Tahun Kemarin

Tahun Kemarin
©Kompas Properti

Hujan mengguyur deras
Membasahi tanah kehormatan
Kala rentetan-rentetan pagi terbuka
Bersama mentari tak sinar-seminar

Penggemar ladang berdansa
Dengan riak kaki hujan
Merangkaki anaknya yang sedang ditangisi air merta jiwa.
ia tak ingin terjadi simpang siur kedua kalinya

Aku pun gigil
Berlindung-berteduh di gubuk atap genjong
Tanpa cerobong
Dan ditemani kapal hitam
Meski secangkir tadah

Gegap-gempita para petani bersibuk-sibuk
Pada ladang yang sudah diselimuti banjir
Lumpur lenyap tinggal peristiwa!
“mau makan apa aku tuhan, kalau jagung, padi
hilang bersama arus banjir, hentikan hujan ini tuhan!”
Hujan akhirnya berhenti, berhenti, berhenti.
Hujan reda seketika.

Sebelum punya rumah di tanah

Sebelum punya rumah di tanah
Dia selalu berwasiat tentang hakikat
Padaku saban waktu
Yang menjadikanku tak mengerti apa dari hakikat itu

Bisaku mengerti kian ia memberikan motivasi
Tentang kebenaran, kejujuran, kesalahan,
Kemunafikan, kemaksiatan, serta kehidupan abadi
Lalu dia mengatakan bahwa dirinya
Ingin cepat hidup abadi kini juga titahnya

Di situlah kalimat terakhir kudengar
Membuatku seketika beku
Aku mengambil waktu
Untuk mengeja mereka-reka penjelasan di otakku
Bahwa diriku ini sebenarnya mati
Atau kita masih tidur dan bangun
Ketika matinya yang di namakan
Kehidupan yang abadi?

Berseling waktu-hari
Tak ada desir angin lagi
Dari petuah si tua.
Sebab ia sudah di restui perkataannya
Dan pasrah padaNya.

Rumah tangga

Pisau menikam pada tubuh
Keluar merah
Darah yang bercucuran pada tanah
Gersang hingga basah

Bedil-bedil keluar dari rumah kecil
Yang semula lumpuh
Namun di perbudak oleh si sepuh
Hingga beranjak ke tubuh

Rudal-rudal di luncurkan
Hancur lebur rumah-rumah
Daging-daging berserakan
Darah-darah bercucuran

Tolong jangan di jajah lagi halamanku
Kasihanilah mereka
Para bedebah,,,,,,,!
Engkau ingin menguasai harta-benda benarkan!
Itu tak ada gunanya
Yang ada gunanya ialah berhenti menjajah
Bersaudara bertetangga


Perebutan 

Bunyi peperangan bertanda akan di mulai
Di mana sang fajar tersing-sing kepada tubuh betis
Para pemburu angka, kemenangan ialah budak.

Prajurit rapatkan barisan, bagian pagar betis bersiaplah
Musuh akan melawan pada, kata panglima durba.

Pertempuran telah di mulai berkecamuk antarsuku
Bilamana luka-luka sudah menganga
Tercabik-cabik oleh pedang yang mengasa api neraka.

Suku logika telah memecahkan babak belur
Di mana kemenangan akan di depan mata

Namun sebelumnya  ada peraturan;
Bahwa kemenangan ialah tumpasnya
Tubuh tak berdaya, Berhentinya peperangan terciptanya sore

Tapi aku akan mengubah jarum matahari pergi
Ke halaman senja raya
Agar tidak ada kemenangan antarsuku
Budak akan milikku.


Pementasan

Kini aku berjumpa lagi
Di pelabuhan tanggek penuh asmara,
Desir-desir terdengar dari sudut kesudut
Menyaksikanku yang datang, dari pekarangan
Akan kusebutkan sebuah lakon-lakon di pelabuhan

Pertama
Padatnya keramaian aktor-aktor
Di pelabuhan, berbicara penuh makna.

Kedua
Penagih ongkos perahu bersorak-sorak dalam kebenaran
“ongkos  15 ribuan ayo bayar bayar!
Kembaliannya bang!, kurang bang!” kata pembayar.

Ketiga
Pasang surut tubuh perahu pada pelabuhan
Ke titik tujuan silih berganti
Sehingga penonton tak bisa mengamati.

Keempat
Lampu neraka bercahaya ke aktor-aktor
Apalagi kepononton
Melahirkan letih pada tubuh
Namun ke aktor tak ada sifatnya
Melainkan kenyamanan
Sudah menjadi kebiasaan
Hingga aku pergi dari lakon pelabuhan
Menuju pekarangan.


Si tua peci menghampiri

Di malam hari menikmati segelintir sepi
Di mana kopi-kopi terhidang kesanubari
Bersamaan langkah kaki situa peci
Menghampiri kelubuk hati

Tak lama kemudian
Ketika jangkrik mengatakan berkeliaran
Sepi pun pecah tak beraturan
Sepi hilang jadi wejangan
Tentang kehidupan

Baru saja aku sadar berantakan
Sebab bahwa kehidupan berawal dari
Sepi, ramai, beralih lagi pada sepi.


Depan kantor

Depan kantor dosen terhidang meja taman
Bersamaku
Air mancur menjadi sebagian keindahan
Di beranda halaman
Bunga mawar telah jadi sesajen
Dari keramaian waktu
Menghibur kepada tamu-tamu
Di meja bundar berselimut biru.


Aku sapu lidi

“aku sapu lidi” bagaimana kehidupanku
Yang hidup hanya tabah dari segala sesuatu
Sebagai pembantu
Membuang kotoran yang bersifat bau

Sapu lidi, bagaimana kehidupanku
Bilamana pagi dan sore hingga pagi lagi
Aku di jadikan pelarian dari sifat kotor
Sedangkan bersih kapan diberikan padaku
Aku lelah!
Bagaimana kehidupanku
Hanya pembaca yang tau?.


Bertanya-tanya

Dia berjalan di tanah surga
Sedangkan satunya berjalan di tanah neraka
Aku tak mengerti surga-neraka
Padahal satu jalan.

    Aang MZ
    Latest posts by Aang MZ (see all)