Tawaran Epistemologi Islam Abed Al-Jabiri

Tawaran Epistemologi Islam Abed Al-Jabiri
©Alawan

Persoalan keagamaan yang terjadi di wilayah Timur Islam, terutama wilayah Arab, terlalu mengagungkan tradisi lama (turash) dalam menghadapi modernitas. Sebagai cendekiawan Timur Islam, Al-Jabiri bangkit untuk menemukan formula baru dalam membangkitkan nalar Arab Islam yang beku, kaku, dan bersifat jadul. Formula itu berkenaan dengan epistemologi. Bertujuan untuk merombak nalar berpikir orang-orang Arab Islam.

Abed al-Jabiri lahir pada 27 Desember 1935 M di Figuig, Maroko Tenggara. Ia tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang mendukung Partai Istiqlal (Istiqlal Party), partai yang memperjuangkan kemerdekaan dan kesatuan Maroko. Karena pada saat itu Maroko masih di bawah koloni Prancis dan Spanyol.

Setelah merdeka, Maroko mengenal dua bahasa resmi, Arab dan Prancis. Tradisi bahasa Prancis yang telah dikenal warga Maroko memudahkan para sarjananya mengenal secara familiar warisan pemikiran yang ditorehkan oleh filosof-filosof Prancis.

Tradisi filsafat Prancis yang dikenal dan masuk ke dalam benak para sarjana Maroko berupa pemikiran “pemberontakan” kaum strukturalis, post-strukturalis, maupun postmodernis, yang memang kebanyakan pemikiran tersebut lahir dari rahim Prancis. Bahkan sejumlah buku-buku terjemahan bahasa Arab atas karya-karya kaum poststrukturalis dan post-modernis bermunculan di negara Maroko (Abed al-Jabiri, 2000).

Apresiasi yang diberikan tidak hanya dalam penerjemahan karya-karyanya. Namun juga mengarah pada pengaplikasian metodologisnya, seperti yang dilakukan Al-Jabiri dalam mengkritisi pemikiran Arab.

Abed Al-Jabiri memulai pendidikan dasarnya di Madrasah Hurrah Wathaniyah, sebuah sekolah agama swasta yang didirikan oleh gerakan kemerdekaan pada waktu itu. Pendidikan menengahnya ia tempuh di Casablanca dari 1951 M sampai 1953 M seiring dengan kemerdekaan Maroko. Ia memperoleh Diploma Arabic High School dalam bidang Ilmu Pengetahuan (Science Section).

Pada 1959 M, ia memulai studi filsafat di Universitas Damaskus, Syiria. Namun satu tahun kemudian, ia masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Muhammad al-Khamis, Rabat, Maroko. Di kampus inilah perkenalan al-Jabiri dengan tradisi pemikiran Prancis dimulai.

Kemudian, al-Jabiri mendapatkan gelar Master-nya pada 1967 M dengan tesis yang berjudul “Filsafat Sejarah Ibn Khaldun” (Falsafatut Târîkh inda Ibn Khaldûn) di bawah bimbingan N. Aziz Lahbabi yang juga seorang pemikir Arab Maroko. Di tahun 1970 M, ia menyelesaikan program Ph.D. dengan disertasi yang masih membahas seputar pemikiran Ibn Khaldun, khususnya tentang Fanatisme Arab. Desertasinya berbicara tentang “Fanatisme dan Negara: Elemen-Elemen Teoritik Khaldunian dalam Sejarah Islam” (Al-Ashabiyyah wad Dawlah: Maâlim Nadzariyyah Khaldûiyyah fit Târikhil Islâmî) yang kemudian dibukukan pada tahun 1971 M.

Sebagai aktivis pendidikan, al-Jabiri banyak bergerak di bidang pendidikan. Ia telah mengajar filsafat di Sekolah Menengah dari 1964 M, dan secara aktif terlibat dalam program pendidikan nasional.

Al-Jabiri juga aktif dalam menulis buku-buku, seperti tentang pemikiran Islam, tentang filsafat, isu sosial, teologi, dan lain sebagainya. Di antara karya-karya yang telah dihasilkan antara lain: Naqd al-Aql al-Arabi (A Critique of Arab Reason), Fikr Ibn Khaldun, al-Ashabiyyah wa al-Daulah, Adlwa ala Musykil al-Ta’lim. Juga, Madkhal ila Falsafah al-Ulum, Min Ajl Ru’yah Taqaddumiyyah li-ba’dl Musykilatina al-Fikriyyah wa-l Tarbawiyyah, dan Nahnu wa-l Turats: Qira‟ah Mu‟ashirah fi Turatsina al-Falsafi.

Epistemologi Islam Abed Al-Jabiri

Konsep epistemologi yang Al-Jabiri bangun terdapat tiga metodologi epistemologis yang digunakan untuk membongkar Nalar Arab tentang tradisi (turats), yaitu epistemologi bayani, irfani, dan burhani. Apa yang disebut Al-Jabiri dengan aql bayani mencakup disiplin ilmu yang menjadikan ilmu bahasa Arab sebagai tema sentralnya. Seperti balaghah (ilmu keindahan bahasa), nahwu (gramatika bahasa Arab), fiqih dan usul fiqih serta kalam. Masing-masing disiplin ilmu ini terbentuk dari sistem satu kesatuan yang mengikat basis penalarannya.

Bagi al-Jabiri bahasa bukan hanya berfungsi sebagai alat komunikasi atau sarana berpikir saja. Tetapi, bahasa juga dijadikan sebagai satu wadah yang membatasi ruang lingkup pemikiran sebuah sistim bahasa. Maksudnya, bahasa bukan hanya berurusan mengenai kosa kata saja, tetapi juga membahas sistem gramatika dan semantiknya.

Al-Jabiri mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam cara pandang penuturnya terhadap bahasa dunia. Termasuk bagaimana cara menafsirkan dan menguraikannya, yang pada gilirannya juga memengaruhi cara dan metode berpikir mereka (Abed al-Jabiri, 1991)

Dalam seri kedua dari Kritik Nalar Arab, Al-Jabiri mengupas hal-hal yang berkaitan dengan nalar bayani ini. Di antaranya, tidak bertemunya aspek signified (al-ma’na) dan signifier (al-lafzh) dalam leksikon Arab, historisitas bahasa Arab, (artinya tidak mengikuti perkembangan sosial dan sejarah), dan juga pendasaran sebuah “asal” yang memungkinkan untuk dijadikan acuan dalam mengukur validitas persoalan-persoalan yang muncul kemudian.

Dari sinilah al-Jabiri menemukan konsep-konsep seperti tasybih (emulasi) dan qiyas (analogi) yang lazim dipakai dalam menyusun bentuk-bentuk kata dan kalimat, termasuk keindahan bahasa dan kedalam makna.

Epistemologi bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang menekankan teks (nash) secara langsung atau tidak langsung, dan dijastifikasi oleh akal kebahasaan yang digali lewat inferensi (Khudori Sholeh, 2013). Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran.

Sedangkan secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu penafsiran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap bersandar pada teks.

Kemudian dalam sasaran keagamaan metode bayani adalah aspek eksoterik (syariat). Dengan demikian sumber pengetahuan bayani adalah teks. Dalam istilah usul fiqh, yang dimaksud nash sebagai sumber pengetahuan bayani adalah Alquran dan Hadis.

Di kalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran Islam yang utama adalah Alquran, Sunah, dan Ijma. Ketentuan ini sesuai dengan agama itu sendiri sebagai wahyu yang berasal dari Allah swt, yang penjabarannya dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Dalam bayani, rasio dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan kecuali disandarkan pada teks itu sendiri.

Pengetahuan irfani merupakan lanjutan dari bayani. Sebutan irfani itu sendiri dipakai untuk menunjukkan satu proses bernalar yang mendasarkan diri pada ilham dan kasyf sebagai sumber pengetahuan (Ahmad Baso, 2015). Serta menjadikan kandungan tradisi-tradisi pra-Islam tersebut sebagai “hakikat”, sebagai kandungan “esoteris” (bathin), dan dari yang diungkapkan oleh teks-teks agama secara lahiri (zhahir) dengan tersingkapnya realitas oleh Tuhan (Abed al-Jabiri, 1991).

Karena itu, pengetahuan tentang irfani tidak diperoleh berdasarkan analisis teks tetapi dengan hati nurani. Di mana dengan kesucian hati diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepada-nya. Dari situ kemudian dikonsepsikan atau dimasukan dalam pikiran sebelum dikemukakan kepada orang lain. Secara metodologis, pengetahuan ruhani diperoleh melalui tiga tahapan, yaitu persiapan, penerimaan, dan pengungkapan, baik secara lukisan maupun tulisan.

Tawaran nalar burhani yang dikemukakan oleh al-Jabiri adalah untuk melengkapi kekurangan epistemologi yang ada dalam kedua nalar sebelumnya, yaitu bayani dan irfani. Dalam pengamatan Al-Jabiri, burhani ini merupakan jalan keluar dari pandangan irasional tersebut. Itu berarti, dengan mengamati hal demikian, kita bisa melihat sejauh mana kalangan umat Islam mengapresiasi tradisi filsafat Aristoteles (Ahmad Baso, 2015).

Tetapi, sekali lagi mengenai perkembangan nalar burhani di wilayah Timur dunia Islam tidak menarik perhatian Al-Jabiri. Terutama sejak priode Al-Farabi dan Ibn Sina yang orientasinya lebih didominasi persoalan-persoalan ilmu kalam (dalam arti dibatasi oleh ruang lingkup pemikiran bayani). Sehingga pemecahan yang ditawarkannya berasal dari tradisi irfani yang membenarkan penyatuan agama dan filsafat dan pengakuan terhadap ajaran emanasi (al-faid).

Karena itu, epistemologi burhani berbeda dengan epistemologi bayani dan irfani yang masih berkaitan dengan teks suci. Burhani sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks, juga tidak pada pengalaman. Burhani menyandarkan diri kepada kekuatan rasio. Akal yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Bahkan dalil-dalil agama hanya bisa diterima sepanjang ia sesuai dengan logika rasional.

Bagi Al-Jabiri, ada dua tipologi nalar dalam epistemologi burhani. Yakni, nalar pembentuk atau aktif (al-aql al-mukawwin) dan akal terbentuk atau dominan (al-aql al-mukawwam). Nalar aktif merupakan naluri manusia yang dapat menarik asas-asas umum yang berdasarkan pemahaman terhadap hubungan segala sesuatu dan bersifat universal. Sedangkan nalar dominan adalah sejumlah kaidah yang dijadikan pegangan dalam berargumentasi yang sifatnya tidak universal.

Namun, Al-Jabiri menjelaskan keduanya itu saling berkaitan satu dengan yang lain. Sehingga akal universal bersifat universal ketika berhubungan dengan suatu budaya tertentu atau dengan kebudayaan yang menghasilkannya (Zalpurlhan, 2014).

Jadi, sumber pengetahuan burhani adalah rasio, bukan teks atau intuisi. Rasio inilah dengan dalil-dalil logika memberikan penilaian dan keputusan terhadap informasi-informasi yang masuk lewat panca indera, yang dikenal istilah tasawwur dan tasdiq.

Perbandingan ketiga epistemologi ini, seperti dijelaskan al-Jabiri, bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogis non-fisik (furu) kepada yang asal. Irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan rohani kepada Tuhan dengan penyatuan universal. Sedangkan burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ketiga metodologi tersebut tidak dapat dipisahkan karena ada keterkaitan satu dengan yang lain.

Baca juga:
Raha Bistara