Tanggung Jawab Moral Kaum Inteligensia

Tanggung Jawab Moral Kaum Inteligensia
Ilustrasi: IST

Bumi yang terlantar, ditambah dengan erosi yang menjalar karena pembabatan hutan terus-menerus dengan tiada pengetahuan dan keinsafan, mengancam hidup bangsa di masa datang. Dapatkah ini dilengahkan saja oleh kaum inteligensia yang ahli dalam masalahnya, dengan tiada merasakan tanggung jawab moralnya terhadap angkatan kemudian dan terhadap peradaban?

Juga bertahun-tahun rakyat kita digoda oleh berbagai macam penyakit. Kesehatan rakyat yang terbanyak jauh dari terpelihara. Betapa juga giatnya jabatan-jabatan kesehatan negara memberantas berbagai penyakit menular dan lainnya, bekerja sampai jauh di atas kesanggupannya yang biasa.

Di daerah yang jauh terpencil dari ibu kota dan kota besar-besar di pulau-pulau yang masih dapat diadakan poliklinik, di sana kebanyakan menjabat dokter-dokter bangsa asing. Mereka menyewakan tenaganya dan jasanya kepada Pemerintah Indonesia.

Apa sebab dokter-dokter bangsa sendiri sedikit sekali di sana, tetap banyak berkumpul di kota-kota? Apakah sesuai keadaan seperti ini dengan rasa tanggung jawab pemuda dokter Indonesia, yang dalam uratnya masih mengalir darah patriot? Alangkah janggal kelihatannya di mata musafir yang sekali-sekali melawat ke Indonesia. Seolah-olah rasa tanggung jawab pada kaum dokter Indonesia terhadap bangsanya sendiri kurang sekali adanya.

Semuanya ini tentu ada sebabnya. Tetapi keadaan yang pincang yang menyolok mata itu harus lenyap berangsur-angsur. Penyelesaiannya tidak saja terletak pada aktifnya dan cepatnya pemerintah mendidik tenaga-tenaga dokter, tetapi juga pada perasaan tanggung jawab moral kaum inteligensia Indonesia umumnya, para dokter khususnya.

Kemudian, gegala-gejala yang merusak di dalam masyarakat sampai meracun jiwa pemuda dan pelajar, yang terkenal sebagai proses demoralisasi, tidak boleh lenyap dari perhatian kaum inteligensia. Gejala-gejala ini mengancam peradaban bangsa pada jantungnya. Sekalipun bahwa itu tidak sebesar yang digambarkan. Sebagai bahaya yang mengancam, ia memang ada.

Tidak cukup apabila gejala-gejala ini dibahas dengan peninjauan ilmiah saja sebagai masalah sosiologi berhubung dengan keadaan dan perubahan sendi-sendi masyarakat sesudah perang besar dan revolusi. Tinjauan seperti ini memang berguna. Lebih penting lagi ialah mencarikan obatnya yang radikal, yang terletak pada pendidikan moral. Mencarikan caranya yang efektif, yang dapat ditanggung bersama oleh pemuda pelajar dan mahasiswa, adalah suatu tugas yang maha penting.

Manusia sekarang adalah bibit bagi masa datang. Hanya dengan memperbaiki yang rusak itu di waktu sekarang juga dapat dijamin pertumbuhan masyarakat yang sehat ke dalam masa yang akan datang. Angkatan sekarang timbal-balik tanggung jawabnya. Kepada angkatan yang lalu, kepada leluhur kita dan pahlawan yang telah hilang, yang mempusakakan Indonesia Merdeka. Kepada angkatan yang akan datang, anak-cucu kita, yang akan meneruskan pemeliharaan tanah air ini sebagai pusaka bangsa. Kewajiban manusia Indonesia angkatan sekaranglah untuk menyerahkan tanah pusaka bangsa ini kepada angkatan yang akan datang dalam keadaan yang lebih baik dari yang diterimanya sebagai peninggalan angkatan yang lalu.

Masyarakat sekarang dan akan datang berkembang ke jurusan apa yang orang katakan: managerial society. Zaman liberalisme dengan semboyan laissez-faire-nya sudah lewat. Sungguhpun manusia liberal yang ketinggalan di belakang masih mau mencoba menonjolkan kepalanya.

Tetapi Indonesia, yang dalam perjuangannya yang lampu menentang kapitalisme, ingin menempuh jalan baru. Melewati sama sekali fase liberalisme. Dengan itu juga mengelakkan perjuangan hidup yang berdasarkan survival of the fittest.

Survival of the fittest membiarkan kemenangan kepada yang terkuat. Tidak sesuai dengan jiwa Indonesia, yang berisikan semangat gotong royong. Dan dalam masyarakat yang merupakan managerial society, perkembangan penghidupan banyak diatur menurut plan. Semuanya itu menghendaki pimpinan yang berdasarkan pengetahuan; yang kebanyakan hanya terdapat pada pihak kaum inteligensia, yang memperoleh pendidikan khusus.

Oleh karena itu, pertanggungjawaban kaum inteligensia Indonesia dalam hidup kemasyarakatan di masa datang akan bertambah besar. Bukan saja pembangunan ekonomi diatur dan diperhitungkan menurut rencana, tetapi juga tindakan demokrasi politik. Ini menghendaki adanya pimpinan politik yang berjiwa besar dan bermoral tinggi.

Sebuah Kewajiban

Semuanya ini menunjukkan bahwa kaum inteligensia Indonesia mempunyai tanggung jawab moral terhadap perkembangan masyarakat. Apakah ia ada, duduk di dalam pimpinan negara dan masyarakat atau tidak, ia tidak akan terlepas dari tanggung jawab.

Sekalipun berdiri di luar pimpinan, sebagai rakyat-demokrat, ia harus menegur dan menentang perbuatan yang salah dengan menunjukkan perbaikan menurut keyakinannya. Cara demikianlah ia menyatakan rasa tanggung jawabnya sebagai manusia susila dan demokratis. Berdiam diri melihat kesalahan dan keruntuhan masyarakat atau negara berarti mengkhianat kepada dasar kemanusiaan, yang seharusnya menjadi pedoman hidup bagi kaum inteligensia umumnya.

Saya katakan, dasar kemanusiaan harus menjadi pedoman hidup dan pegangan perjuangan bagi kaum inteligensia untuk mencapai kebenaran, keadilan, kebaikan, kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, kemerdekaan, dan persaudaraan di atas dunia yang fana ini. Kaum inteligensia tidak saja harus menunjukkan tanggung jawab intelektualnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga tanggung jawab moral. Ilmu pengetahuan yang begitu lanjut sebagai penghasilan otak manusia. Menimbulkan keadaan bahwa manusia pada akhirnya menjadi bahaya bagi dirinya sendiri.

Kembalikah manusia dengan ilmunya jadi makhluk yang buas, jadi manusia biadab yang mengancam satu sama lain, mengancam kebudayaan dan peradaban? Dengan kepandaian yang baru didapatnya untuk mengubah massa menjadi energi, manusia dapat membuat alat pembunuh yang dapat menghancurkan hidup secara besar-besaran. Dapat menimbulkan kiamat manusia.

Dengarkanlah jeritan jiwa yang keluar dari ujung pena seorang ahli ilmu alam yang terbesar di masa yang akhir ini, Albert Einstein, terhadap kemajuan ilmu pengetahuan yang ia sendiri berkali-kali menjadi pionirnya. Dalam bukunya Out of My Later Years, ia menulis:

Dengan pengalaman yang pahit, kita ketahui bahwa pikiran rasional saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup sosial kita. Penyelidikan yang mendalam dan pekerjaan ilmiah yang bersemangat sering kali membawa pelaksanaan yang sedih bagi hidup manusia.

Pada suatu pihak, ia menghasilkan pendapatan-pendapatan yang memerdekakan manusia dari pekerjaan badaniah yang berat. Membuat penghidupan lebih mudah dan lebih kaya. Tetapi, sebaliknya, ia membawa kegelisahan besar ke dalam penghidupan. Menjadikan orang budak dari lingkungan teknologinya. Dan—lebih mencelakakan lagi dari gejala-gejalanya—membuat alat untuk memusnahkan sesama manusia secara besar-besaran. Inilah, nyatanya, suatu tragedi yang sedih sekali.

Betapa juga sedihnya tragedi ini, lebih menyedihkan pula ialah bahwa selagi sejarah manusia banyak melahirkan ahli-ahli yang mencapai kemajuan yang begitu besar di dalam daerah ilmu dan teknologi, kita selama ini tidak berhasil mendapatkan penyelesaian bagi persengketaan politik dan ketegangan ekonomi yang begitu banyak di sekitar kita. Tidak dapat disangkal lagi bahwa pertentangan kepentingan ekonomi di dalam tiap-tiap bangsa dan antara bangsa-bangsa, sebagian besar, menyebabkan adanya keadaan yang berbahaya dan mengancam di dunia sekarang ini.

Orang tak berhasil mengembangkan bentuk-bentuk organisasi politik dan ekonomi, yang akan menjamin hidup bangsa-bangsa di dunia ini, sebelah-menyebelah dalam keadaan damai. Orang tak berhasil membangun suatu macam sistem yang dapat melenyapkan kemungkinan untuk perang dan menghapuskan untuk selama-lamanya alat-alat yang berbahaya itu untuk menghancurkan manusia secara besar-besaran.

Dalam jeritan jiwa Albert Einstein ini, yang menyatakan kekhawatirannya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, tersimpul pula masalah kemasyarakatan yang harus dipecah oleh kaum inteligensia yang bertanggung jawab terhadap manusia dan peradaban. Protes terhadap percobaan dengan meledakkan bom nuklir telah banyak dilakukan dengan tiada berhasil.

Tindakan yang lebih efektif harus dilakukan untuk menghentikan perang sama sekali. Inilah pula suatu masalah, yang usaha memecahnya terletak juga di dalam daerah kaum terpelajar.

Ingin akan perdamaian harus didorong oleh cinta akan damai, tidak karena takut akan perang yang mendahsyatkan. Masalah ini tidak dapat dipecahkan sendiri oleh kaum inteligensia Indonesia. Tetapi melayangkan perhatian senantiasa kepada masalah yang mengenai nasib dan hidup mansia sebagai manusia adalah suatu kewajiban yang terletak di dalam tanggung jawab moral kaum terpelajar.

Untuk Pembangunan Peradaban

Tiga puluh tahun lalu, berhubung dengan ancaman Nazi-Hitler, Julien Benda menulis suatu buku yang menggemparkan tentang la trahison des clercs—pengkhianatan kaum intelektual. Aturan memegang tinggi kemanusiaan yang menjadi dasar segala ilmu pengetahuan, katanya, kaum terpelajar di segala negeri telah menyesuaikan diri kepada berbagai macam aliran egois dan berkepentingan sebelah di dalam masyarakat.

Le clerc n’est pas seulement vaincu, il est assimile. Orang terpelajar tidak saja dikalahkan, tetapi juga dipungut. Terdahulu dari itu telah diucapkannya. Bahwa le clerc love par des seculiers est traitre a sa function. Orang terpelajar yang disewa oleh yang berkuasa di dunia adalah pengkhianat kepada fungsinya.

Lihatlah, katanya, betapa bersemangatnya kaum intelektual modern menyerahkan dirinya sepenuh-penuhnya kepada perjuangan politik yang meluap-luap.

Inti tuduhan Julien Benda kepada kaum terpelajar ialah bahwa mereka tidak memberi petunjuk dan memberi pimpinan kepada perkembangan hidup kemasyarakatan. Malahan, menyerah diri kepada golongan yang berkuasa yang memperjuangkan kepentingan mereka masing-masing. Aturan memelihara persaudaraan segala bangsa, berdasarkan kemanusiaan, kaum terpelajar ikut-serta mempertajam pertentangan bangsa, yang menjadi sebab timbulnya perang.

Saya tidak ingin mengikuti begitu jauh tuduhan Julien Benda kepada kaum inteligensia. Tetapi saya ingin melihat kaum inteligensia Indonesia menunjukkan tanggung jawab moralnya terhadap usaha-usaha pembangunan negara dan masyarakat kita. dengan berpedoman kepada cinta akan kebenaran, yang menjadi sifat bagi orang berilmu.

Kaum inteligensia Indonesia mempunyai tradisi yang baik dalam menentukan nasib bangsa. Selagi rakyat yang banyak masih berselimut dengan kegelapan, kaum terpelajarlah yang membukakan matanya bahwa ia mempunyai hak atas hidup sebagai bangsa yang merdeka.

Pergerakan politik bermula dipelopori oleh pelajar-pelajar, yang mendirikan Budi Utomo dalam lingkungan dinding sekolah dokter “Stovia” di Jakarta. Pergerakan politik yang pertama kali menuntut “Indonesia lepas dari Belanda” dipimpin oleh tiga orang dari kaum terpelajar pula”: Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Suwardi Surjaningrat.

Fase baru dalam perjuangan kemerdekaan dengan menganjurkan non-cooperation direncanakan dan dipropagandakan oleh perkumpulan mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda. Dalam waktu yang singkat, dasar perjuangan itu, yang menolak kerja sama dengan si penjajah, menjadi keyakinan politik pergerakan massa, rakyat jelata. Sumpah Pemuda pada tahun 1928, yang menjadi sistem persatuan bangsa, diselenggarakan oleh pemuda-pelajar.

Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, pemuda-mahasiswa menjalankan peranan yang aktif. Ikut-serta menjadi penghubung antara pimpinan negara dan rakyat yang berjuang di segala daerah dan pelosok.

Kepada kaum inteligensia yang muda-muda sekarang, diharapkan supaya ia meneruskan tradisi yang gilang-gemilang itu. Apabila pekerjaan kaum inteligensia dahulu lebih banyak merobohkan dari membangun, merobohkan Hindia Belanda, pekerjaan kaum inteligensia sekarang terletak semata-mata dalam segi pembangunan.

Membangun Indonesia yang adil dan Indonesia yang makmur dilakukan dengan rasa tanggung jawab serta keberanian menghadapi segala kesukaran! Pokok kemauan dan keberanian itu terletak pada cinta akan kebenaran dan keadilan, sebagai pembawaan orang berilmu, dan cinta akan suatu cita-cita besar yang jadi penyuluh harapan bangsa.

*Bagian III pidato Mohammad Hatta di Hari Alumni I Universitas Indonesia, 11 Juni 1957

___________________

Artikel Terkait:
Mohammad Hatta
Mohammad Hatta 3 Articles
Mohammad Hatta adalah tokoh pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama.