Teror yang Menyasar Civitas Academica

Teror yang Menyasar Civitas Academica
©Telegraph

Menyasar high profile target di lingkungan civitas academica merupakan pilihan yang sangat dipengaruhi oleh kegiatan belajar dan mengajar.

Aksi teror yang terjadi di kawasan Jembatan London (London Bridge) beberapa hari yang lalu, menurutku, sedikit menyimpang dari tren dan modus usikan dari biasanya.

Kali ini, kekuatan civitas academica yang getol mengembangkan dan membangun kesadaran manusia beradab mulai dilirik oleh aksi-aksi teror. Itu guna mendapatkan dan membuat derajat kontraproduktif yang diinginkannya.

Tren teror bukan lagi dalam lingkaran tradisionalis militer-paramiliter ataupun target VIP lainnya. Namun, untuk peristiwa London Bridge Attack, terlihat melebarkan sayapnya menyasar teritorial civitas academica.

Teror yang perlahan namun pasti mulai mengusik lingkaran para pemikir akademis dan lingkungannya. Tersebutlah Jack Merrit, salah satu dari dua orang korban, tewas dengan tusukan belati di tangan Usman Khan, sang teroris yang juga bisa dikatakan sebagai seorang siswa.

Pun begitu, Jack Merrit yang pembelajar atau paling tidak bertindak sebagai pengampu program rehabilitasi tahanan kasus terorisme merupakan gambaran target taktis terorisme yang menyasar civitas academica. Ini tentunya mendapatkan dua keuntungan bagi teroris, yaitu high profile place dan high profile person.

Penyerangan jelas terjadi di lingkungan akademisi yang berupa seminar tentang rehabilitasi tahanan terorisme. Sebuah tempat yang digalang oleh Universitas Cambridge yang dilaksanakan di Fishmongers’ Hall, area ujung utara London Bridge itu.

Lebih detail lagi, usikan terhadap teritorial civitas academica ini terjadi saat mereka bersama para peserta seminar sedang menjalankan program Learning Together.

Program tersebut merupakan upaya rehabilitasi tahanan yang juga diikuti oleh sang penyerang, Usman Khan. Jack Meritt yang dari Universitas Cambridge itu adalah seorang koordinator program Learning Together.

Baca juga:

Dalam kasus ini, Usman Khan telah mengambil dua bagian sekaligus, yaitu sebagai pelajar dan pelanggar. Ini merupakan fenomena menarik yang pertama. Teror yang dilakukan seolah ingin mengatakan: kami tak perlu diajar untuk kembali lurus, kami tak akan pernah lurus.

Pelebaran gaya serang teror ini dimungkinkan akan menjadi tren dan modus baru penyerangan untuk masa-masa yang akan datang.

Fenomena menarik kedua adalah bergesernya pola teror sang pelaku, Usman Khan, yang memang sudah pernah terjerat kasus terorisme sebelumnya. Dia dinyatakan bersalah pada tahun 2012 bersama beberapa orang yang telah merencanakan tindak terorisme dengan sasaran tempat umum di London dan Cardiff.

Pada kasus London Bridge Attack, Usman Khan tidak lagi menggunakan model gaya serang Mumbai Attack seperti yang sudah pernah dia rencanakan dulu. Gaya serang dan teror khas Mumbai Attack mempunyai ciri khas perusakan dan pembunuhan yang masif terhadap target massa heterogen (multiple soft target). Gaya ini merupakan salah satu andalan para teroris lulusan kamp pelatihan di Pakistan.

Anda dapat melihat dengan lumayan detail pola dan gaya serang teroris ini dalam fiksi yang diangkat dari kisah nyata. Yakni, Mumbai Bombing dalam film Hotel Mumbai yang lumayan bagus itu.

Mumbai Attack mengandalkan alat peledak improvisasi yang murah dan mudah didapat. Ataupun kadang-kadang menggunakan komponen umum non-militer. Dipadu perangkat modern, akan lebih sulit untuk dideteksi. Ini khas teknologi India, Pakistan, dan Afghanistan.

Gaya Mumbai Attack tersebut sudah hampir dieksekusi oleh Usman Khan dengan pola pipe bombing atau pola peledakan massal ala Mumbai Attack. Dipadu dengan teknik fire-bombing atau pembakaran lewat peledakan.

Model ini hampir saja diaplikasikan di jalur pipa gas gedung London Stock Exchange, Gedung Perwakilan Rakyat, Gedung Kedutaan Amerika. Serta beberapa gedung yang mewakili figur politik dan agama di Inggris.

Baca juga:

Perubahan pola menjadi individual dari Usman Khan yang menyasar high profile target di lingkungan civitas academica merupakan pilihan yang sangat dipengaruhi oleh kegiatan belajar dan mengajar.

Dirinya dijadikan objek studi kasus dalam sebuah program Learning Together. Tentunya akan membuat beberapa kelonggaran dan fasilitas yang bisa dibilang wah banget bagi tahanan kasus terorisme.

Fasilitas seperti laptop yang diberikan kepadanya memungkinkan dia untuk kembali mengenang kejayaan masa lampau atas kebenaran yang dia yakini. Ini juga makin membuat insting perlawanannya lewat kegemaran kepenulisannya.

Bahkan, Usman Khan sempat menyumbangkan sebuah puisi sebagai ungkapan rasa terima kasih atas laptopnya tersebut. Ia mengatakan: saya tidak dapat mengirim cukup banyak terima kasih kepada seluruh tim “Learning Together” dan semua orang yang terus mendukung komunitas yang luar biasa ini.

Di sinilah terjadi bukaan yang cukup mengundang risiko. Mungkin, dunia akademisi lebih memandang segi kemanfaatan bagi pengembangan kemampuan pribadinya. Namun, di sisi lain, Usman Khan akan makin matang dengan apa yang pernah diyakini sebagai kebenaran saat dia bergelut dengan gaya Mumbai Attack-nya yang dulu itu.

Pola penusukan (stabbing) yang dilakukan pelaku tentunya setelah melewati beberapa pertimbangan dan perimbangan. Mungkin, para analis bisa jadi menganggap ini pola ringan.

Menurutku, ada beberapa pertimbangan yang dilakukan pelaku dalam sebuah sirkumferensi akademisi yang cenderung lebih longgar daripada perimeter militer. Pelaku ingin mengambil publisitas untuk jangka waktu yang lama dengan menyerang teritorial yang justru telah mengajarkan hal baik bagi dirinya.

Yang ikut diserang tentunya program “Learning Together” juga. Dia seolah ingin menyampaikan pesan dengan garang: Anda telah gagal mendidik!

Baca juga:

Untuk menculik para pendidiknya juga tidak mungkin, karena keterbatasan sarana dan gerak. Maka cara termudah adalah dengan pembunuhan dengan alat seadanya di habitatnya sendiri.

Dalam hal ini, dia memilih pola pembunuhan korban terpilih, dan tentunya sang korban adalah high sensitive person. Pola membunuh dengan “target terpilih” tentunya juga untuk memberi efek psikologis yang lain dari biasanya.

Kemungkinan korban penusukan lainnya juga bagian dari program tersebut. Artinya pula, pelaku melukai anggota komunitasnya sendiri (Learning Together) sebagai bentuk kepuasaan psikologisnya.

Perubahan karakter teror Mumbai Attack yang Peshawar Circle banget itu ke bentuk serangan individual di teritorial civitas academica memang seharusnya mulai diwaspadai.

Dalam propaganda konflik tradisional Islam, ada yang disebut dengan istilah taqiyah atau seseorang memperlihatkan berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya dalam beragama. Nah, model dan pola infiltrasi terorisme yang individual dan kontra teori teror Pashawar Circle ini sering memanfaatkan kondisi taqiyah ini.

Artinya, mereka para teroris sudah tidak begitu mementingkan tampilan khas. Namun, mereka lebih disibukkan bagaimana bisa menyusup dan menyesuaikan diri dengan habitat targetnya. Termasuk gaya si Usman Khan di atas.

    Yudho Sasongko

    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)