berjalan dengan hukum rimba. Asal kuat dan punya massa, maka Anda bisa melakukan apa saja.

Hari ini, menteri Anda di Kemenag RI, entah karena inisiatif sendiri atau restu Anda, kembali memuluskan hukum rimba itu tetap berjalan. Ya, karena organisasi yang terkenal dengan prinsip hukum rimbanya dapat restu, dan bisa melanjutkan sepak terjang mereka.

Sejujurnya, ini sangat mengecewakan, Pak Jokowi. Anda bahkan terlihat tidak berdaya di depan ormas. Bagaimana bisa berharap negeri disegani oleh kekuatan yang jauh di atas ormas: negara luar?

Jika ormas saja leluasa berkacak pinggang di depan Anda, maka akan jauh lebih mudah lagi bagi negara luar untuk mendikte Anda. Sebab, jelas, jika urusan kecil saja tidak mampu tegas, sulit berharap bisa tegas di depan urusan yang jauh lebih besar.

Di sini, sebagian kami yang mendukung Anda, Pak Jokowi, bukan berharap dapat “jalan tol” untuk kaya raya. Melainkan, agar semua anak bangsa, apa saja agama dan suku mereka, tidak tersekat mayor-minor, tapi sama-sama bisa setara sebagai sesama anak bangsa. Sebab, selama ini, Pak Jokowi, sudah terlalu banyak kezaliman atas nama mayoritas.

Sekarang, menteri Anda terlihat tanpa beban membuka keran agar kezaliman itu terus berlanjut. Apakah Anda akan diamkan saja?

Ketika kami menolak sebuah organisasi, bukan semata karena kebencian, tapi juga penolakan atas kezaliman yang merajalela cuma karena mengandalkan massa. Siapa yang terancam di sini? Banyak. Mereka yang ingin beribadah leluasa, karena ingin beribadah saja terancam. Sebab ormas-ormas barbar terbiarkan bergerak jauh lebih leluasa.

Baca juga:

Jangankan yang beda agama, seagama saja, selama ini, terancam oleh sepak terjang organisasi barbar yang baru direstui kembali oleh menteri agama pilihan Anda, Pak Jokowi. Sebab, bukan rahasia lagi, organisasi ini siap meneror dan memberangus siapa saja yang dianggap musuh mereka. Sementara polisi, sama sekali tidak berdaya di depan mereka.

Kami ini tidak bangga bertemu presiden, foto bersama, dan bertatap muka. Selama ini, kami cuma ingin keadilan buat mereka yang selama ini terzalimi; minoritas dan sejenisnya. Kami pasang muka badak saat dituduh sebagai penjilat penguasa, karena mendukung Anda, Pak Jokowi.

Sebab, bagi kami, keadilan itu semestinya bukan monopoli mayoritas saja. Kami ingin keadilan lebih merata, dan mereka yang disebut minoritas pun bisa mendapatkan hak-haknya, yang selama ini terampas atas nama mayoritas.

Penolakan kami atas organisasi barbar itu bukan semata karena kebencian. Kami ingin tidak ada lagi ancaman atas harmoni yang ingin dibangun, agar semua setara sebagai anak bangsa.

Saat menteri Anda cengengesan membuka jalan untuk organisasi barbar itu, ada jutaan rakyat negeri ini kehilangan harapan; ingin melihat negeri ini aman dari saling ancam cuma karena perbedaan.

Sementara, ketika pendukung Anda mati-matian membela Anda, Pak Jokowi, mereka berangkat dari mimpi besar agar negeri ini tidak dikuasai oleh mental barbar. Agar negeri ini bisa berjalan dengan terhormat, dan tidak ada lagi rakyat yang terampas kehormatannya.

Mereka yang mendukung Anda, Pak Jokowi, ingin negeri ini terlihat terhormat. Hukum tidak tebang pilih, dan hak-hak rakyat bisa didapatkan semestinya.

Sekarang, Anda dan menteri Anda sukses dibuat menyerah oleh sebuah ormas. Bisa jadi, banyak dari kami, yang selama ini bertaruh nyawa demi Anda, Pak Jokowi, juga akan menyerah. Pasrah, terserah negeri ini mau bertahan atau punah. Toh, jalan untuk gerakan barbar pun sudah Anda buka lebar.

Baca juga:

Oya, Pak Jokowi, kami selama ini mendukung Anda sama sekali tidak berharap dianak-emaskan. Kami cuma berharap agar mereka yang selama ini kurang diperhatikan, sampai dengan minoritas yang tertindas dan terdiskriminasi, bisa dapat perhatian lebih baik.

Kembali hak-hak mereka yang selama ini terampas oleh kekuatan kekuasaan hingga kekuatan ormas, itulah yang kami inginkan. Jika Anda akhirnya tetap ingin memanjakan ormas barbar, kami memilih tertawa saja jika kelak negeri ini bubar. Tidak ada lagi yang perlu diratapi, bukan?

Untuk sekarang, Pak Jokowi, sikap pemerintah di bawah Anda, terutama Menag dan Menkopolhukam, terasa sebagai sebuah pengkhianatan atas cita-cita besar sebagai sebuah bangsa. Sama sekali tidak terlihat bahwa pemerintahan Anda sekarang lebih baik daripada ormas itu sendiri.

Mungkin sebagian pendukung Anda, Pak Jokowi, akan bungkam dengan semua yang terjadi, entah karena limpahan uang atau jabatan. Tapi, masih lebih banyak yang masih mau bersuara dan mengkritik Anda ketika menilai ada banyak rakyat yang terkhianati.

Pak Jokowi, satu sisi, kami memaklumi bahwa Anda manusia, bisa lupa dan salah. Tapi, saya pastikan, kami berat memaklumi jika Anda memilih membenarkan yang salah. Merestui organisasi yang tidak kenal henti menebar benci dan permusuhan, menjadi aktor-aktor yang melebarkan diskriminasi, tidak bisa dibilang sebagai keputusan yang benar, Presiden Jokowi.

Saya menyuarakan ini sekaligus sebagai tanggung jawab saya karena ada di barisan yang pernah bertarung meyakinkan banyak pemilih untuk memilih Anda, Pak Jokowi. Terserah Anda menggubrisnya atau tidak.

    Zulfikar Akbar

    Founder Tularin | Kompasianer of the Year 2017 | Wings Journalist Award 2018
    Zulfikar Akbar