Tangisan Langit

Tangisan Langit
©Kompas

Langit kehilangan cahaya
mendung tiba dengan rasa iba
tapi hujan selalu gagal
membuat tanah masih terjal

Lalu para penyair menulis puisi:
Dunia ini indah sekali
dengan kesuburan tanah Pertiwi
padahal ini hanya omong kosong belaka
buktinya utang-utang semakin merajalela

Sementara tanah tidak alpa tumpah darah
meski tanpa penjajah
di dalam saling cengkeram
kikis ekologis dan ekonomi bersemayam.

Tubir Takdir

Hampir gelap senja sore hari
penyair menulis sebilah puisi
tentang lahirnya tubir takdir
yang mengusir sepi dan khawatir

Sungguh tidak terasa
angin telah membawanya
pada pekat-pekat rindu
yang begitu pandai memburu

Di sini ia kehilangan suara
juga kehilangan kata-kata
duka lara telah sempurna
menjatuhkannya ke samudra

Gerhana Malam Ini

Gerhana malam ini
membuat lahir puisi
dengan sejumlah diksi
tapi hanya sesaat: tak abadi

Mengapa?
sebab kembalinya nganga
membelenggu langit dasksina
hingga bulan gugurkan cahaya

Inilah gerhana
dalam waktu yang fana.

Mengapa

Mengapa kau datang padaku
jika hanya ingin membelenggu
lalu pergi meninggalkan aku
dengan harapan-harapan palsu

Mengapa pula kau masih datang padaku
jika hanya ingin membekaskan rindu bertalu-talu
sampai pertemuan tidak pernah lunas
membayar gelisah dan rasa cemas
selebihnya aku kata-kata menolak ranggas.

Pakondang, 2021

    Latest posts by Agus Widiey (see all)