Teks, Tafsir, dan Pertarungan Kekuasaan

Teks, Tafsir, dan Pertarungan Kekuasaan
Ilustrasi: islamiat.nl

Dalam sejarah, menguasai tafsir teks keagamaan itu berarti menguasai politik. Itu terjadi pada Islam sejak pertama pasca kenabian. Tetapi, di sini saya hendak membaca interpretasi dan kekuasaan tahun 1800-an ketika munculnya fundamentalisme yang memaknai teks secara dzahiri tekstualis.

Ketika kita memaknai tafsir teks sesuai dengan makna literalnya, maka kita akan terjebak pada fundamentalisme puritan. Entah tiba-tiba mewajibkan harus pakai baju yang seperti ini, celana seperti itu, dan banyak. Bahkan, pembongkaran makam ibu nabi dan para pahlawan Islam di Makkah-Madinah serta rencana membongkar makam nabi tahun 1900-an adalah berpusat pada pemaknaan teks-teks nash.

Turki Usmani, sebuah kekhalifaan besar, dihancurkan dari dalam karena faktor pemaknaan teks tersebut yang menganggap Turki Usmani sarang sufi dan mazhab.

Dalam studi Islam, ulama tradisionalis, dalam membuat sebuah tafsir atas nash (baik Alquran maupun Hadis), ada tahap-tahap tafsir yang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah pemaknaan. Dalam kitab al-Mustashfa, Imam al-Ghazali menyatakan:

Syarat utama untuk melakukan ijtihad adalah menguasai sumber-sumber pengambilan hukum syariat… Untuk itu, dia harus menguasai 8 macam ilmu, yaitu Alquran, as sunah (hadis), al ijma’, aqal, dan qiyas, ushul fiqih, lughah, dan nahwu, nasikh mansukh dan mustholah hadits.

Banyak banget. Kita belajar ilmu hadis dan mustholah hadis aja seumur hidup belum tentu selesai. Berbeda keadaan ketika kita menafsirkan teks ayat menurut literalnya secara dzohiri apa adanya teks, kita akan bingung.

Misal, dalam Surat Thaha ayat 5, ada teks ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ, Allah bersemayam di atas Arsy. Bersemayam itu apa? kayak makhluk aja, di atas? Apa Allah terbatas dan lebih kecil dari ciptaannya? Kalau di atas, berarti sedang tidak ada di bawah dong?

Kita akan lebih mumet dan pusing lagi ketika ada ayat ﻋَﺮْﺷُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ, Arsy Allah ada di atas air, dalam surat Hud ayat 7. Saya yakin, Anda akan pusing, lebih-lebih ketika Anda seorang ahli filsafat, pasti protes. Anda akan semakin pusing ketika membaca surat al Qoshosh ayat 88, bahwa segala sesuatu akan hancur kecuali wajahNya ﻛُﻞُّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺟْﻬَﻪُ .

WajahNya? Emang Allah punya wajah? Lha, kalau cuma tinggal wajah, terus tangan ikut hancur? Inilah bahaya membaca Alquran tanpa dipandu oleh guru.

Sampai di sini, Anda harus belajar Lughoh, bahasa, karena ayat di atas terkait dengan majaz, balaghoh, seperti yang dikatakan Imam Ghazali di atas. Apalagi ketika Anda membaca ayat hukum secara literal, tekstualis dan tanpa guru, Anda akan keras, mudah mengharamkan, mengkafirkan.

Kalau pembacaan secara literal ini dianut banyak orang, maka akan menjadi ideologi bahkan gerakan politik; akan mudah menyebut pemerintahan model ini kafir, pemerintahan model itu thogut, demokrasi kafir, dan banyak lagi.

Dari pemaknaan teks ini, selanjutnya akan terjadi perebutan kekuasaan dalam ekonomi, politik, dan budaya. Semoga Allah memberikan jalan keluar dari kemelut politik yang ada di Afghanistan lewat Indonesia.

Kalau zaman dulu sejak masa khalifah Abu Bakar sampai tahun 1800-an, model penafsiran tekstual dzohiri ini nggak begitu marak. Pasca itu sampai sekarang, gaduh nggak selesai-selesai.

Kalau kita mau meneliti, 80% studi islamologi di internet itu bercorak literalis dzohiri, menafsirkan teks cuma dalam bingkai sunnah dan bid’ah.

Contoh lagi dalam ayat at Taubah ayat 60:

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺎﺕُ ﻟِﻠْﻔُﻘَﺮَﺍﺀِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴﻦِ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻠِﻴﻦَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆَﻟَّﻔَﺔِ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟﺮِّﻗَﺎﺏِ ﻭَﺍﻟْﻐَﺎﺭِﻣِﻴﻦَ ﻭَﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﺑْﻦِ ﺍﻟﺴَّﺒِﻴﻞِ ۖ ﻓَﺮِﻳﻀَﺔً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺣَﻜِﻴﻢٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dalam bukunya Muhammad Husain Haekal disebutkan bahwa ada pemuka-pemuka Arab yang masuk Islam, di antaranya Abu Sufyan, Aqra’ bin Habis, Abbas bin Mirdas, Safwan bin Umayyah, Uyainah bin Hisn.

Dalam tafsir ayat di atas, seorang muallaf itu dapat bagian zakat. Makanya nabi Muhammad memberi mereka 100 ekor unta per orang.

Zaman Abu Bakar pun demikian. Ketika Umar bin Khattab jadi khalifah, orang-orang ini datang lagi minta zakat. Umar merobek surat yang mereka bawa dengan mengatakan, “Allah sudah memperkuat Islam dan tidak memerlukan kalian.” Umar menolak memberikan zakat pada mereka.

Apakah Umar tidak taat nabi? Apakah Umar melecehkan ayat at Taubah di atas? Jawabannya ada di rajin ngaji dan tanya ulama. Jangan dari internet, kemudian langsung menyimpulkan sendiri.

Apakah khilafah itu bertentangan dengan nasionalisme? Kalau bertentangan, kenapa Badzan, gubernur Yaman yang masuk Islam tetap tunduk pada kekaisaran Persia dan tidak tunduk pada pemerintahan Madinah? Kenapa raja Najasyi (Negus) tetap independen dari Madinah meski masuk Islam?

Itulah kelenturan hukum Islam zaman nabi dan sahabat serta pengikut mereka zaman tabi’in. Nggak kaku karena mereka menolak tekstualis dzohiri.

Tulisan ini akan saya tutup dengan an Nahl 43:

ﻓَﺎﺳْﺄَﻟُﻮﺍ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

Bertanyalah pada ahlu dzikr (ulama) jika kamu tidak mengetahui.

___________________

Artikel Terkait:

    Aly Mahmudi

    Alumnus Filsafat UIN Yogyakarta
    Aly Mahmudi

    Latest posts by Aly Mahmudi (see all)