Tahun Baru: Imperium Global Amerika dan Batas-Batasnya

Tahun Baru: Imperium Global Amerika dan Batas-Batasnya
©Quizlet

Tulisan ini coba menganalisis sejauh mana peran imperium global Amerika Serikat dan batas-batasnya. Sebuah pembahasan yang sudah banyak orang buat dan publikasikan di berbagai tempat. Khususnya tentang transformasi geopolitik terkini dari unipolar AS selama dua dekade (2001-2019) ke multipolar (yang belum terstruktur bersama Tiongkok, Rusia, dan Uni Eropa); juga transisi kapitalisme industrial menuju finansial dan kontestasi dalam biopolitik neoliberal.

(Edisi berbahasa Indonesia dapat Anda baca di buku Pandemi, Konflik, Transformasi terbitan Gadjah Mada University Press, 2021 yang dieditori oleh Luqma-nul Hakim, Frans A. Djalong, dan Mohtar Mas’oed).

Di tengah menurunnya prestise AS, mainan baru di Taiwan dan Ukraina hari ini yang melibatkan Uni Eropa dan NATO perlu dilihat dari perspektif ini; bahwa itu dilakukan dalam rangka mengatur, menertibkan, dan menggulingkan pemerintahan yang dilabeli sebagai tidak demokratis.

Dalam rezim ini, berlangsung intervensi unilateral dalam narasi seperti Responsibility to Protect (R2P) dan Humanitarian Intervention di negara-negara Afrika, konflik berdarah lima tahun di Eropa Timur yang memecah Yugoslavia menjadi lima negara baru.

Frans A. Djalong dan Luqman-nul Hakim dalam salah satu chapter buku di atas menulis bahwa bagi sebagian besar pensudi kritis, Global War on Terror yang dideklarasikan George Bush pada November 2001 dan dilanjutkan Obama 2008-2014, adalah terobosan geopolitik Amerika Serikat membentuk Empire, kontrol total atas wilayah, sumber daya, dan populasi dunia.

Melalui propaganda menumpas terorisme Islam yang disepakati oleh Rusia dan Tiongkok, Amerika Serikat melancarkan agenda perubahan rezim (regime change) di sejumlah negara Timur Tengah. Bermula dengan menumbangkan Taliban di Afganistan 2001, Saddam Hussein di Irak 2003, Muammar Qaddafi di Libya 2011 dan perang proksi ‘Assad Must Go’ di Suriah 2013. Daftar panjang ini masih belum termasuk proyek regime change yang berlarut-larut di Iran dan Venezuela serta perang proksi terhadap Rusia di Ukraina sejak 2014 (halaman 32).

Hari ini, seperti mengulangi strategi Perang Dingin antara AS (dan sekutunya NATO) dan Uni Soviet, alih-alih terlibat dalam konflik secara langsung, multipolar (Russia, Iran dan China berhadapan dengan AS dan NATO) berkompetisi melalui persaingan militer, penyebaran ideologi dan pengaruh, spionase, kampanye propaganda, perlombaan nuklir, bersaing di ajang olahraga internasional, dan persaingan di teknologi seperti perlombaan antariksa. Mengenai hal yang terakhir, film Don’t Look Up jelas memperlihatkan intrik itu—tentang Cina dan Rusia yang menolak berpartisipasi mencegah kehancuran planet.

James Fallows secara panjang lebar menjelaskan dalam artikelnya berjudul The Tragedy of the American Military di The Atlantic (2015). Bahwa terlepas dari semua pengeluaran besar untuk personel dan peralatan militer, Amerika terus kalah perang—atau jika tidak sepenuhnya kalah, maka setidaknya secara teratur gagal menerjemahkan kapasitas militer ke dalam penyelesaian politik yang diinginkan.

Baca juga:

Makin banyak pria dan wanita berseragam AS dikerahkan ke luar negeri, makin kompleks pula masalah yang dirancang untuk diselesaikan oleh penempatan mereka. Dengan kata lain, Amerika mungkin merupakan negara adidaya yang dominan di dunia, sekurang-kurang menurut pandangannya sendiri, tetapi dunia yang ingin dikuasainya terbukti sangat tahan terhadap dominasi yang dianggap jinak itu.

Namun, Amerika Serikat bukanlah kekuatan global pertama yang mengalami batasan kapasitasnya untuk membentuk kontrol di luar wilayahnya, juga bukan yang terakhir. Setidaknya selama dua milenium terakhir, sistem politik lain—tidak terkecuali sistem Romawi Kuno, Spanyol modern awal, Inggris abad kesembilan belas, dan Rusia di bawah Tsar dan Soviet—telah menjalankan politik selama periode waktu yang signifikan dan domain di wilayah yang luas dari dunia yang terkenal saat itu.

Tapi tidak seperti Amerika Serikat kontemporer. Masing-masing petualangan kekaisaran itu akhirnya berakhir dengan sia-sia. Kekuasaan yang ia menangkan menjadi kekuasaan yang hilang—dan sering kali hilang dengan cara yang dramatis dan tidak dapat berubah.

Oleh sebab itu, jika dalam waktu dekat Amerika Serikat tidak mengurangi pola imperium standar dan hegemoni ini sambil merenungkan batas-batasnya, keruntuhan imperium tersebut tentu akan terjadi. Terlepas dari seberapa sering komentator politik konservatif parlemen AS bersikeras bahwa peran Amerika di luar negeri sama sekali tidak berarti imperial.

Batas Militer

Tampaknya selalu ada masalah militer yang serius dengan model kekuasaan imperium AS. Mengapa? Ya, karena itu membutuhkan banyak biaya untuk membangun dan memelihara militerisasi: dalam hal uang, tenaga kerja dan tentu saja modal politik. Apalagi, krisis politik dalam negeri dan perlawanan tak terduga di luar perbatasan dan 27 pangkalan militer yang tersebar di lima benua, pada akhirnya meningkatkan biaya-biaya itu secara signifikan.

Pola biaya dan perlawanan ini sangat jelas dalam kasus Uni Soviet. Pada akhirnya beban persaingan Perang Dingin dan represi internal membanjiri ekonomi yang mandek. Hal ini membuat Uni Soviet tenggelam dalam perang Afghanistan yang tidak dapat ia menangkan, yang akhirnya harus ia tarik secara memalukan.

Pola yang sama dari perluasan imperium membawa kekuatan Spanyol ke akhir yang sama memalukannya dalam Perjanjian Westphalia dan Pyrenees antara tahun 1648 dan 1659; dan menyapu Inggris keluar dari Asia Tenggara pada tahun 1942 dan India pada tahun 1947.

Batas Politik

Serangan balik militer terhadap kekuasaan imperium tampaknya hanya merupakan satu segi dari ciri yang lebih umum, yaitu bahwa mereka menjadi lebih sulit untuk memerintah makin besar dan bertahan makin lama. Sebagian karena ukuran geografis dan kapasitas komunikasi secara historis berada dalam ketegangan. Tentu saja sampai era internet.

Halaman selanjutnya >>>
Hans Hayon
Latest posts by Hans Hayon (see all)