Tentang Hujan Panas

Tentang Hujan Panas
Ilustrasi: IST

Annah,
sudah berapa lama aku berdiri, di sini
di samping toko, kembali menunggu, kataku
setengah jam kemudian, matahari nyelinap di genangan air hujan,
itu gerimis sore tak ada yang tahu

mungkin kau juga menunggu, sejam berlalu
kau berlari kecil, dari sudut rumah besar hujan renyai
dagumu yang lancip membuatku lupa, di mana aku berada
siapa yang memanggilmu, yang datang menawarkan duka
cinta yang selama ini kautipu
berlalu-lalu

di bawah payung ungu polos begitu manis
rasanya, tubuhku tak punya tenaga
aku tahu makin banyak bicara makin banyak yang terbuang sia
sia bagiku, walau tak merubah apa apa, Annah selain wajahmu
yang tampak lugu
penuh iba
dengan manja:
“suatu hari jangan kena hujan panas ini lagi,” katamu

Akhir 2016

Angin Kecil di Charleville

waktu itu, zoysia selalu hijau, angin kecil di beranda bergerak pelan, harum tanah wangi tubuhmu di tepi
jendela dengan gordin ungu, tak ada yang ditunggu, tak akan diingat lagi; rumput bunga di sana, saat-saat
kematian menakuti, sementara

camar itu telah pergi, dari keindahan, menukar persembunyian, beberapa saat kemudian tidak sengaja kueja gerak rambutmu, diluar jendela

bergerai di atas padang landai, angin nakal menghentikan pandanganku sementara, bau nyengat vodka membius pejalan di atas zoysia

suara walkman butut kudengar Van Hougan menangis minggu malam, bunyi lengkingan, malai-malai sedap malam

seorang pejalan tenggelam dalam riap hujan, tangisan itu jerit bayi dalam rahim seorang gundik, sendaren melayang-layang terbang malam sejam kemudian, kuamati cahaya remang lostamasta, dunia

adalah tempat paling sunyi dari kuburan, paling sedih dari kematian seorang kizrete, seingatku

menawari sepasang ngengat di ranjang dengan sprei merah licin tapi dari balik gordin serta angin nakal, aku tak bisa menunggu tak kuat kueja tiap helai rambutmu merah jagung dan udara masuk

di sela-sela jendela, di tengah bulan oktober-november, waktu itu zoysia selalu hijau, seluruh tubuhmu seperti buku-buku dungu, berserakan di samping kiri

tempat di mana aku dan kau mabuk bersama

oleh kejernihan katakata, katanya

Akhir 2015

Di Kanal-Kanal Ardennes

akhirnya kautunggu juga
angin yang ngilu, dari semua sudut penjuru
matamu, tak pernah habis berdegup kencang dari sana
kulihat kilau syamantaka-mani berderai pelan
menetes hingga suatu senja merah cakrawala
dari sudut kanal-kanal Ardennes
kudengar Van Houghan kembali menjerit
hari hari biru mendekam seluruh penglihatanku

tak cukup berhenti di situ
ingatanku kembali pada masa lachrymae yang pedih
di tangan leighton dan mimpi sida itu
adakah ia bunga bunga herbers yang meniupkan bayangmu
bayang bayang yyang ditundukkan layung matahari

sore, telah berlalu dan sekian banyak waktu
pada akhirnya kautunggu juga
malam malam putih dan doa magnolia
ketika udara asin dan likat menyerbu
sepanjang jalan charleville, bangku bangku kosong
suara setengah oktaf dari jerit lagu lama masih
kudengar tiap gerak angin yang larut
malam yang curiga, yang selalu buta
di ceruk muara
matamu

Akhir 2015

*Harmany, Pamekasan

___________________

*Klik di sini untuk membaca sajak-sajak lainnya.

    Kontributor