Tentang Usahawan dan Kontribusi Mereka dalam Ekonomi

Tentang Usahawan dan Kontribusi Mereka dalam Ekonomi
©Attitudes4innovation

Lebih dari 50,8 juta individu di antara masyarakat Indonesia adalah usahawan, nyaris 39% dari total angkatan kerja yang bekerja (Sakernas, Februari 2020). Mereka adalah orang-orang tangguh yang berani mengambil risiko kerugian dari aktivitas ekonomi yang mereka lakukan, menanamkan modal dan segala bentuk sumber daya—banyak di antara mereka mempertaruhkan “segala apa dari sedikit yang mereka punya”.

Di antara sekitar 50,8 juta individu tersebut, hampir 24,6 juta adalah usahawan untuk diri mereka sendiri. Skala usaha mereka belum memungkinkan mereka merekrut angkatan kerja lain untuk menjadi buruh/pegawai, tetapi mereka setidaknya tidak menganggur dan membebani masyarakat.

Selebihnya, sekitar 26,3 juta usahawan mempekerjakan total sekitar 80,1 juta angkatan kerja lain: 52,2 juta sebagai buruh/pegawai tetap dan tidak tetap, 10,7 juta sebagai pekerja lepas, dan 17,2 juta sebagai, “sesial-sialnya”, pekerja keluarga.

Jika kita—sebagai masyarakat—memimpikan kemandirian ekonomi (saya lebih suka menyebutnya sebagai “kebebasan ekonomi”), kita bisa mulai dengan mengikis prasangka irasional kita terhadap para usahawan. Mereka, 50,8 juta warga Indonesia, sangat layak mendapat apresiasi lebih besar atas nyali dan kegigihan mereka, atas kemandirian mereka, dan atas kontribusi mereka dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi 80-an juta angkatan kerja yang lebih memilih bekerja sebagai buruh/pegawai, pekerja lepas, dan pekerja keluarga ketimbang mengambil risiko bisnis dan tetap menganggur.

Skala ekonomi para usahawan kita memang masih sangat terbatas, tetapi itu karena memang ekonomi kita terlalu banyak kekangan yang menyulitkan bisnis berkembang. Saat ini, para usahawan kita dibebani dengan lebih banyak risiko kerugian daripada yang seharusnya mereka tanggung, menjadikan bekerja sebagai usahawan makin kehilangan daya tarik dibandingkan sebagai buruh/pegawai yang tidak perlu bertaruh risiko kerugian harta-benda dan mendapat gaji bulanan.

Faktanya, dari tahun ke tahun, selalu lebih banyak orang yang memilih bekerja sebagai buruh/pegawai dibandingkan menjadi usahawan dan status-status pekerjaan yang lain.

Baca juga:

Bagaimanapun, apakah seseorang menjadi usahawan, buruh/pegawai, atau pekerja lepas adalah pilihan yang lahir dari pertimbangan rasional cost vs benefit dalam sebuah analisis risiko. Dan apa pun pilihannya, semua jenis status pekerjaan tersebut bergantung satu sama lain dalam kesatuan ekosistem ekonomi.

Buruh/pegawai dan pekerja lepas berhak atas pendapatan dan taraf kesejahteraan yang sepadan dengan produktivitas yang dihasilkan, sebagaimana juga usahawan berhak atas kebebasan ekonomi yang memampukan mereka membayar upah dan tunjangan buruh/pegawai yang senilai dengan produktivitas pada satu sisi, dan mengambil profit yang sepadan dengan risiko investasi mereka pada sisi yang lain.

Saat ini Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi lapangan pekerjaan, jauh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, karena lonjakan angka pengangguran di kalangan angkatan kerja juga jauh melebihi daya dukung ekosistem ekonomi kita yang sekarang masih penuh kekangan dan telah nyaris luluh lantak dihantam krisis Covid-19. Saya mendukung RUU Cipta Kerja dengan perspektif kebebasan ekonominya untuk menyelesaikan masalah konkret di depan mata ini.

Nanang Sunandar
Latest posts by Nanang Sunandar (see all)