Suriah dan Perjumpaan Enam Negara dalam Situasi Perang

Suriah dan Perjumpaan Enam Negara dalam Situasi Perang
Konflik Suriah (Getty Images)

Tiga koalisi negara yang melibatkan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis telah melakukan serangkaian serangan militer ke Suriah beberapa waktu yang lalu.

Di kubu Suriah, ada dua negara besar yang mendekenginya, Rusia dan Iran. Sulit menetapkan garis batas tentang akan sampai sejauh mana perang itu terjadi. Sebab belum bisa diprediksi secara pasti kekuatan mana yang akan menerima kekalahan.

Keunikan perang di negara ini dapat dilihat melalui tidak adanya keterlibatan negara-negara Arab dalam perang sengit tersebut. Padahal Suriah adalah bagian dari negara Arab yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan peradaban Islam di era dinasti Umayyah.

Negara-negara Arab seakan memiliki ritme tersendiri dalam menyikapi situasi perang di wilayah mereka. Terbukti bahwa dari sekian banyak negara yang tergabung dalam Liga Arab yang berjumlah 22 negara, pun terpecah menjadi tiga kubu yang di antara dua kubu tersebut saling berseberangan.

Dalam melihat situasi tidak kondusif di saat ini, kubu pertama menentang keras posisi Bashar Assad, sementara kubu kedua mendukung. Dan yang terakhir lebih memilih netral dan memanggap bahwa konflik di Suriah tak lain daripada persoalan internal dalam negeri mereka. Maka kubu netral merasa tidak punya hak untuk melakukan intevensi politik.

Kita harus menyadari bahwa aksi-aksi terorisme dan kekerasan yang terjadi di sana tidak murni menyasar ke negara-negara Arab. Di sisi lain, kita melihat ada kepentingan terselubung dari negara-negara Arab.

Meski begitu, posisi Suriah semakin menjadi runcing akibat keberadaan ISIS yang tak terkendali. Sebenarnya melalui ISIS-lah awal mula kekuatan asing mulai masuk ke wilayah Suriah. Ia melibatkan tak kurang dari 40 anggota negara yang tentunya dipimpin oleh Amerika Serikat.

Cikal bakal intervensi negara-negara asing ke Suriah sebenarnya untuk menyelamatkan negara itu dari keganasan pasukan ISIS dan berniat memeranginya. Namun, pada akhirnya konflik itu menjadi berkembang. Banyak negara-negara asing justru membawa agenda dan kepentingannya sendiri-sendiri.

Kita bisa melihat posisi Rusia, yang berkepentingan untuk memulai pengaruhnya kembali di wilayah Timur Tengah. Pengaruh yang dalam beberapa tahun lalu lebih didominasi oleh Amerika Serikat dan banyak negara-negara Barat lainnya. Hal ini terjadi semenjak Uni Soviet mengalami pembubaran internal dan mengakhiri kekuasaannya di belahan timur.

Lihat juga: Negara Islam, Fondasi yang Rapuh

Posisi Presiden Suriah Bashar al-Assad pun sangat memilukan. Boleh dikata, ia sedang berada pada posisi ujung tanduk lantaran terdesak situasi. Assad menyambut gembira uluran tangan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Tidak hanya itu, Assad bahkan rela menjadi boneka mainan Putin. Itu tak lain bertujuan untuk mempertahankan kekuasaannya.

Selain Rusia, rezim Bashar al-Assad juga menyambut baik kehadiran Iran di Suriah. Iran nampaknya memiliki kepentingan untuk mempertahankan posisi Assad, sebagaimana Putin.

Tujuan Iran mendekati Suriah memang memiliki kepentingan ganda, antara lain untuk membuka jalur Syiah Iran-Irak-Suriah-Libanon. Kita tahu bahwa Presiden Assad bermazhab Syiah meski mayoritas penduduk Suriah adalah Sunni original.

Hal ini berbeda dengan posisi Turki yang selama ini lebih memilih berada di jalur oposisi. Ia ingin mendongkel kekuasaan Assad dan juga kepentingan-kepentingan lain di Suriah. Presiden Turki Tayyip Erdogan telah berkali-kali menyangka bahwa kelompok Kurdi ingin mendirikan negara sendiri dan terpisah dari Turki, di mana mereka berlindung di Suriah melalui kantor-kantor cabangnya.

Berharap tidak ingin mengambil banyak risiko, Presiden Turki dan dua negara koalisi Suriah, Rusia dan Iran, menyelenggarakan Konferensi Besar (KTT) di Angkara. Tujuannya adalah untuk saling mencari keuntungan melalui peran masing-masing dan tidak saling menganggu posisi mereka di Suriah.

Sebagaimana dikatakan di awal, peran negara-negara Arab di Suriah relatif tidak ada. Meski sebagian besar dari mereka mendukung keberadaan oposisi. Tentunya menginginkan adanya pergantian kekuasaan di Suriah dan mengatakan Assad tidak becus dalam mengurus negara.

Dukungan negara-negara Arab, jika pun ada, hanya terbatas pada pendanaan, pasokan senjata, dan dengan menunjukkan sikap politik mereka. Hal ini terjadi antara lain karena mereka lebih disibukkan dengan urusan internal masing-masing negaranya sendiri.

Lihat juga: Film Bokep dalam Proxy War

Amerika dan negara-negara Barat yang selama ini dianggap sebagai pelindung utama negara Arab, khususnya negara Arab yang kaya raya, merasa terancam dengan pengaruh Iran yang mulai mendapat tempat yang cukup besar di Timur Tengah. AS dan negara asing lainnya sejak awal sangat ekstrem melawan ISIS, terutama beberapa negara Barat seperti Prancis dan Inggris yang sering menjadi sasaran serangan teror ISIS.

Hari ini, ISIS sudah berada di ambang kehancuran dan nyaris punah. Itu artinya, pesan Amerika menjadi semakin berkurang. Trump, misalnya, sempat berkomitmen untuk menarik semua pasukannya di Suriah. Tetapi, banyak negara-negara Arab menjadi khawatir disebabkan posisi Rusia dan Iran yang mulai menonjol.

Namun, tidak berakhir di situ, ternyata AS dan sekutu masih punya alasan kuat untuk tetap ikut andil dan berperan di Suriah lantaran Bashar al-Assad melakukan serangan yang begitu mematikan di daerah Gouta Timur dengan menggunakan senjata Kimia. Apalagi serangan itu merupakan bagian dari serangkaian serangan Bashar al-Assad yang menewaskan tidak kurang dari seribu warga sipil.

Pada akhirnya, tiga negara koalisi Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris harus rela berhadapan secara langsung dengan tiga negara oposisi yang meliputi Rusia, Iran, dan Suriah itu sendiri. Belum bisa diprediksi sampai di mana ujian kekuatan ini akan berakhir. Yang jelas, ini masih berlangsung sampai waktu tertentu. Kita bahkan tidak tahu siapa pemenangnya. Tetapi yang jelas Suriah-lah yang menjadi korban.

Tampak jelas di depan mata, negara ini menjadi wilayah di mana perang saudara berlangsung, menjadi dampak kebengisan ISIS dan kelompok teroris. Belum lagi korban dari senjata kimia Assad yang mematikan dan juga korban dari berbagai senjata berteknologi tinggi yang dilancarkan oleh negara-negara besar, baik Timur dan Barat.

Banyak negara Arab seakan harus mengalami takdir yang begitu berat, penderitaan yang berlarut-larut. Suriah, yang sejauh ini menjadi pusat konflik, separuh dari penduduknya telah kehilangan tempat tinggal, hidup di pengungsian yang serba terbatas dan sederhana.

Tuhan, ujian apalagi yang Engkau bebankan kepada mereka?

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Rohmatul Izad (see all)