Telos: Kenduri Ekonomi Anarki dan Liberal

Telos: Kenduri Ekonomi Anarki dan Liberal
©Modern Times Review

Pada dasarnya, masing-masing hal dan materi memiliki telos atau cita-cita, tujuan dan tempat berlabuh. Begitu pun ekonomi, ia mempunyai harapan, dambaan ataupun tujuan akhir yang diperjuangkan.

Anarkisme, baik ideologi dan ekonominya sama-sama bersikap kritis terhadap negara dalam derajat yang berbeda.

Tidak ada negara sedemokratis apa pun, bahkan negara paling merah sekalipun, yang bisa memberikan apa yang benar-benar diinginkan rakyat, seperti kebebasan mengorganisasikan diri dan menangani urusan mereka sendiri dari bawah ke atas, tanpa campur tangan atau kekerasan dari atas. (Bakunin)

Kekayaan dan kekuasaan dianggap sebagai dua bagian yang tak terpisahkan dalam proses perkembangannya. Akhirnya, tujuan peningkatan kekayaan dan kekuasaan adalah meningkatkan kekuatan.

Konsep rasional dalam manusia ekonomi berfokus pada kegiatan ekonomi sebagai aktivitas yang “masuk akal” untuk memperoleh eudaimonia (kesejahteraan), dan juga kekuatan. Paham ini merupakan bagian dari teleologis yang menegaskan bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah benar-benar tentang kebahagiaan (eudaimonia). Sedang kelebihannya disebut sebagai hedon dan sindrom ekonomi telesis. Suka-suka saja, bebas memilih.

Manusia juga sebagai makhluk ekonomi (homo economicus) yang memiliki arti bahwa manusia menilai dan memilih sesuatu hanya berdasarkan pertimbangan pribadi (individualis).

Sejak kelahirannya yang diramaikan dengan sistem barter, ekonomi terus berkembang, baik sistem, ideologi ataupun perangkatnya. Rasionalitas barter terpenuhi pada zamannya. Begitu pun dalam menciptakan uang, ia adalah rasionalitas ukuran pertukaran yang adil.

Eksistensi uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada cara barter. Barter itu lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern.

Kekacauan barter bisa terjadi karena ia membutuhkan orang yang memiliki keinginan sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai-nilai (harga). Barter tidak rasional lagi.

Baca juga:

Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan. Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktivitas dan kemakmuran.

Filsuf Yunani, Aristoteles sudah sejak dulu mencari prinsip yang memungkinkan untuk menyamakan apa yang tampaknya tidak setara dan tidak dapat dibandingkan. Aristoteles berusaha menjadi manusia ekonomi yang rasional.

Setelah uang, hal selanjutnya adalah pasar yang tak kalah pentingnya dalam sebuah manusia ekonomi yang rasional. Mekanisme pasar merupakan salah satu sistem ekonomi yang dapat melestarikan kebebasan individual dalam masyarakat. Hanya di pasarlah terjadi rasionalitas manusia ekonomi yang paling bebas.

Dalam ekonomi pasar, konsep kebebasan bisa jadi dianggap sebagai sebuah anarki dalam arti yang positif. Maksudnya, pola perilaku ekonomi pasar senantiasa dikaitkan dengan situasi di mana tidak boleh ada mekanisme yang menciptakan keputusan-keputusan sentral yang otoritatif dan memaksa.

Teori-teori ekonomi pasar pada dasarnya lebih memusatkan perhatiannya pada soal bagaimana mencapai kemakmuran melalui proses akumulasi kapital. Dan itu rasional! Termasuk juga sebagai ciri khas rasionalitas ekonomi pasar yang dijalankan oleh manusia ekonomi, seperti pada sistem monarki, oligarki, dan poliarki yang khas dengan keputusan-keputusan itu bersifat sentral.

Meski demikian, keputusan sentral itu bukan berarti tidak ada keteraturan atau rasionalitas. Mereka juga bebas dengan versi rasionalitas masing-masing. Yang penting, mereka tetap berpedoman mendapat sisi kosong untuk bergerak maju. Tak perlu ngotot membela versi rasionalitas manusia ekonomi masing-masing.

Anti-statisme atau anarkisme tidaklah selalu bernilai negatif. Pada tingkat tertentu justru menampakkan rasionalitas sebagai manusia ekonomi. Mereka mengimbangi adanya hal yang tidak rasional, yaitu melawan koordinasi dan pengelolaan dengan aturan birokrasi mencekik dan berbelit ataupun pihak superior dalam wilayah ekonomi, baik pada ranah publik maupun privat.

Mempermasalahkan kebutuhan akan negara dan menyatakan hak moral individu yang memutuskan bagi mereka sendiri adalah rasionalitas. Bagi mereka, masyarakat bisa dan sudah seharusnya pula eksis tanpa harus terdapat aturan-aturan yang mengikatnya dengan memperluas ruang privat untuk membangun ruang publik.

Sedangkan yang kurang rasional adalah anarko kapitalisme (anarkisme pasar bebas, anarkisme pasar, anarkisme properti swasta) yang menganjurkan penghapusan total negara dalam mendukung kedaulatan individu dalam pasar bebas.

Satu hal yang cukup unik dalam anarko-kapitalis, di mana penegakan hukum, pengadilan, layanan jasa keamanan swasta daripada terpusat melalui perpajakan wajib yang mengikat dan memberatkan. Dengan demikian, kegiatan pribadi dan ekonomi diatur oleh organisasi penyelesaian sengketa berbasis korban dalam gugatan serta hukum kontrak.

Baca juga:

Anarko-kapitalis menghindari undang-undang melalui hukuman dan penyiksaan di bawah monopoli politik. Jelas, ini lawan berat komunisme yang mempersatukan warga dalam negara dan terserap di dalamnya dengan konsentrasi kekayaan dalam negara untuk kesejahteraan publik sebagai sebuah berkah.

Lain lagi urusan berkah negara, di mana liberalisme sering berpendapat bahwa kesejahteraan yang dibangun negara dengan sejumlah otoritas mengikat keras justru akan mendorong ketergantungan, dan itu menghancurkan insentif untuk bekerja.

Agenda utama liberalisasi perdagangan adalah mereduksi hambatan perdagangan (trade barriers), baik untuk barang, jasa, hak milik intelektual maupun investasi.

Pajak yang sering dipertanyakan oleh liberal dan anarki, menurut demokrasi dan sosialisme, merupakan sarana untuk mendekatkan manusia yang satu dengan manusia yang lain dalam bentuk kewajiban berbagi. Ini merupakan sebuah rasionalitas aneh dalam konsep telos (kebahagiaan) bagi manusia ekonomi.

Demokrasi dan sosialisme mempunyai rasionalitas manusia ekonomi bahwa kedudukan manusia sebagai “homo homini socius” diharapkan dapat mengatasi nafsu keserakahan manusia sebagai makhluk “homo homini lupus” dengan kewajiban pajak misalnya. Menurut mereka, konsep pajak pada dasarnya adalah kesediaan untuk berbagi dengan sesama. Inilah yang dikhawatirkan liberalisme tentang ketergantungan dan malas kerja.

Hal lain yang dikhawatirkan liberal dan anarki adalah rasionalitas kesediaan untuk berbagi antara manusia yang satu dengan manusia yang berbeda-beda tanpa parameter yang jelas. Rasionalitas manusia ekonomi yang aneh jika pajak dijadikan sarana redistribusi kekayaan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.

Mari lebih dalam lagi, ketika anarkis kolektif atau anarko-sindikalis meyakini bahwa negara sebaiknya dibubarkan, karena ujung-ujungnya hanya menindas warganya melalui aturan, pajak, dan perangkat keamanan seperti polisi dan tentara. Rasionalitas manusia ekonomi bagi mereka adalah negara sebaiknya digantikan komunitas-komunitas bebas yang terdiri dari individu-individu yang saling bantu.

Untuk mendukung rasionalitas manusia ekonomi, bagi mereka, adalah adanya hukum moral agar tercipta manusia ekonomi saling yang bisa bekerjasama. Bukan sebaliknya, hukum formal yang membumihanguskan.

Sedikit berbeda, kaum anarkis individual tidak menolak negara. Pandangan rasionalitas manusia ekonomi bagi mereka cukup unik. Menginginkan negara agar tidak banyak ikut campur dalam urusan pribadi, dan sebaiknya lebih menyerahkan urusan perekonomian dan pencapaian kesejahteraan kepada swasta.

Perekonomian yang diurus individu atau swasta akan lebih efisien daripada diurus negara. Begitulah pandangan rasionalitas manusia ekonomi bagi anarkis individual.

Dalam pandangan kaum libertarian klasik, negara tak ubahnya penjaga malam yang dibatasi fungsinya untuk melindungi semua warga dari kekerasan dan pencurian atas hak-hak mereka. Robert Nozick dalam buku Anarchy, State, and Utopia adalah salah satu yang menyetujui perlunya negara untuk melindungi individu dalam masyarakat.

Melihat kenyataan-kenyataan tentang rasionalitas manusia ekonomi di atas, sangatlah bijak untuk membuat kenduri antara liberal dan anarki guna meyiapkan rasionalitas manusia ekonomi yang benar-benar menikmati telos dan eudaimonia ala Aristoteles.

    Yudho Sasongko
    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)