Tak Lagi Tertipu

Tak Lagi Tertipu
Ilustrasi: sebarr.com

Nalar Warga – Membaca status Danz Suchamda yang berjudul “Bungkus” dan sempat saya share kemarin, seperti merangkum semua pengalaman dan perasaan saya tentang agama. Dan juga tentang kemuakan akan kemunafikan orang-orang yang menggunakan jubah agama agar nampak suci.

Saya ingin sedikit bercerita tentang awal mula kemuakan saya terhadap orang-orang sok suci tersebut. Ini mungkin terdengar sedikit tendensius mengingat berhubungan dengan jenis kelamin saya sebagai seorang perempuan.

Cerita saya tak jauh berbeda dengan cerita Danz. Ini juga tentang pesantren yang memiliki reputasi yang baik karena pendirinya yang juga dikenal berhati baik.

Sayangnya, cucu-cucu dari sang pendiri pesantren ini bertindak cabul. Menghamili santriwati-santriwati yang ditaksirnya. Biadab!

Tapi tak ada seorang pun yang berani mengusirnya dari lingkungan pesantren hanya karena dia cucu dari pendiri dari pesantren yang dimuliakan. Konyol, bukan? Bahkan saat idul fitri, mereka masih berani ceramah seperti merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.

Ternyata hal seperti ini tak hanya terjadi di satu tempat, ini juga terjadi di tempat lain yang ironisnya bersifat sama, tak ditentang oleh penduduk sekitar. Dan juga dengan alasan yang sama, sebab ia seorang pemuka agama.

Ketika ada yang vokal mengajukan tuntutan, jawabnya hanya: “Dia hanya manusia biasa.” Well, kalau dia manusia biasa, mengapa diistimewakan? Kalau dia manusia biasa, mengapa dia kebal hukum? Tak dihakimi selayaknya orang lain yang membuat kesalahan serupa.

Lihat, kan, bagaimana agama menjelma menjadi bungkus yang tak tersentuh dan menjadi bungkus yang membuat orang menjadi kebal terhadap kemarahan & hukum? Dulu saya mengira kebiadaban seperti ini hanya ada di satu sekte/mazhab/aliran. Ternyata saya juga menemukan kasus serupa pada mereka yang mengaku moderat, liberal, dan sok spiritualis.

Demikian juga dengan bungkus yang digunakan oleh pihak perempuan. Ketika seorang wanita mengenakan hijab, dia akan dicap lebih baik daripada mereka yang tidak menggunakan hijab. Sekalipun wanita-wanita berhijab ini doyan ngeseks, jualan klitoris, gemar judi, suka mabuk mabukan, tetap akan dianggap suci dan baik.

Sebaliknya, jika Anda tidak menggunakan hijab, berpakaian seksi dan bertato lalu melakukan hal serupa, Anda akan dilabeli sebagai perek, pecun, jablai, pelacur, bispak. Not fair, right?

Lantas bagaimana sekarang saya memandang agama dan para pemukanya? Saya memandang agama sama seperti ilmu pengetahuan lainnya, bisa dikritik dan dikaji secara historis. Dan pemuka agama seperti ahli dalam bidang ilmu lainnya, tidak otomatis lebih baik dibandingkan orang lain. Selalu ada ruang untuk mengkritik dan memperlakukannya setara dengan manusia lain. Tidak lebih suci dan tidak lebih tinggi.

Salah, ya dihukum. Debat, ya didebat balik. Dia bukan wakil Tuhan di bumi. Tidak ada istilah kriminalisasi ulama, pendeta, biksu karena toh kalau mereka tidak melakukan tindakan kriminal dan benar-benar baik, tidak ada seorang pun yang bisa menjelekkan mereka.

Saya juga memandang agama sebagai suatu privasi dan way of life. Jika seseorang merasa agama bisa menjadi jalan menjadi orang yang lebih baik dan menjawab pertanyaan pertanyaan dalam hidupnya, ya silakan diambil saja. Tak usah memaksa orang lain memiliki keyakinan yang sama dan memaksa orang lain memandang agama itu suci dan antikritik. Taruh agamamu di kamarmu, untuk dirimu sendiri.

Kini, saya merasa lebih bebas dalam melangkah dan tak lagi silau dengan gelar ustaz, kiai, pastur, pendeta, romo, dll. Sejauh mereka baik, saya juga akan baik. Mereka brengsek, saya juga akan brengsek. Tak ada lagi yang bisa menipu dan memanfaatkan saya dengan dalil, dongeng sufi-sufian, maupun sabda sabda sok spiritualis yang mana kerap digunakan untuk mencari memek, itil, dan uang serta mengumbar nafsu kontol.

*Maulida Fadhila

___________________

Artikel Terkait:

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet

    Latest posts by Warganet (see all)