Tahun Baru: Harus Berubah?

Tahun Baru: Harus Berubah?
©iStock

Barangsiapa suka mencari yang baru, dia tidak boleh lupa yang baru boleh jadi hanya tampilannya, tidak dengan substansinya.

Mengapa perayaan tahun baru itu penting bagi kita? Bukankah tiap tahun kita mensyukuri dan merayakannya? Kita perlu memberikan alasan rasional tentang itu.

Hari-hari ini kita semua tidak lagi sabar menyambut tahun baru dan melepaskan tahun lama. Selama setahun ini kita didaruratkan oleh pelbagai bencana: Covid-19, pembunuhan (homocide), bunuh diri (suicide), kecelakaan lalu lintas, tenggelam, stunting, banjir, gempa, letusan gunung berapi, penyerangan/pembasmian terhadap warga di sejumlah tempat, perkosaan, korupsi, nepotisme, kolusi, human trafficking, terorisme, dan lain-lain.

Kita sudah muak menghadapi bencana-bencana seperti itu.

Era Biasa-Biasa Saja

Nyaris semua bencana tersebut sengaja diciptakan dan dibuat oleh oknum-oknum tertentu. Mereka menciptakan ketidakpastian, kedaruratan, dan risiko dengan periode waktu tertentu sampai masyarakat luas menganggap tragedi-tragedi dan bencana-bencana sebagai hal yang lumrah terjadi.

Peristiwa-peristiwa yang mengancam dan mematikan manusia dibuat oleh oknum-oknum tertentu agar menjadi sesuatu yang lazim. Seolah-olah kematian akibat pembunuhan, aborsi, terorisme, perdagangan jual-beli manusia, perkosaan, dan lain-lain biasa-biasa saja.

Seakan korupsi miliaran rupiah uang negara biasa-biasa saja. Seolah-olah tidak lagi ada aspek misteri (rohaniah, metafisis, transendental, kudus, mulia) dari manusia dan seluruh kehidupannya. Kematian seorang ibu dan anak kecil berusia satu tahun sama seperti kematian nyamuk di telapak tangan predator.

Atas nama agama (dan tuhan), pemeluk agama mengusir, melarang, mengebom rumah ibadat, dan membasmi pemeluk agama lain ketika menjalankan ibadahnya. Atas nama politik,  segalanya diperjualbelikan, ditawar-tawar, dinegosiasi, dan dilazimkan. Kita masuk dalam era biasa-biasa saja.

Bukankah kita sudah muak dengan peristiwa-peristiwa tragis itu? Atau kita merasa aman-aman saja dengan keadaan yang ada? Bagi yang merasa tidak baik-baik saja, mereka sangat merindukan kedatangan tahun baru. Barangkali pada tahun baru 2022, segala, semua, dan selalu bencana kemanusiaan tersebut di atas tidak terulang lagi.

Baca juga:

Daya Tarik Kehidupan Baru

Tiap orang memiliki kerinduan akan yang baru: pakaian, perhiasan, rumah, pekerjaan, dan lain-lain, termasuk kehidupan baru. Kehidupan baru memiliki daya tarik tersendiri, sehingga tidak sedikit orang berlomba-lomba melepaskan kehidupan lama.

Orang yang memiliki kehidupan baik-baik saja pada masa lalu dan kini tidak terlalu terpesona dengan wacana kehidupan baru. Sebaliknya, orang yang memiliki kehidupan masa lalu yang penuh luka, borok, duka, kepahitan, sengsara, dan kekejian buru-buru menjemput dan menyongsong kehidupan baru.

Mereka lupa tidak sedikit orang di luar sana suka mengaduk-aduk sentimen-sentimen kolektif mereka, sehingga kematian pun akan mereka anggap biasa-biasa saja.

Bencana-bencana itu sebagian terjadi karena mereka meremehkan kemanusiaan. Orang-orang tidak kedap terhadap kemanusiaan universal, tetapi mereka bahkan membasminya. Padahal kemanusiaan merupakan nilai tertinggi dan sangat penting dalam kehidupan manusia.

Peduli dengan kemanusiaan bukan berarti manusia dapat menolak semua kekeliruan, penderitaan, kemalangan, kecelakaan dan kematian, melainkan justru sebaliknya, manusia terbuka terhadap kemungkinan bahwa manusia dapat menderita, malang, celaka, keliru, dan mati.

Bencana-bencana kemanusiaan dapat kita kurangi dan atasi dengan membuka diri dan berdialog dengan berbagai perbedaan, kompetisi, dan cita-cita variatif dari setiap orang. Membuka diri untuk saling percaya, menghormati, dan menghargai adalah jalan menuju pembebasan dari pelbagai bencana kemanusiaan.

Daya tarik kehidupan baru setidaknya membawa kita bukan hanya pada perayaan seremonial tahun baru, melainkan memulai kehidupan baru itu sendiri. Kehidupan lama tidak serta-merta kita abaikan atau remehkan. Kehidupan masa kini saat ini pun tidak langsung terkucilkan atau telantar.

Kita membawa kehidupan lama dalam diri kita sambil mempertimbangkan lagi, merefleksikan, memutuskan, dan menyatakannya dalam kehidupan sehari-hari agar sesuai dan sadar konteks dengan kehidupan baru saat ini di sini dan kehidupan nanti.

Baca juga:

Oknum-oknum yang anti nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas telah membuat kematian manusia lebih penting daripada manusia itu sendiri. Hal ini tampak dalam kasus jual-beli manusia dan pembunuh untuk mengambil organ dalam tubuh manusia.

Bencana-bencana kemanusiaan mesti menjadi peristiwa masa lalu—tidak boleh terulang lagi dan menjadi bahan pertimbangan masa kini di sini dan masa depan agar tidak terjadi lagi. Bagi umat kristiani, kita perlu menghidupkan kembali spirit IMAN, HARAPAN, dan KASIH yang ketiganya saling mengandaikan dan tidak saling mengeliminasi.

Spirit IMAN, HARAPAN, dan KASIH itulah yang membuat kita akan merasa tidak baik-baik saja atas pelbagai bencana kemanusiaan dan tragedi yang menimpa kehidupan kita. Ketika merasa tidak baik-baik saja dengan bencana-bencana dan tragedi kemanusiaan, kita sudah berubah: menjadi manusia yang sanggup menemukan diri dan meluhurkan kemanusiaan.

Dan dengan kelahiran Yesus Kristus, kita makin sanggup untuk menyadari bahwa hidup kita ini bukan hanya sebagai pemberian cuma-cuma dari Allah, melainkan juga adalah tugas. Tugas kita ialah menampakkan IMAM, HARAPAN, dan KASIH kepada siapa saja dan dari latar belakang apa saja.

Melki Deni
Latest posts by Melki Deni (see all)