Tangisan Alam

Tangisan Alam
©CosmoFunnel

Kini rindang menjadi naungan duka dengan rumput alas lara
Semilir membendung teriak tangisnya, sembari alkamar meredupkan lentera

Oh gadis,
Janganlah kembali menangis
Merpati tak sampai hati melihat linangmu,
Ancala riyuh dengan pijar saat setiap ujarmu mengiang dalam bumantara
Peluklah pekat ini, dengan hujan menjadi nyanyiannya

Ah gadis, sudahi gelabahmu itu
Simpan laifmu dalam sadrah yang utuh
Karena redum akan menjadi ranum
Dan engkau akan menjadi kirana yang abadi dalam seulas senyum

Kemarin Gerhana

Empat belas menit sekian detik

Kemarin gerhana,
Dan seharusnya sekarang purnama.
Chandra menari mencipta bayang dalam helai sunyi
Cahaya menerangi hati yang petang sebab penyakit hati,
Merutuk bodoh!
Berteriak tak tatu diri!
Munafik!
Bukankah purnama telah tak terbilang menertawakan, mengapa masih saja sibuk dengan segala semu angan?

Kemarin gerhana,
Lantas kamu masih saja lalai terhadap titahnya
Satu dari seribu kuasa
Dan hatimu tetap keras terhadap kasih tak tertanding dengan kelembutan sutra
Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu ragukan?

Sekarang purnama,
Dan semoga alam berbicara perihal diri yang sedang tidak pada jalannya

Penghambaan

Lantunan merdu mengusik mimpi
Semilir angin menyapu alam tak bertepi
Pekat tenang menimbun raga jiwa yang tak karuan
Sembari gemericik rindu berteriak tak mampu bungkam

Oh tuhan,,,
Seperti malammu sungguh menawan
Hingga celah tuk abai enggan menampakkan
Yaa arhamar rahimin, irhamna
Seakan tak berdaya di peluk lambai rengkuh purnama
Wa’afina wa’fuanna

Carut marut cinta hakiki tergenggam dalam hati
Hendak ke mana kujumpai tanpa luka ini?
Belaianmu sungguh indah tak terlukiskan,
Kumerindu dendam dalam setiap rimbun nadi tak terbilang
Melayang terbawa angin malam buih penghambaan
Haasibu anfusakum qobla antuhaasabuh
Tertunduk lemah kapar bak kapuk beterbangan
Hingga ku terlentang dalam singgasana pasrah kepada tuhan.

Telah Malam

Tidurlah,
Hari ini penat.
Pulanglah,
Lembayung telah tiada
Dan Alkamar sudah kentara

Nona, tidurlah
Rangkai mimpimu walau hanya selaras semu
Sudahi linangmu, biarkan hujan yang menggantinya
Hati terlalu remuk untuk berlama-lama dalam sepenggal lara
Kantuk sudah semalam menuntut
Telah larut,
Tidurlah

Seroja Ainun Nadhifah
Latest posts by Seroja Ainun Nadhifah (see all)