Teach out on Palestine: Waktunya Universitas Menunjukkan Dukungan

Teach out on Palestine: Waktunya Universitas Menunjukkan Dukungan
©Inside Higher Ed

Pada 20 Oktober 2023, “Teach out on Palestine” diadakan di Campus UFO dari Ghent University, Belgia sebagai tanggapan atas seruan serikat pekerja Palestina untuk melakukan pemogokan global. Kelas dan pekerjaan diliburkan pada hari itu, dan pemberitahuan pembatalan diberikan 1-2 hari sebelumnya.

Diorganisir oleh individu-individu dari Department of Conflict and Development Studies, lebih dari 100 orang menghadiri acara tersebut, di antaranya adalah para dosen dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dan kewarganegaraan. Dibagi menjadi enam sesi, acara ini bertujuan untuk memberikan wawasan sejarah dan politik mengenai penjajahan Palestina kepada para mahasiswa dan staf.

Kegiatan ini bisa dibilang mirip dengan metode ke-50 dalam buku 198 Nonviolent Methods karya Gene Sharp, yaitu teach-in, di mana “sudut pandang diwakili oleh para pembicara dan peserta yang hadir, dan para pembicara bisa jadi merupakan spesialis tingkat tinggi dalam bidang ini atau dianggap mampu memberikan, tidak hanya presentasi yang mumpuni tentang sikap mereka sendiri terhadap masalah ini, namun juga informasi faktual dan latar belakang yang penting yang relevan dengan masalah ini.”

Metode ini juga memiliki tujuan untuk memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mendengarkan perspektif yang berbeda dan mendapatkan pengetahuan yang relevan sehingga dapat diberdayakan untuk membentuk pikiran mereka.

Sesi Diskusi

Acara ini dibuka oleh Sami Zemni, Kepala Department of Conflict and Development Studies, dengan kata pengantarnya. Selanjutnya, Maha Abdallah, seorang pengacara asal Palestina yang saat ini bekerja sebagai asisten peneliti di University of Antwerp, membuka sesi pertama dengan membahas anggapan umum bahwa Palestina hanyalah Tepi Barat dan Gaza.

Istilah settler colonialism pertama kali disebutkan di sini, dan akan diulang berkali-kali selama pengajaran oleh para pembicara lainnya. Menurutnya, penghilangan orang Palestina, terutama identitas kolektif mereka, telah dimulai sejak tahun 1948.

Sigrid Vertommen dari Ghent University membuka sesi kedua dengan mengingatkan bahwa sudah menjadi tugasnya sebagai bagian dari akademisi untuk mengajar dan memberikan konteks pada kesalahan informasi yang mengerikan oleh media.

Berfokus pada aspek historis, ia mencoba melawan narasi umum bahwa konflik ini adalah konflik agama antara Muslim dan Yahudi dengan menekankan bahwa konflik ini adalah tentang tanah dan wilayah di mana tidak semua orang Palestina yang tinggal di sana adalah Muslim. Dukungan umat Kristen di Lebanon terhadap perjuangan Palestina juga menjadi contoh lain bahwa konflik ini lebih dari sekedar agama, namun juga menyangkut hubungan antar kelas dan kesulitan ekonomi.

Baca juga:

Salah satu hal yang menarik dalam sesi ini adalah bahwa seluruh konflik ini juga terkait dengan sejarah dan masalah Eropa. Sentimen anti-Yahudi di Eropa pada masa itu dianggap berkontribusi pada konflik saat ini karena hal tersebut menyebabkan lahirnya gerakan Zionisme.

Gerakan ini menekankan gagasan bahwa pembentukan negara Yahudi di mana orang Yahudi dapat aman dari penganiayaan di Eropa dan di mana pun adalah satu-satunya jawaban. Oleh karena itu, mereka mulai “mengukuhkan identitas mereka dalam aspek teritori” dengan menciptakan industri dan mengambil alih tanah di mana sudah ada orang Palestina dengan sejarah dan budayanya.

Dalam hal kolonialisme pemukim, ia menjelaskannya sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dengan kolonialisme ekstraktif karena poin utama kolonialisme ekstraktif adalah untuk tinggal di daerah tersebut dan menggusur penduduk setempat, “menggantikan” orang-orang Palestina. Kolonialisme semacam ini juga dapat digunakan untuk menjelaskan pengalaman kolonialisme di masa lalu sepanjang sejarah.

Konsep settler colonialism ini juga dapat dikaitkan dengan supremasi kulit putih karena sebagian besar orang di Israel sebenarnya adalah orang Eropa dan bukan orang Timur Tengah, anti-semitisme Eropa yang membawa mereka ke sana. Sebuah pertanyaan juga diajukan tentang mengapa Barat, karena mereka sangat mendukung perjuangan Israel, tidak memberikan tanah kepada orang-orang Yahudi di antara AS dan Kanada atau Prancis dan Jerman jika ide utamanya adalah untuk membuat ruang yang aman bagi orang-orang Yahudi?

Pada sesi ini, ada argumen yang muncul bahwa tidak ada kemungkinan untuk menjadi seorang Zionis dan pro-Palestina pada saat bersamaan, karena keduanya saling bertentangan dan bahwa kita tidak bisa hanya memahami Zionisme sebagai sebuah ide, tetapi juga bagaimana Zionisme menjadi sebuah praktik yang nyata. Zionisme adalah sebuah ideologi politik atau nasionalis yang mengarah pada praktik kolonialisme pemukim.

Terakhir, ia mengingatkan bahwa kita harus kritis terhadap apa yang kita baca karena setiap orang menulis berdasarkan posisinya masing-masing.

Sesi ketiga di acara ini melibatkan Haneen Kinani, seorang aktivis Palestina dan peneliti di Palestine Institute for Public Democracy, yang memberikan pandangannya terhadap argumen yang tersebar luas bahwa kekerasan adalah satu-satunya bahasa yang digunakan oleh rakyat Palestina. Menurutnya, ada gerakan masyarakat sipil Palestina yang pada tahap awal berbentuk komite dan serikat pekerja.

Sayangnya, bantuan donor secara perlahan namun pasti membungkam masyarakat karena mereka mulai menyesuaikan diri dengan keamanan Israel dengan mendukung kegiatan Palestina hanya jika mereka tidak aktif secara politik. Ia menyebutkan gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) yang secara aktif melakukan edukasi mengenai apa yang terjadi di Palestina di berbagai ruang sebelum menutup sesinya dengan mendorong para mahasiswa untuk menyuarakan suara mereka karena mereka memiliki kekuatan sendiri di universitas.

Halaman selanjutnya >>>
Naufal Rasendriya Apta Raharema