Tanggung Jawab Moral Kaum Inteligensia

Kaum inteligensia Indonesia mempunyai tradisi yang baik dalam menentukan nasib bangsa. Selagi rakyat yang banyak masih berselimut dengan kegelapan, kaum terpelajarlah yang membukakan matanya bahwa ia mempunyai hak atas hidup sebagai bangsa yang merdeka.

Pergerakan politik bermula dari pelajar-pelajar, yang mendirikan Budi Utomo dalam lingkungan dinding sekolah dokter “Stovia” di Jakarta. Pergerakan politik yang pertama kali menuntut “Indonesia lepas dari Belanda” di bawah pimpinan tiga orang dari kaum terpelajar pula”: Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Suwardi Surjaningrat.

Fase baru dalam perjuangan kemerdekaan dengan menganjurkan non-cooperation direncanakan dan dipropagandakan oleh perkumpulan mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda. Dalam waktu yang singkat, dasar perjuangan itu, yang menolak kerja sama dengan si penjajah, menjadi keyakinan politik pergerakan massa, rakyat jelata. Sumpah Pemuda pada tahun 1928, yang menjadi sistem persatuan bangsa, diselenggarakan oleh pemuda-pelajar.

Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, pemuda-mahasiswa menjalankan peranan yang aktif. Ikut-serta menjadi penghubung antara pimpinan negara dan rakyat yang berjuang di segala daerah dan pelosok.

Kepada kaum inteligensia yang muda-muda sekarang, diharapkan supaya ia meneruskan tradisi yang gilang-gemilang itu. Apabila pekerjaan kaum inteligensia dahulu lebih banyak merobohkan dari membangun, merobohkan Hindia Belanda, pekerjaan kaum inteligensia sekarang terletak semata-mata dalam segi pembangunan.

Membangun Indonesia yang adil dan Indonesia yang makmur dilakukan dengan rasa tanggung jawab serta keberanian menghadapi segala kesukaran! Pokok kemauan dan keberanian itu terletak pada cinta akan kebenaran dan keadilan, sebagai pembawaan orang berilmu, dan cinta akan suatu cita-cita besar yang jadi penyuluh harapan bangsa.

*Bagian III pidato Mohammad Hatta di Hari Alumni I Universitas Indonesia, 11 Juni 1957

Baca juga:
Mohammad Hatta
Latest posts by Mohammad Hatta (see all)