Tangis Gadis dan Duka Perempuan Angan Tanah Seberang

Tangis Gadis dan Duka Perempuan Angan Tanah Seberang
©GI

Jalannya jauh, gersang serta berliku. Begitulah kata orang, ditambah cuacanya saat siang panas dan begitu pun sebaliknya ketika malam sangat dingin. Tidak akan kautemui tempat melepas penat, hanya pasir yang terhampar dan awan yang setia akan menjadi teman. Namun tekad gadis itu tak goyah. Ia harus sampai di tanah seberang. Dengan mental dan bekal secukupnya ia membulatkan tekad untuk berjalan menyusuri gurun itu.

Ini hari pertama dan kamu harus kuat, batinnya untuk menyemangati diri sendiri. Gadis tersebut terus berjalan walau telah banyak orang yang melarangnya karena medan yang sangat bahaya untuk ditempuh hanya seorang diri. Beberapa orang telah berusaha untuk menaklukan padang tandus itu, namun tak satu pun dari mereka sampai di tanah seberang, semua gugur dan memilih menyerah di tengah jalan.

Konon, tanah seberang adalah tanah impian, semua mencintainya dari beberapa cerita nenek moyang dan masyarakat sekitar desa. Entahlah berasal dari mana cerita itu, semua orang percaya jika telah sampai di tanah seberang ia akan mendapatkan kebahagiaan.

Gadis itu sangat menginginkan itu karena ia merasa kehidupan tidak berpihak kepadanya. Ia ingin mengadu nasib di tanah seberang. Ia yakin di sanalah kebahagiaannya dan ia ingin menjumpainya, tak hiraukan semua cerita tragis saat di jalan, tak hiraukan semua omongan orang tentang dia yang tak akan mampu menaklukan medan terjal.

Ini hari ketiga, jalan yang ia tempuh semakin terjal saja, bekal telah menipis namun semangat semakin membara. Sempat ragu dengan jalan yang ia tempuh selama ini, karena tak ada tanda-tanda akan ada oase dan tempat bernaung untuk melepas penat barang hanya sekejap saja, namun lagi dan lagi cerita orang serta bayang-bayang kebahagiaan yang telah sukses mebuat ia melupakan tanah kelahirannya untuk kembali.

Gadis itu terus berjalan walau kakinya telah tak berupa, kulitnya tak secerah dulu dan wajahnya hitam kumal tak terawat. Gadis cantik yang malang, siapa yang akan menjamin kebahagiaan dari sekedar rupa bawaan lahir saja, gadis desa itu cantik, periang, ia sederhana namun ia sendiri yang tak percaya jika ada kebahagiaan di tanah lahirnya, ia hanya menjumpai luka di sini.

Hingga ia percaya kepada kata orang jika di tanah seberang tempat kebahagiaan. Orang menceritakan kebahagiaan tanah seberang namun kata oranglah yang juga mengkisahkan perihal sepak terjal perjalanan yang tidak akan bisa ditempuh olehnya.

Purnama pertama, dan itu tandanya ia telah berjalan selama dua pekan. Bekalnya telah habis sedari tiga hari yang lalu. Ia lelah, namun inginnga masih menjadi bayang bayang, gadis itu terus berjalan menyusuri malam malam sepi.

Di tengah lelahnya ia tertidur di bawah pohon. Ia bermimpi ada seseorang yang datang bertitah menyuruhnya untuk terus berjalan, karena akan ada kebahagiaan yang akan menyambutnya, ada oase di sana. Seketika gadis itu terbangun dan berjalan, ia mengerjapkan mata berkali kali tatkala ia melihat secercah cahaya dari kejauhan, ia berlari, berlari sekencang-kencangnya untuk menggapai cahaya.

Setelah itu ia mengetuk asal cahaya itu, sebuah gubuk yang telah reyot. Ia tak yakin akan mendapati seseorang di dalam sana, namun ia terus mengetuk, dan berusaha membuka satu satunya pintu di gubuk reyot itu.

Tak lama, seorang perempuan datang. Perempuan itu menyuruh gadis tersebut untuk masuk dan memberinya seteguk air, gadis tersebut menerima dengan sangat senang hati. Ia bahagia karena malam ini serasa mendapatkan dua petunjuk setelah sekian lama hilang arah harus ke mana.

Perempuan: “Hendak kemana gadis?” Tanyanya dengan lembut.

Gadis: “gadis ingin ke tanah seberang,”

Perempuan: “apa yang engkau cari di sana?”

Gadis: “Kebahagiaan.”

Perempuan: “Apa yang membuatmu yakin di sana ada kebahagiaan”

Gadis: ”Aku bermimpi di sana ada kebahagiaanku.”

Perempuan: “aku pernah berada dalam rasa yang kamu percayakan sekarang, aku berjalan terus, hingga aku sekarang hidup dalam derita ini, saat malam aku dingin dengan angin kerinduan, saat siang aku panas akan kecemburuan. Hanya derita yang aku dapatkan, aku lelah, namun tidak dapat aku pungkiri jika aku masih percaya disana ada kebahagiaan. Hingga aku berada pada titik ini, aku berada dalam kubangan luka, aku tidak tau lagi harus berjalan kemana. Semua arah telah membungkamku, hingga aku hanya terkapar dalam linang air mata.”

Gadis tersebut mendengarkan dengan seksama, ia memikirkan nasibnya, semua yang ia kejar hanya bayang-bayang, namun ia tidak dapat menafikan semua angan. Kali ini ia resah, air yang ia teguk se akan tak berarti. Gadis itu hanya terus terdiam, mendengar setiap penggal cerita perempuan ini.

Perempuan: “Aku ingin berjalan, sampai kepada tujuan, namun apalah daya aku tak memiliki arah lagi, semua buntu. Semua serasa membungkamku untuk tetap berada di sini, aku hanya memasrahkan semua kepada keajaiban, jika memang itu nyata adanya, tak ada yang bisa aku andalkan lagi di sini, semakin jauh, semakin terjal. Dan di sana belum tentu ada kebahagiaan walaupun aku percaya di sana ada kebahagiaan, namun harus bagaimana lagi, saat kepercayaanku di lebur habis oleh keadaan.”

Gadis itu masih diam,

Perempuan: “dulu, di tanah seberang banyak aku mendengar tentang janji-janji kebahagiaan, banyak kutemui arah hidup untuk aku senang di masa yang akan datang, banyak aku dapati senang yang tak berkesudahan, aku temui cinta dengan manis kasih sayang. Aku kira akan seperti itu, setelah sekian tahun aku terus berjalan aku tak mendapatkannya, aku hanya memperoleh luka hingga semua tak menjadi duka.”

Gadis itu hanya mampu diam mendengarkan, ia merasa semua angganya hanya semu, ia resah, akan apa yang akan terjadi kedepannya, ia resah akan semua luka yang ia dapati selama ini akan bertambah hingga ia hanya mendapati lara. Semua yang dikatakan perempuan itu sungguh sakit, sungguh diluar apa yang ia harapkan akan kebahagiaannya, namun angan itu masih tetap kokoh menjad bayang bayangnya.

Perempuan: “Aku telah terluka, aku hanya mampu diam, karena kembali aku lupa jalan pulang, dan terus berjalan hanya luka yang aku dapatkan, aku percaya kepada keajaiaban sekarang, jika di tanah seberang terdapat kebahagiaanku maka ia akan datang, jika tidak, aku akan hilang bersama angin malam.”

Semakin sakit, gadis itu semakin resah, ia bingung harus kemana. Ia hanya mampu meneguk sisa sisa air yang telah disuguhkan untuk meringankan sedikit dahaganya. Derita ini lebih pedih dari sekedar menahan haus dan lapar saja, ia sakit. Hati nya perih, ia berduka, ia hilang arah karena semua cerita perempuan baik di hadapannya.

Setelah itu, gadis tersebut pamit untuk pergi, ia meninggalkan perempuan itu sendiri, karena sejujurnya gadis tersebut tak bisa menahan luka ini terlalu lama. Semakin ia berdampingan dengan perempuan ini luka itu semakin nyata, semua angannya seakan ditebang habis dengan kisah pilunya, hingga selalu ada luka yang baru saat setelah sang perempuan berkata.

Gadis itu terus berjalan dengan perasan tak karuan, ia menangis di sepanjang jalan, ia kehilangan arah. Hingga ia terlelap dengan air matanya, ia kembai bermimpi, seseorang berkata akan kebahagiaanya di tanah seberang, seseorang itu semakin nyata mengatakan akan kebahagiaan yang menunggu gadis itu di tanah seberang. Gadis itu pun terbangun dengan perasan ragu, ia akan berjalan kemana sedangkan perkataan perempuan tadi begitu terngiang dalam ingatannya.

Ia tidak bisa menolak untuk tidak percaya dengan semua yang dikatakan perempuan tadi, perempuan itu begitu baik kepadanya dan ia tak mungkin mengkhianatinya. hingga di bawah bulan sabit ini ia menangis terdiam, menatap nyalang hamparan pasir malam yang semakin pekat dan dingin, ia meringkih dengan sajak-sajaknya, ia menangis di balik petang purnama.

Ia memilih diam dengan mimpi yang menjadi teman, diam dengan semua bayang bayang angan di tanah seberang, setidaknya jika malam datang akan ada mimpi yang menjadi kawan walau hanya semu hingga pagi menjelang dan sebait sajak menjadi sarapan.

Seroja Ainun Nadhifah
Latest posts by Seroja Ainun Nadhifah (see all)