Tahun Baru dan Tingginya Tingkat Konsumerisme di DIY

Tahun Baru dan Tingginya Tingkat Konsumerisme di DIY
©Timeshighereducation

Hampir di tiap tahunnya, Yogyakarta menjadi salah satu destinasi wisata. Tingkat konsumerisme pun tak tanggung-tanggung.

Menjadi momen penting dalam sejarah ketika berhadapan dengan malam pergantian tahun. Setiap sudutnya, wisatawan dari berbagai daerah memenuhi Jogja, mulai dari wisata yang ke pantai, ekowisata alam, dan tempat-tempat yanģ menyuguhi keindahan tersendiri.

Sarana wisata ini kian meningkat di tiap tahunnya. Jogja selalu menawarkan sajian wisata yang berbeda dengan kota-kota lain. Dengan terkenalnya Jogja sebagai mini Indonesia dan Jogja City of Toleran, hal ini menjadi khas tersendiri bagi pengunjungnya. Jogja sebagai tempat wisata yang istimewa.

Tentu dari sekian orang yang berlibur di Jogja membutuhkan yang namanya oleh-oleh untuk keluarga dan sanak famili di rumah atau hanya untuk kebutuhan pribadi. Kebutuhan inilah yang kemudian penulis maksudkan sebagai tingkat konsumerisme yang tinggi.

Alasan yang lain adalah sebagai disiplin sebuah kebutuhan ekonomi yang sifatnya mendadak. Karena tersadari atau tidak, setiap permintaan tentang barang konsumsi yang para wisatawan butuhkan tersebut sangat fluktuatif, yaitu menurun dan kadang meningkat seperti momen liburan saat ini.

Wisata yang menjadi kunjungan keluarga dan sanak famili menawarkan tingkat konsumerisme yang tinggi. Misalnya dalam perjalanan wisatawan, ada suguhan transportasi menuju lokasi lengkap dengan penginapan dan tentu sajian makanan.

Hal ini tidak bisa kita pisahkan dari kesadaran sebuah kebutuhan. Fenomena ini adalah pola konsumsi masyarakat modern, tingkat konsumerisme.

Pola konsumsi baru adalah bersifat postmodern dalam pengertiannya yang lebih penting, yakni pola-pola itu sangat rasional dan ter-Mcdonalisasi-kan. Kenapa seperti itu?

Efisiensi. Tempat wisata, misalnya, dapat kita gambarkan sebagai mesin penjualan yang sangat efisien. Ini pada gilirannya menjadikan “mesin pembelian” yang sangat efisien dari perspektif konsumen. Konsumsi jelas menjadi lebih efisien untuk konsumen karena tersedia tempat-tempat untuk berfoto.

Baca juga:

Dalam satu tempat yang juga punya tempat parkir berdekatan yang luas. Efisiensi yang sama juga tersedia dari pengelola wisata bagi konsumen yang mencari jenis produk yang ada dalam wisata tersebut. Misalnya, di pantai menyediakan ikan segar dan berbagai jenis makanan laut.

Kalkulabilitas (calculability). Tempat wisata-wisata yang bersaing banyak orang serta fasilitas hiburan. Berdiskon, konsumen percaya bahwa mereka dapat mengandalkan tiga hal, yakni dapat dikuantifikasi, harga rendah, jumlah barang yang banyak, dan keanekaragaman jenis barang. Harga tanda masuk harian atau mingguan ke taman hiburan mengilustrasikan kalkulabilitas dalam alat-alat konsumsi.

Jenis wisata dalam pengawasan pengelola seorang wisatawan tidak boleh keluar dari aturan-aturan yang sudah pengelola tetapkan. Misalnya, rombongan kunjungan ke wisata air terjun dalam melakukan rafting harus memakai pelampung dan helm yang sudah tersedia.

Dengan gejala-gejala seperti itu, para wisatawan terangsang untuk mengikuti perkembangan zaman dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan yang mereka tawarkan. Sehingga orang tidak hanya terpaku pada kebutuhan fisik dan spritual saja, melainkan juga kebutuhan-kebutuhan yang lain.

Menurut Weber, alasan orang menginginkan barang konsumsi bersumber dari semangat keagamaan (etika Protestan) yang kita kenal dengan “panggilan”. Adanya perubahan akses secara lebih tajam dalam perolehan harta benda duniawi.

Calvinisme tidak melihat adanya hambatan-hambatan bagi tingkat efektivitas kependetaan yang berhubungan dengan kekayaan duniawi, tetapi lebih merupakan suatu peringatan yang secara menyeluruh karena martabat mereka.

Oleh karena itu, Calvin mengizinkan para pendeta untuk menggunakan sarana-sarana yang mereka miliki untuk mendapatkan keuntungan. Keberatan moral yang nyata adalah melemahnya tingkat keamanan harta benda, cara menikmati kekayaan dengan sikap-sikap bodoh, dan godaan dalam mencari kehidupan yang benar.

Baca juga:

Menurut Marx, alasan kenapa menginginkan barang konsumsi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia, baik bagi keperluan perut maupun kebutuhan yang berasal dari khayalan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, maka manusia harus bekerja.

Pekerjaan merupakan identitas dari manusia itu sendiri. Keberadaan manusia ditentukan oleh pekerjaannya. Eksistensi manusia hilang manakala ia tidak bekerja. Dengan timbunan besar barang/komoditas, inilah yang kemudian melahirkan kemakmuran dalam masyarakat kapitalis.

Ainur Rohman