Tempat Pembuangan: Mengenang Pulau Buru dan Para Tapol

Tempat Pembuangan: Mengenang Pulau Buru dan Para Tapol
©Bukalapak

Ketika orang membicarakan Pulau Buru, sebuah pulau kecil yang secara geografis terletak di wilayah Provinsi Maluku yang dalam ingatan sejarah dikenal sebagai tempat pembuangan untuk pengasingan para tahanan politik (tapol) di zaman Orde Baru (Orba) pimpinan seorang Soeharto.

Pembuangan tapol ke Pulau Buru dengan alasan merupakan bentuk pengasingan diri mereka ke daerah-daerah terpencil pada saat itu, daerah-daerah yang belum ramai – belum dijamah masyarakat luas, daerah-daerah yang masih menjadi hutan, daerah-daerah yang jauh dari Jakarta dan Pulau Jawa sebagai pusat Negara Indonesia.

Pembuangan para tapol dilakukan pasca terjadinya peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 atau lebih dikenal dengan G30S-PKI dengan pembantaian tujuh orang jenderal yang selanjutnya disinyalir PKI adalah pelakunya. Sebab para tapol ini dianggap sebagai anggota PKI  dan yang mempunyai hubungan dengan PKI.

Pembuagan juga dilakukan agar mengasingkan mereka para tapol dari masyarakat dan lingkungan sekitar yang sudah pancasilais, karena asumsi pemerintah terhadap mereka adalah mereka itu apancasila. Mereka dibuang ini tanpa menjalani proses pengadilan didakwa terlibat dalam peristiwa memilukan itu.

Buku ini mengisahkan perjalanan (memoar) penulis, Sri Djoko Moeljono dan para kawan-kawan tapol yang lain. Moeljono merupakan satu dari sekian ribu tapol yang pernah dibuang ke Pulau Buru yang tak banyak kisah-kisah mereka ditulis – sebab hanya ada beberapa buku tentang perjalanan pembuangan Pulau Buru yang bisa kita baca. Buku ini salah satunya.

Penulis menceritakannya dengan sangat detail dan begitu lengkap setiap rentetan peristiwa yang mereka lalui lengkap dengan beberapa dokumentasi seperti daftar nama-nama tapol, daftar warga tapol tiap unit dan barak – setiap peristiwa pada masa pembuangan selalu sarat emosi, penuh rasa haru, dan semacamnya pada apa yang penulis bagikan dalam karyanya ini.

Setiap kronologis kejadian yang terjadi selama masa pengasingan menjadi catatan penulis tanpa ada yang terlewatkan. Buku ini ditulis dengan alur kronologis dari mulai keberangkatan hingga kepulangan dari Pulau Buru.

Terkait bahwa kenapa orang-orang ini – para tapol diasingkan ke tempat pembuangan Pulau Buru terlihat pada halaman (113) bahwa nasib ribuan tapol yang diasingkan, dibuang, dijauhkan dari masyarakat dengan alasan agar tidak meracuni masyarakat sekitarnya yang Pancasilais. Alasan-alasan yang dikemukakan bisa saja bermacam-macam, tetapi tujuannya adalah menghabiskan orang-orang komunis sampai ke akar-akarnya.

Para tapol ini awalnya adalah para tahanan di penjara Nusakambangan sebelum akhirnya dibuang ke Pulau Buru dengan waktu yang sangat lama, berpuluh-puluh tahun lamanya. Penulis dan teman-teman tapolnya yang lain merupakan tapol baru yang mendarat di Pulau Buru tepat pada Kamis, 26 Agustus 1971 di Teluk Kayeli.

Pembuangan para tapol di Pulau Buru terjadi sebanyak 4 gelombang. Rombongan pertama tahun 1969, diikuti rombongan kedua tahun 1970, rombongan ketiga tahun 1971, dan rombongan terakhir terjadi tahun 1975.

Pulau Buru jelas bukan sekadar noktah di atas peta Indonesia dan salah satu dari 17.504 gugusan pulau di Inndonesia. Rezim Orba telah menjadikan Pulau Buru sebagai tempat pembuangan (kamp) para tahanan politik yang harus menjalani kerja paksa selama bertahun-tahun. Pulau Buru tak bedanya seperti Gulag di Siberia (Uni Sovyet), Ceylon (Sri Lanka) dan di Digul (Papua) pada zaman Hindia Belanda.

Suasana Perbudakan

Dalam masa pembuangan para tapol ke tanah Buru – Pulau Buru, selama itu pula mereka akan bekerja dan terus bekerja layaknya seorang budak. Ada suasana perbudakan yang terjadi selama itu (sampai masa pembuangan selesai).

Suasana yang terjadi adalah kerja paksa – walaupun itu bukan keahlian dari si tapol. Para tapol diarahkan untuk kerja apa saja yang kebanyakan berbau kerja fisik, di antaranya bercocok tanam, membangun rumah atau dengan sebuatan “barak” dengan dikawal ketat oleh para Tonwal (Peleton Pengawal) yang mereka adalah tentara/ABRI yang ditugaskan.

Para tapol bekerja terus-menerus tanpa istirahat (kecuali malam hari) dan tidak ada hari libur. Semua orang harus menjadi petani, tidak ada pengecualian sedikit pun, pokoknya semua orang dipaksa untuk bertani dengan membuka lahan-lahan baru yang masih dipenuhi dengan pohon-pohon besar.

Dan pohon-pohon besar itu harus ditebang secara manual dengan tenaga sendiri. Tidak ada mesin penebang kayu. Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan membuat ladang untuk bercocok tanam.

Pada halaman (30) tertulis bahwa tanah bagi transmigran (adalah tapol) sudah dibuka dan tinggal mengolahnya, sedang kami harus babat hutan dari nol. Kami menjalani kerja paksa sudah terasa sejak pertama bangun pagi di hari kedua berada di Buru, kami satu unit 500 tapol harus bekerja dengan pengecualian yang sakit dan tidak mampu.

Sebagian besar mencabut alang-alang dengan tangan telanjang, jongkok memenuhi lapangan yang luasnya sekitar 50 x 50 meter persegi, sementara para serdadu Tonwa dengan senjata terhunus berdiri di belakang punggung kami.

Perlakuan kasar mereka para Tonwal merupakan peringatan bagi mereka para tapol untuk mengingatkan bahwa kalian adalah tapol, makhluk kelas kambing, pekerja paksa, tidak lebih. Kisah para tapol di Buru ini seperti di benua Amerika berabad-abad lalu, saat budak belian kulit hitam dari Afrika didaratkan di benua Harapan Amerika untuk dipekerjakan di kebun-kebun kapas atau di bidang kegiatan lain.

Bukan saja perbudakan dalam bentuk kerja paksa, tetapi ada juga yang lebih dari itu dengan tak segan-segan ada penyiksaan secara kejam yang diterima para tapol sampai separuhnya berujung pada tembak mati. Hal tersebut terjadi apabila para tapol menerima nasib dibuang satu tempat yang namanya Jiku Kecil. Jiku Kecil itu adalah semacam penjara mini. Dalam bahasa daerah, jiku berarti sudut dan tapol yang dibuang ke Jiku Kecil berarti “dipojokkan” atau disisihkan dari yang lain.

Jiku Kecil memang dibuat sedemikian rupa sebagai tempat penyiksaan bahkan eksekusi mati. Di tempat ini puncak dari segala kejahatan dan kebusukan yang ada di seluruh unit Buru bisa ditemukan dalam satu penjara kecil sebagai kerak neraka dengan segala perlakuan nerakanya. Bayangkan saja kalau menembak mati tapol di Jiku Kecil bagai menepuk nyamuk. Jiku Kecil adalah penjara dalam penjara.

Dari Unit ke Unit

Setelah mereka; para tapol mulai menginjakkan kaki di tanah sebuah Pulau yang sangat asing bagi mereka karena baru pertama kalinya – jauh pula dari keluarga. Di Pulau Buru. Penulis pada halaman 7 menulis begini:

Setelah sampai di darat setelah melakukan perjalanan dengan kapal laut, dilihatnya tulisan yang menunujukkan kami mendarat di kota Kecamatan Namlea, kota kecil yang kalau tidak salah pernah disebut-sebut oleh seorang penulis Belanda, Beb Vuyk, beberapa puluh tahun lalu. Namlea dan Buru dilukiskan sebagai sudut dunia tempat perdagangan minyak kayu putih – komoditas utama Buru (yang di belakang hari juga kami geluti).

Dari Namlea para tapol berbaris untuk siap-siap menuju sebuah tempat penampungan yang disebut Transito. Mereka berjalan melewati perkampungan warga, sesekali juga melewati hutan – kemudian jalan yang mereka lalui masih bertanah lapang. Setelah itu para tapol digiring menuju tempat persinggahan terakhir yang akan menjadi tempat tiggal mereka selama di tempat pembuangan, yakni disebut unit.

Selama di unit para tapol dikomandoi oleh Komandan Unit. Dan setiap unit punya komandan masing-masing. Istilah baru: Komandan Unit atau disingkat Dan Unit. Moeljono (penulis) masuk dan ditempatkan pada Unit XVI yang dikomandoi seorang perwira CPM (Corps Polisi Militer) asal Cimahi bernama Doim Indrapradja, seorang perwira berperawakan di bawah standar, berkulit kuning, bersih dan berwajah biasa-biasa saja, tidak ganteng, dan tidak buruk, kalau berjalab terkesan seperti dikejar-kejar orang (tergesa-gesa).

Di unit XVI terdapat 500 tapol, sementara tapol yang yang ditempatkan di unit-unit lain. Di unit para tapol pun dibagi ke tiap-tiap barak. Tiap barak diisi sebayak 50 tapol, jadi ada 10 barak di unit XVI. Dan unit Pak Doim, sapaannya dari para tapol, tanpa embel-embel pangkat atau tambahan ai seperti yang diminta olehnya. Pak Doim pun segera bekerja dan meminta kami memilih kepala barak masing-masing.

Karena ada 10 barak, maka otomatis akan ada 10 kepala barak. Selain kepala barak, Dan Unit juga menunujuk seorang Koordinator Unit atau di desa-desa di Jawa bisa dianalogikan seperti seorang lurah. Hal ini juga terjadi untuk semua unit yang ada di Pulau Buru.

Masa-masa di unit (tempat pembuangan) para tapol makan pun seadanya – yang parahnya apabila stok makanan sudah habis untuk diberikan kepada mereka. Ada yang yang dalam sehari makan hanya satu kali saat kerja mereka lebih banyak. Akhirnya mereka harus mencari cara sendiri, memutar isi kepala bagaimana caranya dapat mendapatkan makanan untuk mengganjal perut dan bertahan hidup.

Bebasnya Tapol

Terlepas dari semua itu dan setelah melewati masa pembuangan di Pulau Buru selama bertahun-tahun lamanya dengan berbagai macam siksaannya. Akhirnya mereka pun dibebaskan. Suatu kebahagiaan karena tak lagi hidup dalam bayang-bayang ketidakbebasan, tidak ada lagi perbudakan, tidak lagi menjadi tapol – tak perlu bekerja keras dan paksa.

Pada tahun 1977 berita tentang pembebasan tapol sudah didengar dan makin jelas kabarnya. Ada yang percaya, adapula yang tidak percaya sama sekali. Berita itu mengalir seperti air yang tanpa hambatan dari berbagai macam sumber. Salah satu sumber beritanya dari Pastoran Namlea. Berita ini awalnya sebuah desas-desus, tapi akirnya berkembang dan menjadi kenyataan yang mengejutkan.

Di tahun sama itu pula di bulan Desember telah keluar daftar nama-nama tapol untuk dipulangkan. Para tapol dipulangkan tiap gelombang dan ini adalah gelombang pertama. Perasaan gembira dan bahagia dirasakan oleh mereka akan hal ini. Di bulan Desember tahun selanjutnya (1978) para tapol mendapat berita akan ada pembebasan gelombang kedua. Dan berita itu pun menjadi kenyataan.

Minggu, 24 Desember 1978 kapal KM Sunan Gunung Jati bergerak menuju lautan bebas, para tapol tinggalkan Buru yang makin lama makin menjauh, sampai akhirnya hilang dari pandangan. Selamat tinggal Pulau Buru beserta pedih dan duka.

Pembebasan para tapol yang lain dilanjutkan pada gelombang-gelombang berikutnya. Tiada lagi perbudakan, penyiksaan, dan kematian dengan tembakan peluru senjata. Dan pada fajar pagi saat bangun, Jumat, 29 Desember 1978 tepat pukul 05.12 (5 hari perjalanan) menjelang tahun baru 1979, kapal sudah berada tepat di teluk Jakarta yang tenang menunggu merapat ke pelabuhan Tanjung Priok.

  • Judul: Pembuangan Pulau Buru
  • Penulis: Djoko Sri Moeljono
  • Penerbit: Ultimus
  • Cetakan: I, Oktober 2017
  • Tebal: x + 262 halaman
  • ISBN: 978-602-8331-64-7
Latest posts by Nardi Maruapey (see all)