Teori Konspirasi sebagai Wabah Baru

Teori Konspirasi sebagai Wabah Baru
©LinkedIn

Orang-orang begitu cenderung pada teori konspirasi sering kali bukan karena mereka tidak mampu menemukan kebenaran, melainkan karena ketidakmampuan mereka sendiri dalam menerima kebenaran.

Sastrawan Peru, Mario Vargas Llosa, sempat dikecam oleh otoritas Cina karena klaimnya yang mengatakan bahwa penyebaran Covid-19 adalah konsekuensi dari ketidakdemokratisan sistem pemerintahan Cina (Sindonews, 17 Maret 2020).

Sayangnya, sekalipun terkesan mengada-ada, peraih nobel sastra tersebut bukanlah satu-satunya orang yang mengklaim demikian. Klaim yang sama juga diutarakan oleh Filsuf Slovenia, Slavoj Zizek, dalam karya terbarunya yang berjudul Pandemic.

Lalu, mengapa orang-orang seperti Mario Vargas Llosa dan Slavoj Zizek menghubungkan penyebaran mikro parasit dengan sistem pemerintahan Cina? Jawabannya adalah kasus pembungkaman dokter Li Wen Liang, orang pertama yang mengidentifikasi keberadaan Covid-19.

Kasus dokter Li secara gamblang memberitahu kita bahwa sistem pemerintahan yang tidak menghargai kebebasan berbicara sewaktu-waktu dapat menimbulkan malapetaka bagi semua orang. Ini tidak berarti pula bahwa sistem pemerintahan demokratis lebih baik daripada apa yang dipraktikkan di Cina.

Jika sistem pemerintahan Cina dapat menghalangi terungkapnya kebenaran, maka sistem pemerintahan demokratis, yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berbicara, akan menjadi lahan subur bagi kebohongan. Itulah mengapa, meminjam penjelasan Zizek, “konspirasi pandemi” menjadi obrolan sehari-hari dalam masyakarat demokratis.

Alasan mengapa orang-orang begitu cenderung pada teori konspirasi sering kali bukan karena mereka tidak mampu menemukan kebenaran, melainkan karena ketidakmampuan mereka sendiri dalam menerima kebenaran. Teori konspirasi dikonstruksi sedemikian rupa sebagai pelarian dari kebenaran yang begitu menakutkan. Di sinilah letak paradoksnya, bahwa teori konspirasi itu sendiri sejak awal tidak lain adalah konspirasi.

Persoalannya kemudian adalah, jika kita percaya pada teori konspirasi, seberapa besar ongkos yang harus dibayar atas kepercayaan konyol tersebut? Apa pula yang akan diberikan oleh teori konspirasi itu sendiri pada kita? Untuk menanggapi problem ini, penulis teringat dengan film Reservoir Dogs yang disutradari oleh Quantine Tarantino.

Reservoir Dogs, yang juga diperankan oleh Tarantino sendiri, sebenarnya bukanlah film yang bercerita tentang wabah maupun konspirasi. Reservoir Dogs adalah film kriminal yang bercerita tentang aksi perampokan oleh sekelompok penjahat rekrutan seorang bos yang bernama Joe Cabot.

Salah satu adegan dalam film tersebut memperlihatkan bahwa sekelompok penjahat ini adalah orang-orang yang tidak saling kenal. Bukan hanya tidak saling kenal, mereka juga memang tidak seharusnya saling mengenal identitas masing-masing selain dari nama-nama samaran seperti “Mr. Black”, “Mr. Blue”, “Mr. White”, dan seterusnya.

Situasi tidak saling kenal di antara anggota kelompok ini, yang seharusnya menjadi modal besar dalam melakukan aksi kejahatan, ternyata justru berujung tragis. Rencana mereka begitu mudah tercium oleh aparat. Mengapa? Mungkinkah ada aparat yang menyamar dalam kelompok mereka? Jika iya, lantas siapa? Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui pikiran seluruh anggota kelompok.dan membuat mereka saling mencurigai serta membunuh satu sama lain.

Situasi yang dialami kelompok penjahat dalam Reservoir Dogs juga akan kita alami jika kita berlindung di balik teori konspirasi. Memang, dengan mempercayai teori konspirasi, kita tidak perlu mengorbankan apa pun terlebih-lebih jika konspirasi itu dipahami identik dengan kebohongan. Kita juga tidak perlu menaati beragam aturan yang sangat membosankan.

Namun, anggaplah teori konspirasi benar. Selanjutnya, siapa dalang di balik semua kekacauan ini? Tanpa menjawab pertanyaan ini, teori konspirasi akan kehilangan justifikasinya.

Itulah mengapa, mereka yang berlindung di balik teori konspirasi cenderung akan menciptakan “kambing hitam”. “Kambing hitam” ini bisa saja berupa individu, institusi-institusi tertentu, dan bahkan negara.

Situasi saling mengkambinghitamkan ini, sebagaimana yang terjadi dalam Reservoir Dogs, akan menjadi parasit baru yang tidak kalah berbahayanya ketimbang Covid-19 itu sendiri. Inilah harga yang harus dibayar atas kepercayaan pada konspirasi.

Latest posts by Minrahadi Lubis (see all)