Tanggung Jawab Moral Kaum Inteligensia

Saya katakan, dasar kemanusiaan harus menjadi pedoman hidup dan pegangan perjuangan bagi kaum inteligensia untuk mencapai kebenaran, keadilan, kebaikan, kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, kemerdekaan, dan persaudaraan di atas dunia yang fana ini. Kaum inteligensia tidak saja harus menunjukkan tanggung jawab intelektualnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga tanggung jawab moral. Ilmu pengetahuan yang begitu lanjut sebagai penghasilan otak manusia. Menimbulkan keadaan bahwa manusia pada akhirnya menjadi bahaya bagi dirinya sendiri.

Kembalikah manusia dengan ilmunya jadi makhluk yang buas, jadi manusia biadab yang mengancam satu sama lain, mengancam kebudayaan dan peradaban? Dengan kepandaian yang baru ia dapatkan untuk mengubah massa menjadi energi, manusia dapat membuat alat pembunuh yang dapat menghancurkan hidup secara besar-besaran. Dapat menimbulkan kiamat manusia.

Dengarkanlah jeritan jiwa yang keluar dari ujung pena seorang ahli ilmu alam yang terbesar di masa yang akhir ini, Albert Einstein, terhadap kemajuan ilmu pengetahuan yang ia sendiri berkali-kali menjadi pionirnya. Dalam bukunya Out of My Later Years, ia menulis:

Dengan pengalaman yang pahit, kita ketahui bahwa pikiran rasional saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup sosial kita. Penyelidikan yang mendalam dan pekerjaan ilmiah yang bersemangat sering kali membawa pelaksanaan yang sedih bagi hidup manusia.

Pada suatu pihak, ia menghasilkan pendapatan-pendapatan yang memerdekakan manusia dari pekerjaan badaniah yang berat. Membuat penghidupan lebih mudah dan lebih kaya. Tetapi, sebaliknya, ia membawa kegelisahan besar ke dalam penghidupan. Menjadikan orang budak dari lingkungan teknologinya. Dan—lebih mencelakakan lagi dari gejala-gejalanya—membuat alat untuk memusnahkan sesama manusia secara besar-besaran. Inilah, nyatanya, suatu tragedi yang sedih sekali.

Betapa juga sedihnya tragedi ini, lebih menyedihkan pula ialah bahwa selagi sejarah manusia banyak melahirkan ahli-ahli yang mencapai kemajuan yang begitu besar di dalam daerah ilmu dan teknologi, kita selama ini tidak berhasil mendapatkan penyelesaian bagi persengketaan politik dan ketegangan ekonomi yang begitu banyak di sekitar kita. Tidak dapat disangkal lagi bahwa pertentangan kepentingan ekonomi di dalam tiap-tiap bangsa dan antara bangsa-bangsa, sebagian besar, menyebabkan adanya keadaan yang berbahaya dan mengancam di dunia sekarang ini.

Orang tak berhasil mengembangkan bentuk-bentuk organisasi politik dan ekonomi, yang akan menjamin hidup bangsa-bangsa di dunia ini, sebelah-menyebelah dalam keadaan damai. Orang tak berhasil membangun suatu macam sistem yang dapat melenyapkan kemungkinan untuk perang dan menghapuskan untuk selama-lamanya alat-alat yang berbahaya itu untuk menghancurkan manusia secara besar-besaran.

Dalam jeritan jiwa Albert Einstein ini, yang menyatakan kekhawatirannya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, tersimpul pula masalah kemasyarakatan yang harus kaum inteligensia pecahkan, yang bertanggung jawab terhadap manusia dan peradaban. Protes terhadap percobaan dengan meledakkan bom nuklir telah banyak berlaku dengan tiada berhasil.

Baca juga:

Tindakan yang lebih efektif harus kita lakukan untuk menghentikan perang sama sekali. Inilah pula suatu masalah, yang usaha memecahnya terletak juga di dalam daerah kaum terpelajar.

Ingin akan perdamaian harus terdorong oleh cinta akan damai, tidak karena takut akan perang yang mendahsyatkan. Masalah ini tidak dapat terpecahkan sendiri oleh kaum inteligensia Indonesia. Tetapi melayangkan perhatian senantiasa kepada masalah yang mengenai nasib dan hidup mansia sebagai manusia adalah suatu kewajiban yang terletak di dalam tanggung jawab moral kaum terpelajar.

Untuk Pembangunan Peradaban

Tiga puluh tahun lalu, berhubung dengan ancaman Nazi-Hitler, Julien Benda menulis suatu buku yang menggemparkan tentang la trahison des clercs—pengkhianatan kaum intelektual. Aturan memegang tinggi kemanusiaan yang menjadi dasar segala ilmu pengetahuan, katanya, kaum terpelajar di segala negeri telah menyesuaikan diri kepada berbagai macam aliran egois dan berkepentingan sebelah di dalam masyarakat.

Le clerc n’est pas seulement vaincu, il est assimile. Orang terpelajar tidak saja kalah, tetapi juga dipungut. Terdahulu dari itu telah terucapkan, bahwa le clerc love par des seculiers est traitre a sa function. Orang terpelajar sewaan penguasa di dunia adalah pengkhianat kepada fungsinya.

Lihatlah, katanya, betapa bersemangatnya kaum intelektual modern menyerahkan diri sepenuh-penuhnya kepada perjuangan politik yang meluap-luap.

Inti tuduhan Julien Benda kepada kaum terpelajar ialah bahwa mereka tidak memberi petunjuk dan memberi pimpinan kepada perkembangan hidup kemasyarakatan. Malahan, menyerah diri kepada golongan yang berkuasa yang memperjuangkan kepentingan mereka masing-masing. Aturan memelihara persaudaraan segala bangsa, berdasarkan kemanusiaan, kaum terpelajar ikut-serta mempertajam pertentangan bangsa, yang menjadi sebab timbulnya perang.

Saya tidak ingin mengikuti begitu jauh tuduhan Julien Benda kepada kaum inteligensia. Tetapi saya ingin melihat kaum inteligensia Indonesia menunjukkan tanggung jawab moralnya terhadap usaha-usaha pembangunan negara dan masyarakat kita. dengan berpedoman kepada cinta akan kebenaran, yang menjadi sifat bagi orang berilmu.

Halaman selanjutnya >>>
Mohammad Hatta
Latest posts by Mohammad Hatta (see all)