Syiar Cinta Mendialogkan Humanisme Religius dalam Bingkai Toleransi dan Cinta

“Cinta akan membuat kita terlepas dari belenggu-belenggu yang membatasi manusia, khususnya dalam hal keyakinan,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya megajarkan agama kepada anak-anak sejak usia dini. Sehingga anak-anak akan bisa mengapresiasi keberagaman yang ada.

“Dengan ini juga akan didapati hal yang luar biasa, untuk selalu saling mengingatkan, yang kemudian menjadi pengingat diri bukan sekadar sebuah toleransi semata,” tambahnya.

Berkenaan dengan cinta, Ws. Sugiandi Surya Atmaja, S.Kom, M.Ag, selaku wakil dari tokoh Konguchu juga menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat mulia, di mana Tuhan membersihkan diri manusia dengan konsep benih-benih kebajikan Tian yaitu cinta kasih.

Selain itu, manusia juga diberi nafsu berupa rasa senang, marah, sedih, gembira dan yang lainnya. Namun, manusia jutru lebih suka mengumbar nafsu sehingga merusak alam semesta ini. Maka dari itu, penting bagi manusia utuk menahan dan mengontrol hawa nafsunya.

“Yin dan Yang dalam konsep Konghucu adalah pengambilan jalan tengah, bukan condong ke kanan atau ke kiri, sebagaimana dalam Islam juga ada istilah washatiyyah. Etika ini adalah menjadi pondasi dalam ajaran Konghucu itu sendiri, yaitu keseimbangan Yin dan Yang, bahwa Kongkucu tidak berat sebelah, tetapi di tengah,” ujarnya.

“Kesimpulannya, sila kedua sejalan dengan ajaran Konghucu, dalam keseimbangan dan juga cinta kasih, serta mengajarkan untuk memanusiakan manusia, bukan berati manusia tidak sempurna tapi harus mengapai untuk menjadi yang lebih sempurna, sehingga akan terbentuk hubungan yang harmonis antara Tuhan, manusia dan alam, sehingga terciptalah keseimbangan,” tutupnya.

RM. Dr. Antonius Benny Susetyo atau yang akrab disapa Romo Benny juga menyampaikan hal senada, di mana Hindu dan Budha bisa hidup berdampingan pada saat ini, Candi Seribu menjadi saksi bahwa kehidupan Hindu dan Budha bisa hidup berdampingan dari zaman dahulu.

Baca juga:

Dengan ini, akan terlihat bahwa Indonesia telah belajar tentang nilai-nilai kebudayan, karena agama dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kebersamaan butuh sistem titik temu yaitu musyawarah mufakat. Sehingga hal ini akan menciptakan keadilan dan kesejahteraan.

“Namun, hal yang perlu menjadi perhatian adalah di era digital saat ini, karena bahaya belajar agama melalui digital, mereka belajar teks di luar konteks. Sedangkan mempelajari agama butuh waktu dan usaha yang mendalam. Hal ini yang membuat munculnya orang-orang yang tidak menerima terhadap perbedaan. Ketika Pancasila diamalkan, maka pancasila akan menjadi roh hidup. Maka pancasila adalah sebuah agama yag melekat dalam diri manusia, Pancasila sebagai penyatu,” tegas Romo.

Lebih lanjut, dalam Agama Budha, menurutnya, cinta adalah segala-galanya.

“Cinta sebagaimana cinta tidak ternilai, karena dalam cinta akan menyelami rasa yang menjadi luar biasa tanpa adanya beban, pikiran, dan lainnya,” tutur Bhikku Dhammakara Mahathere selaku perwakilan Tokoh Budha.

“Dalam Budhis, cinta adalah perwujudan dari Tuhan. Tujuan utama dalam ajaran Budhis adalah untuk menciptakan cinta kasih, kebahagiaan dan kesejahteraan. Cinta dunia damai, sejahtera dan bahagia. Pancasila adalah tuntunan untuk kehidupan manusia,” tambahnya.

Ir. M. Rusli Malik sebagai perwakilan dari Islam menyatakan bahwa Pancasila adalah cinta. Makrifah cinta dari sila kedua menuju kepada persatuan dalam sila ketiga dari pancasila. Persatuan yang tidak dibuat-buat, namun persatuan yang didasarkan pada cinta. Dalam Hadist Bukhari no. 12 disebutkan “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”.

Jadi keimanan tidak akan ada sampai seseorang mengosongkan dari aku-aku yang ada dalam dirinya. Sehingga untuk mengukur kemanusiaan adalah melihat diri sendiri, apa yang tidak disukai diri kita maka tidak akan disukai juga oleh orang lain” jelasnya.

“Dalam Q.S al-Hujurat:13, disebutkan bahwa strata sosial atau suku-suku, ekonomi, politik dan sebagainya merupakan perbedaan yang tujuannya adalah untuk saling mengenal. Maka objek tujuan diciptakannya manusia dengan segala perbedaan yang ada adalah agar saling mengenal dalam relasi atau interaksi yang positif. Yaitu agar saling memanusiakan manusia tanpa melihat agama dan kepercayaan,” tambahnya.

Baca juga:

Guru Gembul yang juga merupakan tokoh Islam sekaligus pemilik akun YouTube Guru Gembul menyampaikan apresiasinya kepada acara webinar dialog pluralisme agama ini. pemateri terakhir dalam diskusi webinar Syiar Cinta ini menyampaikan bahwa Islam tidak mendiskriminasi ajaran agama lain, justru Islam membuka ruang kepada kepada agama lain, terkhusus dalam dunia sosial. Salah satu contohnya adalah Muhairiq, beliau adalah sahabat Nabi saw, ia merupakan kepala suku Yahudi yang bersedia membela Rasulullah saw.

Beliau juga bahkan memiliki hubungan erat dengan Nabi, hal ini terbukti dengan pembelaannya terhadap Nabi di perang Uhud serta wasiat untuk memberikan hartanya kepada nabi pasca wafatnya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan bisa dilakukan dengan agama yang berbeda sekalipun.

“Namun, permasalahan di dunia modern sekarang ini, orang cenderung tidak menyukai ketika berbeda agama, bahkan membencinya. Kebencian ini makin membesar karena era digital sekarang yang mendukung hal itu, di tambah bahwa umat Islam sendiri yang menjadikan Islam agama rahmatan lil alamin menjadi ajaran yang penuh kebencian terhadap yang lainnya.”

“Kelemahan ajaran agama Indonesia terdapat di wilayah kota, karena mereka telah menafsirkan agama sesuai dengan kepentingan masing-masing mereka, bahkan dimasuki oleh partai-partai politik yang dapat menghancurkan ajaran dasar Islam itu sendiri yaitu cinta, karena di wilayah desa justru masih sangat menjaga nilai toleransi dan perbedaan di antara mereka.”

“Jadi, sejatinya Islam itu agama cinta dan welas asih yang sangat menghargai perbedaan.”

Setelah pemaparan materi dari masing-masing tokoh agama, acara dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab dari para peserta webinar. Diharapkan diskusi-diskusi seperti ini lebih banyak dilakukan di ruang-ruang publik, sehingga maysarakat bisa saling mengenal dan menghargai perbedaan. Mengingat, Indonesia adalah Negara yang Majemuk yang terdiri dari banyak suku dan agama yang berbeda-beda.

*Salman Alfarizi, KHATAM