Tentang Anak-Anak Muda Muhammadiyah

Tentang Anak-Anak Muda Muhammadiyah
Ahmad Syafii Maarif's Quote

Nalar WargaBelakangan ini saya sering berdiskusi dengan anak-anak muda Muhammadiyah yang berhimpun di Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Kami mendiskusikan berbagai problema, isu-isu mutakhir, guna menyegarkan kembali wacana pemikiran Islam yang dirasa mulai lesu di organisasi berlambang matahari terbit ini.

Dulu, kelahiran JIMM oleh sebagian kalangan warga Muhammadiyah dituduh sebagai komunitas yang tidak sesuai dengan “suara resmi” Muhammadiyah. Keberadaannya dianggap sebagai benalu yang harus disingkirkan.

Mereka menilai, secara teologis JIMM sudah keluar dari sumber otoritatif Islam, yakni al-Qur’an dan hadis. Dan, tentu masih banyak stigma negatif lain yang disematkan kepada JIMM yang anggotanya dari kaum muda terdidik.

Nah, sebagai komunitas yang tidak ada hubungan secara struktural dengan Muhammadiyah—sekalipun personel-personel JIMM aktivis Muhammadiyah—kiprah intelektual JIMM tidak bisa dianggap enteng. Intelektual sekaliber Buya Syafi’i Ma’arif, Moeslim Abdurrahman (almarhum, lahu ’l-fatihah) dan Amin Abdullah, tiada henti-hentinya mendorong anak-anak muda progresif ini untuk terus berkarya, dan melakukan terobosan intelektual.

Anak-anak muda ini terus mendorong agar Muhammadiyah membuka diri terhadap pikiran-pikiran progresif, sehingga tidak menjadi organisasi Islam yang eksklusif-tekstualis. Anehnya, sejauh yang saya lihat, para elite Muhammadiyah belum memberikan ruang kebebasan sepenuhnya untuk berwacana dan mengekpresikan ide-idenya.

Dan, saya kira, karena alasan itulah kaum muda Muhammadiyah lebih memilih ”jalan lain” di luar organisasi, meskipun juga tak berarti terhindar dari benturan-benturan dengan kelompok konservatif yang berada di internal Muhammadiyah.

Sisi lain, kondisi yang tampak adalah kurangnya intensitas pertemuan antara generasi muda dengan generasi tua. Bahkan ada kesan generasi tua merasa sudah begitu senior, bahkan lebih superior dibanding generasi mudanya. Sangat wajar jika sampai hari ini, ketegangan antara kaum tua yang lebih puritan dan kaum muda yang lebih dinamis masih sangat terasa.

Kondisi seperti ini harusnya tak boleh terjadi, sebab masa depan Muhammadiyah tak cukup dibebankan hanya kepada kaum tua. Kaum muda Muhammadiyah harusnya mengambil bagian dan peran yang signifikan bersama-sama dengan kaum tua, dan merumuskan kembali prinsip purifikasi dan dinamisasi Islam dengan berbagai problem dan perkembangan zaman sekarang.

Perkembangan wacana pemikiran Islam yang demikian cepat makin menjelaskan bahwa gaya konservatif tidak lagi memadai untuk merespons masalah aktual yang terus bergulir. Lambatnya kaum konservatif Muhammadiyah merespons masalah-masalah aktual, salah satunya disebabkan oleh adanya monopoli tafsir. Kecenderungan ini merupakan kensekuensi logis dari klaim kebenaran yang menyebabkan sakralisasi terhadap tafsir keagamaan.

Sebagai bagian dari mereka, anak-anak muda Muhammadiyah, kami tetap melakukan terobosan dengan mengangkat gerakan intelektual di tengah arus perubahan politik yang demikian cepat.

Saya kira, anak-anak muda Muhammadiyah perlu mewarnai kembali tradisi progresif-liberal KH Ahmad Dahlan sebagai the founding father Muhammadiyah. Mereka perlu melanjutkan ijtihad kaum modernis pada level yang lebih populis. Saatnya Muhammadiyah memelopori kembali gerakan pembaruan keagamaan dan transformasi sosial di Indonesia.

*Mohammad Shofan

___________________

Artikel Terkait: