Teori Habitus Pierre Bourdieu dalam Berpolitik di Indonesia

Teori Habitus Pierre Bourdieu dalam Berpolitik di Indonesia
©Powercube

Teori Habitus Pierre Bourdieu dalam Berpolitik di Indonesia

Persaingan politik merupakan konsekuensi logis dari sistem politik demokrasi yang menolak monopoli kekuasaan pada pihak tertentu. Untuk konteks Indonesia, persaingan politik nyata dalam sistem multi partai yang menawarkan variasi cara pandang mengenai dunia sosial.

Cara pandang ini muncul dalam bentuk ideologi, visi, misi, program, dan janji-janji politik. Cara pandang dunia sosial ini pada gilirannya akan menentukan kemenangan politik. Kemenangan politik berkaitan erat dengan sejauh mana partai atau kontestasi politik berhasil merebut hati rakyat melui program kerja yang ditawarkan Firmanzah (2011:16).

Namun, sistem politik demokrasi kerap terjebak dalam “celah demokrasi” yang mengabaikan kemasalahan rakyat karena kaum elite politik terlampau mementingakan diri. Representasi politik yang dibangun doyan menghadirkan para pemimpin yang kontra demokrasi. Di samping itu, masyarakat juga memiliki persepsi yang keliru terhadap politik yang memandangnya hanya sebatas pertarungan memperebutkan kekuasaan dari para elite politk.

Benar banwa, diskusi seputar politik, selalu meruncing pada cita-cita “bertahtanya” tatanan politik, yang berkiblat kepada kepentingan umum. Cita-cita ini bisa terwujud jika politisi yang tampil dipanggung politik sungguh berwawasan kebangsaan. Pertanyaanya yang muncul ke permukaan adalah kira-kira apa yang bisa dibuat supaya panggung politik kita sungguh-sungguh ditaburi oleh politisi yang sungguh berkomitmen terhadap kepentingan umum?

Bertolak dari pertanyaan di atas maka penulis berusaha memberikan jawaban dalam bentuk telaahan filosofis dengan menggunakan pisau teori seorang filsusf berkebangsaan Prancis yaitu Pierre Bourdieu, untuk melihat celah-celah, dalam habitus politik di Indoenisa.

Teori politik Bourdieu merupakan pengembangan dari teori dasarnya adalah habitus, ranah dan modal. Tetapi, fokus penulis di sini adalah pembahasan teori habitus Bourdieu dalam hubunganya dengan praktik politik di ndonesia.

Memahami Teori Habitus Pierre Bourdieu

Bagi Bourdieu habitus adalah suatu jenis sistem disposisi: “kondisi yang terkait dengan sayarat-syarat keberadaan suatu kelas, menghasilkan suatu habitus: Sistem-sistem disposisi yang tahan waktu, dan dapat diwariskan, struktur-struktur yang dibentuk yang dimaksudkan untuk berfunsgsi sebagai struktur-strukrur yang membentuk.

Baca juga:

Artinya sebagai prinsip pengerak dan pengatur praktik-praktik hidup dan represnetasi-representasi, yang dapat disesuaikan dengan tujuan-tujuan tanpa mengendalikan pengaruh, tujuan secara sadar dan penguasa secara sengaja upaya-upaya yang perlu untuk mencapai, secara obyektif diatur dan teratur tanpa harus menjadi buah dari kepatuhan akan aturan-aturan, dan secara kolektif diselaraskan tanpa harus menjadi hasil dari pengaturan sorang dirigen Bourdieu (1980:88-89).

Habitus merupakan hasil keterampilan yang menjadi tindakan praktis (tidak harus disadari), yang kemudian diterjemahkan menjadi suatu kemampuan yang kelihatanya alamiah dan berkembang dalam lingkungan sosial tertentu Bourdieu (1994:9).  Dengan demikian, habitus dasar kepribadian individu.

Pembentukan dan berfungsinya habitus sangat memperhitungkan hasil dari keteraturan perilaku dan modalitas praktiknya mengandalakan pada improvisasi dan bukan pada aturan-aturan. Jadi, ada dua gerak timbal balik, pertama, struktur obeyektif yang dibatinkan; kedua, gerak subyektif (persepsi, pengelompokkan, evaluasi), yang menyikapkan hasil pembatinan yang biasanya berupa nilai-nilai Haryatmoko (2016: 42).

Tekanan pada nilai atau norma mengarisbawahi habitus yang berupa etos, yaitu prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dipraktikan, bentuk moral yang diinteriosir dan tidak mengemukkan dalam kesadaran, namun mengatatur perilaku sehari-hari. Misalnya, sifat orang rajin, ulet, jujur, licik, cerdas, cekatan, murah hati.

Ada bentuk habitus lain, yaitu; hexis badaniah. Dikatakan hexis badaniah bila berhubungan dengan sikap atau posisi khas tubuh, disposisi badan, yang dinteriosasi secara tidak sadar oleh individu sepanjang hidup. Misalnya, berjalan tegak, mudah bergaual, kurang pergaulan dan sebagainya Haryatmoko (2016: 42).

Habitus menjadi struktur interen yang selalu dalam proses restrukturisasi. Jadi praktik-prakitik dan representasi kita tidak sepenuhnya deterministik (pilihan yang ditentukan habitus). Praktik-praktik kehidupan tidak hanya bentuk pelaksanaan norma-norma yang sudah tersurat, namun menterjemahkan makna permainan yang sudah diperoleh melalui habitus, yaitu mana praktis.

Dengan tidak perlu lagi mecari maknanya atau menyadarinya, habitus mampu mengerakkan, bertindak dan mengorentasikan sesuai dengan posisi yang ditempati pelaku dalam lingkup sosial, menurut logika arena pertarungan, yang menguasai dan dikuasi.

Hubungan teori habitus Pierre Bourdieu dan praktik politik di Indonesia

Bourdieu mengartikan habitus, sebagai sistem disposisi yang berlansug lama dan belansung lama dan berubah-ubah serta berperan sebagai basis generatif bagi praktik-praktik yang terstrukutur dan terpadu secara obeyktif. Habitus terbentuk dalam suatu ranah melalaui proses internalisasi yang sangat panjang. Habitus seolah-olah menjadi bagian dari yang kodrati dalam diri seorang yang sebenarnya dibentuk melalui pola pengasuhan dan pembelajaran.

Halaman selanjutnya >>>