Tepuk Tanganlah, Abdullah Hehamahua!

Tepuk Tanganlah, Abdullah Hehamahua!
©Tempo

Konon tepuk tangan muncul sejak abad ke-6 sebelum masehi. Kleisthenes, ahli hukum asal Athena, Yunani yang memulainya.

Hidup makin sumpek saat dengar orang ngomong seenak perutnya. Padahal yang ngomong tidak tahu apa yang diomongi dan tak mau tahu efek sosialnya.

Kalau yang ngomong orang ‘biasa’, dipahamilah. Tapi, kalau yang ngomong pejabat atau pernah jadi pejabat publik, segalanya jadi repot. Orang pasti yakin pejabat punya kapasitas intelektual mumpuni, plus kecerdasan sosial hebat.

Persoalannya bila pejabat yang dicitrakan hebat itu mengeluarkan omongannya ngawur! Efeknya, keyakinan orang pada kapasitas dan kecerdasannya hancur berantakan.

Inil yang terjadi pada Abdullah Hehamahua, mantan petinggi KPK. Dengan enteng, Hehamahua mengatakan orang dilarang tepuk tangan. Alasannya? Karena itu budaya Yahudi. Bah! (Pikiran Rakyat Online, 25 April 2021).

Memang beliau berbicara kepada kader partai politiknya. Tetapi dalam kapasitasnya sebagai mantan pejabat publik yang dihormati, ucapannya ini bisa memberi pengaruh negatif bagi masyarakat.

Tepuk tangan adalah ekspresi kegembiraan. Orang pun bernyanyi sambil bertepuk tangan. Tepuk tangan juga suatu respons positif dan penghormatan terhadap mereka yang berprestasi.

Tepuk tangan sudah menjadi budaya global. Tidak ada yang mempersalahkannya atau mempersoalkan dari mana asalnya. Orang tidak peduli asalnya vaksin Covid, siapa memproduksi vaksin TBC atau cacar air, atau siapa memproduksi Hape karena orang melihat manfaatnya. Tepuk tangan pun begitu. Ia adalah kebajikan!

Dalam dunia ini, kita saling bergantung dan saling memengaruhi. Yang baik dan berguna kita terima, yang buruk dan tidak berguna kita tolak. Ukurannya adalah kebaikan dan kebergunaan. Orang cukup kritis!

Ucapan Hehamahua yang melarang tepuk tangan karena, katanya, itu berasal dari tradisi Yahudi menjadi sesuatu yang aneh. Dia tidak melihat kegunaan atau manfaatnya. Yang dia lihat asalnya. Ini pikiran cupet. Ketinggalan zaman. Ini mentalitas primordialistik yang gagal berpikir jernih. Kecenderungannya melihat ke belakang. Ini obsolete!

Lalu, apakah benar tepuk tangan berasal dari tradisi Yahudi? Yang satu ini pun Hehamahua salah besar. Tepuk tangan tidak berasal dari tradisi Yahudi! Meski demikian ada dalam tradisi Yahudi. Sifatnya pun ambigu! Ia bisa digunakan untuk mengejek. Misalnya dalam Kitab Yehezkiel (25:6), tetapi bisa juga digunakan dalam ritual menyambut kehadiran Allah (Mazmur 47:2).

Baca juga:

Lalu dari mana asalnya tradisi tepuk tangan? Konon tepuk tangan muncul sejak abad ke-6 sebelum masehi. Kleisthenes, ahli hukum asal Athena, Yunani yang memulainya. Tepuk tangan untuk menunjukkan persetujuan terhadap kebijakan, prestasi, dan penghormatan terhadap pemimpinnya. Dari tanah Yunani inilah ia menyebar menjadi komunikasi positif yang diterima secara universal.

Balik lagi ke Hehamahua. Sebagai mantan pejabat publik, sebaiknya Hehamahua berbicara sesuatu yang beliau kuasai, dan terutama, yang bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa. Nasehatilah banyak pejabat kita agar mereka tidak korupsi, dan doronglah masyarakat kita dan bahkan dunia ini agar dalam situasi krisis ini umat manusia mampu membangun solidaritas, persaudaraan, dan cinta.

Salam hormat untuk pak Abdullah Hehamahua!

Albertus Patty
Latest posts by Albertus Patty (see all)