Teori yang Menghina

Teori yang Menghina
Ilustrasi: Kaskus

Sebagian dari kita mungkin menganggap bahwa teori itu adalah sesuatu yang membosankan. Salah satu alasannya karena teori terlalu banyak bercerita.

Cerita kadang menarik dan kadang tidak. Jika kita mendengar suatu cerita, kadang kita tertidur. Apalagi pada saat kita mendengar suatu ceramah, kita lebih cenderung melihat sebuah cerita yang berhubungan dengan kekinian, atau bahkan yang lebih praktis.

Di sinilah letak perbedaan antara praktik dan teori. Teori menguraikan kata-kata yang tak berhubungan dengan kenyataan. Sedangkan praktik memiliki hubungan erat dengan kenyataan. Teori pun ditinggalkan.

Namun, perlu kita ketahui bahwa di dalam dunia politik, teori sangatlah penting. Di saat krisis komunisme berlangsung, masalah ini sangat terasa nyata.

Bersntein, salah seorang marxis, berpendapat bahwa kegagalan politik komunis itu dapat dilihat dengan kurangnya praktik di dalamnya. Sedangkan Rosa Luxemburg, yang juga merupakan seorang marxis (perempuan), lebih mendukung teori. Alasannya sangat sederhana. Teorilah yang jadi landasan praktik. Teorilah yang membuat sebuah ideologi. Dan teori pulalah yang justru jadi fondasi asal mula gerakan kita.

Jika kita mengaitkan hal ini dengan realitas sekarang, kita seperti dibuat-buat untuk membenci sebuah teori. Misalnya, seorang tukang becak yang bahkan tak memiliki banyak teori, penghasilannya sangat kurang dalam sehari. Bahkan, hanya bisa mencukupi dirinya sendiri.

Sangat berbeda dengan ojek online, yang bahkan sudah sangat berkembang pada tahap yang lebih nyaman dan mengalahkan sebuah penghasilan tukang becak yang gaptek (suatu kata populer yang ditujukan buat orang-orang yang belum familar dengan dunia komputer).

Tanpa teori, praktik hanyalah sebuah omong kosong belaka. Ada berapa banyak yang menjadi korban. Tukang becak adalah salah satunya. Pemulung adalah contoh yang paling ekstrem. Sedangkan seorang anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) bahkan memiliki kekayaan yang tak dapat dibandingkan.

DPR mungkin berisikan orang-orang yang berpendidikan tinggi. Mereka tentunya memikul sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Kita memilihnya sebagai seorang penanggung jawab atas daerah kita masing-masing. Namun, bukan berarti jabatan itu boleh disalahgunakan.

Jika yang politik sudah dikobarkan oleh Carl Schmitt, maka kedua politikus Bernstein dan Rosa Luxemburg bertarung di dalam fondasi yang politik itu. Carl Schmitt, mungkin saya sudah jelaskan dalam tulisan sebelumnya (Politik di Kolong Jembatan), merupakan salah seorang tokoh politik yang jenius, mengingatkan kita bahwa dalam struktur negara ada yang menyimpang dan terabaikan. Itu merupakan yang politik.

Misalnya dalam sebuah analogi. Dalam struktur organisasi, kita memiliki berbagai macam organ-organ yang berbentuk divisi-divisi sampai ke tingkat bendahara, sekretaris, hingga ke ketua organisasi. Nah, yang politik terjadi ketika orang-orang yang memiliki jabatan tertinggi itu menyalahgunakan posisi-posisi yang dipegangi. Mengambil keuntungan dari posisi-posisi yang dihasilkannya.

Teori yang menghina adalah teori yang berbau amis dan politis; yang membiarkan praktik terbuang begitu percuma. Jika kita masih seorang mahasiswa, kita kadang dipersulit oleh birokrasi. Birokrasi sengaja melakukan hal itu agar keuntungan tak lari dari mereka sendiri. Bahkan, beasiswa pun sangat jarang dipublikasikan di depan umum.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), politik (dari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara), adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat. Itu antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.

Jadi, politik bukanlah sesuatu yang busuk, melainkan hal yang bijaksana karena berisi kebaikan dalam membuat keputusan untuk negara. Dalam negara, tentunya juga memiliki pembagian kekuasaan agar bisa bekerja.

Namun, kebanyakan dari kita malah terjebak pada tahap kekuasaan. Kekuasaan memang begitu menggoda, sampai-sampai kita lupa bahwa itu adalah tanggung jawab.

Sama halnya dalam kompetisi. Kebanyakan kita berusaha mencari jabatan tertinggi dalam suatu struktur pekerjaan. Alasannya sangat sederhana. Itu adalah masalah ekonomi. Masalah seperti itulah yang patut dihindari. Melupakan tanggung jawab dan lebih mementingkan penghasilan yang berbau keuntungan.

Di sisi lain, kita tak dapat menghindari kalau faktor ekonomi juga merupakan faktor terpenting dalam kehidupan. Namun, itu hanya merupakan salah satu faktor saja. Kadang kecondongan kita lebih terarah kepada faktor tersebut dan melupakan faktor lainnya, yaitu faktor sosial.

Agama dalam sisi lain bahkan bekerja sebaliknya, yaitu mengingatkan kita bahwa selain faktor ekonomi, ada dimensi sosial yang patut kita sadari. Rumah ibadah dibangun bukan hanya dilihat kemegahannya, melainkan bagaimana mengatur umat-umatnya.

Agama kerapkali kita dapati untuk mengingatkan kita bahwa ada faktor terpenting selain hal yang duniawi, yaitu spiritualitas. Faktor ini meramu kedua faktor yang sebelumnya disebutkan: faktor ekonomi dan sosial.

Jika kita mengaitkan judul di atas, pemisahan teori dan praktik bisa berimbas pada faktor ekonomi yang nantinya justru menafikan faktor sosial dari kehidupan kemanusiaan. Sehingga yang terlihat hanyalah faktor duniawi semata.

Sebagai kesimpulan, praktik tanpa teori hanyalah sebatas kehampaan belaka, menghilangkan nilai dari pekerjaan tersebut. Jika semua praktik memiliki nilai teoritis, justru akan menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai dibandingkan dengan yang tanpa teori.

___________________

Artikel Terkait:

    Yepihodov

    A misanthropist writer, an analyst, a translator | Bekerja di UNESCO