Surat untuk Wartawan: Kutuklah Korupsi secara Layak

Surat untuk Wartawan: Kutuklah Korupsi secara Layak
REMOTIVI/Darth Vader (CC0)

Ulasan Pers “Kepada Anda wartawan, kami tulis surat ini, dengan satu ajakan serius: perang melawan korupsi.”

Demikian pembuka Surat kepada Wartawan yang dilayangkan Meja Redaksi Remotivi, Selasa (21/11/2017). Di sana ditegaskan bahwa dalam kasus Setya Novanto, sudah saatnya wartawan bersikap. Apa pun posisi, entah sebagai reporter, fotografer, videografer, editor, redaktur, hingga pemimpin redaksi, semua harus menjalani panggilan utama dan mendasar, yakni melayani warga.

“Surat ini bermula dari rasa marah kami terhadap kasus korupsi dengan tersangka Setya Novanto. Kasus ini bukan saja memperlihatkan betapa wibawa hukum suatu negara bisa dipermainkan oleh satu orang pejabat publik. Lebih jauh dari itu, kasus ini menunjukkan permainan akal bulus yang melecehkan akal sehat orang banyak justru difasilitasi oleh media. Di sinilah pekerjaan Anda, wartawan, menjadi soal.”

Seperti diketahui, pemberitaan seputar kasus Ketua DPR RI dalam seminggu terakhir ini memang memperlihatkan bagaimana media, terutama media daring, melulu menggunakan politainment yang mengemas berita politik bak tontonan hiburan.

“Simak saja berita yang mengangkat hal-hal remeh seperti ‘benjol’, ‘tiang listrik’, komentor pesohor yang tidak relevan dan tidak kompeten, hingga jawaban-jawaban ‘ajaib’ pengacara atau kolega Setya Novanto.”

Belum lagi soal pemberitaan tewasnya anak kecil yang tenggelam bernama Setya Novanto di Okezone.com. Pada akhirnya, menurut Meja Redaksi, media justru mempromosikan sikap apolitis dengan menempatkan korupsi sebagai drama yang terpisah dari realitas warga.

“Padahal, warga perlu memahami korupsi sebagai kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan yang tidak main-main.”

Dalam politainment, dijelaskan kembali, motif dari berita semacam itu tiada lain sebagai upaya untuk mendapatkan klik lebih banyak dan persebaran yang tinggi. Perkara ketidakadilan, tambahnya, ditempatkan sebagai hiburan belaka di waktu senggang atau drama fiktif yang menggugah rasa penasaran.

“Dampaknya, publik tidak bisa mengutuk korupsi secara layak. Cara ini hanya produktif menghasilkan tawa dan banyolan di media sosial, ketimbang terbangunnya solidaritas dan pengorganisasian warga dalam menuntut penegakan hukum yang serius.

Meski demikian, diakui bahwa tidak semua media bertindak begitu. Misalnya, ada Tirto.id yang memberitakan soal wartawan Metro TV menyopiri mobil Setya Novanto saat kecelakan terjadi; atau berita Tempo.co tentang rekam jejak hakim Cepi yang memenangkan tuntutan pra peradilan Setya Novanto.

“Sayangnya, kedua berita tersebut adalah pengecualian. Bahkan ketika tidak berbau politainment, mayoritas berita yang dihadirkan media hanyalah remah episodik. Berita episodik hanyalah mengulas penggalan-penggalan peristiwa yang terputus, yang muncul dalam wujud update singkat dan deskriptif tentang perkembangan kasus Setya.”

Padahal, lanjut Meja Redaksi Remotivi, kasus Setya Novanto ini butuh lebih banyak pemberitaan tematik, yang menyertakan konteks dan tidak memperlakukan berbagai peristiwa sebagai rangkaian yang terputus.

“Pemberitaan tematik menyasar persoalan struktural di seputar peristiwa. Kajian tematik menelaah dampak dan sebab-akibat, serta berpotensi menghadirkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam bagi pembacanya. Sayangnya, artikel jenis ini masih sangat minim.”

Karena, pihaknya pun mengimbau untuk para wartawan bisa bersama-sama menyadari peran sentral media massa dalam kehidupan demokrasi modern. Meski pihaknya sendiri tidak menolak segala bentuk kreativitas dalam menyikapi politik yang lebih humoris. Tetapi ekspresi tersebut mesti tetap harus ditempatkan sebagai ekspresi politik yang kritis.

Di samping itu, media massa juga tidak seharusnya hanya mengekor tren populer di media sosial demi mendulang klik.

“Kami berharap media dapat menjadi suara rasional; sebuah tanggul terakhir agar warga, sekali lagi, tidak lupa untuk mengutuk korupsi dengan layak.”

Pertanyaannya: apakah media hari ini berhasil membantu warga untuk memahami korupsi sebagai kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan? Apakah media berhasil mengemansipasi posisi warga untuk bisa berdaya dan berpartisipasi secara kritis dalam isu korupsi?

Apakah audiens diposisikan sebagai penonton opera sabun, alih-alih memosisikan mereka sebagai warga negara? Apakah media telah mampu menjelaskan korupsi sebagai kejahatan yang berkontribusi pada ketimpangan distribusi kekuasaan, yang merupakan sumber dari ketimpangan kekayaan dan kesempatan?

“Pada titik inilah kami ingin bicara kepada Anda, individu wartawan, untuk mengambil sikap. Kami paham jika ada kalanya Anda tak berkutik menghadapi tekanan mencari untung, manajemen perusahaan yang lancung, atau perintah pemilik media yang megalomaniak. Tapi, setidaknya dalam kasus korupsi, bisakah kita satu barisan? Dalam kasus korupsi, bisakah Anda menjadi wartawan yang berpihak kepada warga?”

Ya, sudah saatnya para wartawan bersatu dan berpihak. Pertama-tama melalui bahasa, para wartawan diharapkan menggunakan bahasa bukan saja sebagai medium penyampai pesan dan gagasan, melainkan juga sebagai cara memahami dan mengonstruksi realitas.

___________________

Artikel Terkait: