Tata Kelola Pandemi: Zombinisasi dan Politik Ketakutan

Tata Kelola Pandemi: Zombinisasi dan Politik Ketakutan
©Polres Silay City

Hanya dengan sedikit sentuhan kedaruratan dan politik ketakutan, sesegera mungkin manusia melupakan arti persahabatan.

Ketakutan adalah kata kerja. Ia beroperasi menggunakan logika eksklusi serentak integrasi, divide and rule dalam satu sapuan.

Dalam sejarah manusia, tidak dapat dipastikan dari mana ketakutan bermula. Namun pasca-Perang Dunia II, teristimewa pasca-ambruknya gedung World Trade Center di New York diikuti instruksi Bush menginvansi Timur Tengah atas nama “Perang Global Melawan Teorisme (GWOT), ketakutan menjelma instrumen politik dalam kebijakan politik luar negeri AS.

Seperti bunglon, ketakutan sering bertukar tempat dengan kedaruratan. Lalu lahirlah konsep-konsep seperti krisis iklim, krisis kebangsaan, krisis kesehatan, krisis ekonomi, dan seterusnya dan seterusnya.

Tentang ketakutan, ada sebuah kisah menarik, sebagai berikut:

Diceritakan, wabah suatu penyakit sedang berjalan menuju Damaskus dan melewati suatu kafilah di padang gurun.

“Mau ke mana, begitu tergesa-gesa?” tanya kepala kafilah.

“Ke Damaskus. Saya mau merenggut 1.000 nyawa,” jawab wabah.

Sekembalinya dari Damaskus, wabah mendapati kafilah.

Kafilah itu berkata: “Engkau telah merenggut 50.000 nyawa; dan bukan 1.000.”

“Tidak,” kata wabah. “Saya hanya mengambil 1.000 dan yang lainnya mati, disebabkan oleh ketakutan.”

Film Zombi dan Ekstasi Ketakutan

Ilustrasi di atas menemukan relevansinya pada masa pandemi. Dengan bantuan referensial pada film zombi misalnya, kita menemukan bahwa komodifikasi ketakutan membuat rasa takut bukan hanya menjadi problem psikologis dan biologis melainkan juga problem politik.

Itulah mengapa ada orang, yang meskipun takut pada hantu, tetap memaksa dirinya menonton film horor. Ya, karena dalam film, batas antara ketakutan dan kenikmatan menjadi pudar. Ia menjadi apa yang dalam kosa kata psikoanalisa disebut dengan ekstasi ketakutan—ketakutan yang berlebih (surplus of fear) yang akhirnya memaksa seseorang menjadikan ketakutan sebagai bagian dari kenikmatan yang indah.

Seperti kritik Marx, “11 Tesis tentang Feuerbach”, salah satu poinnya tentang kemiskinan filsafat, hari ini, alih-alih membongkar mekanisme terciptanya konsep ketakutan, orang belajar mencari dan menemukan dimensi ketakjuban dan pleasure dari rasa takut.

Dengan menjadikan film zombi sebagai objek asosiatif kajian dan tata kelola pandemi sebagai pendekatan, tulisan ini berargumen bahwa proses menjadi zombi dimulai dengan mengintensifkan presisi distribusi ketakutan dan kedaruratan.

Pertama, masyarakat histeris

Tidak ada histeria individual. Histeria selalu lahir dari pengalaman massa yang bergerombol. Dengan kata lain, selalu ada proses identifikasi secara komunal. Atau mengutip Richard Dawkins dalam God Delusion: bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama. Dalam kosa kata psikoanalisa awal, Sigmund Freud dalam The Future of an Illusion (1927) menyebutnya sebagai “neurosis kolektif”.

Kegilaan kolektif yang kemudian dianggap normal itu mengakibatkan zombi, misalnya, menganggap dirinya sebagai manusia normal bukan karena kesadaran otonom tentang dirinya melainkan karena kesadaran itu muncul melalui proses identifikasinya dengan karakteristik yang sama dari sebuah kelompok.

Ketertundukan total pada proses identifikasi itulah yang membuat zombi menjadi begitu histeris justru karena menemukan ada orang asing dari luar kelompoknya yakni manusia. Sama seperti pada masa ini, semua indra kita diaktifkan untuk mendeteksi siapa yang melanggar prokes, siapa kelompok yang radikal, siapa anggota jaringan teroris, siapa yang komunis, dan seterusnya, dan seterusnya, bukan karena kita mengerti betul apa itu kesehatan, radikalisme, terorisme, dan komunisme, melainkan karena kita diberitahu oleh institusi di luar diri kita tentang bagaimana seharusnya kita memahami semua hal tersebut.

Kedua, logika integrasi

Dalam masyarakat zombi, normal dan abnormal mengalami adaptasi makna secara luar biasa. Karena ketergantungannya pada identifikasi kolektif, zombi menganggap dirinya sebagai makhluk yang normal dalam register kerumunan. Oleh sebab itu, dengan menggunakan keampuhan indranya, mereka mendeteksi manusia lain untuk dijadikan, bukan sebagai korban, melainkan menjadi bagian dari komunitas zombi.

Di situ, ada logika integrasi dengan asumsi bahwa “extra zombi nulla salus“: di luar zombi tidak ada keselamatan.

Melalui sedikit gigitan sebagai ritual peneguhan, seorang manusia resmi menjadi zombi secara biologis. Dengan sedikit ancaman dan distribusi pengetahuan dan kebijakan, dalam sekejap, kita menjelma zombi.

Ketiga, menggunakan logic of war

Dalam masyarakat dan sistem pemerintahan zombi, mobilisasi adalah kata kunci. Urgensitas dan kedaruratan adalah salah satu metodenya.

Masyarakat manusia perlu dibuat berada dalam ketakutan akan kedaruratan permanen sehingga mobilisasi mendapat legitimasi etis dan medis.

Keempat, visi dan misi menjadi zombi

Perlu diingat bahwa tujuan utama zombi sebagai makhluk yang kita anggap sakit itu bukan mencari obat melainkan mencari manusia lain untuk diinfeksi (secara biologis dan ideologis). Seperti poin kedua, obat dan vaksin bukan hal yang terlalu penting. Tujuan utama yakni integrasi masyarakat ke dalam sebuah sistem besar yang dapat dirajai oleh seorang “komandan zombi”.

Dalam konteks pandemi, proses zombinisasi ini penting dianalisis persis ketika tata kelola pandemi bukan lagi dilihat sebagai problem yang menyerang institusi kesehatan dan ekonomi melainkan telah menjadi problem yang menyerang secara langsung spesies manusia pada umumnya. Jadi, targetnya spesies, bukan kelas.

Kelima, masyarakat ahistoris

Konsekuensi menjadi zombi adalah terputusnya hubungan kita dengan sejarah hidup kita sebagai manusia. Itulah mengapa dalam film, zombi dilukiskan sebagai gerombolan makhluk yang tidak lagi memiliki kenangan. Hanya dengan sekali gigitan, manusia menjadi ahistoris. Hanya dengan sedikit sentuhan kedaruratan dan politik ketakutan, sesegera mungkin manusia melupakan arti persahabatan dengan tetangga, saling menyalahkan di antara sesama masyarakat, melupakan makna persekutuan dalam kehidupan gereja, menangguhkan pentingnya dimensi tatap muka dalam proses pendidikan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Hans Hayon