Terorisme Itu Bisnis

Terorisme Itu Bisnis
©detikNews

“Terorisme itu bisnis,” tulis Fritz Haryadi di akun media sosialnya. Dalam bisnis, katanya, selalu ada buruh yang ditumbalkan untuk kekayaan pelaku di atasnya. Hanya eskalasi pengorbanannya yang beda, karena di sini tumbalnya nyawa.

“Tapi tetap bisnis. Ada uang perekrutan, pembinaan, pelatihan, dari sponsor, donor, investor; yang semuanya di-mark up dan ditilep pada level pengelola, sementara buruhnya cuma didoktrin dengan motivasi pengabdian. Persis guru honorer.”

Gusdurian ini pun menilai alangkah mubazirnya menelaah perwatakan teroris, cara berpikirnya, ideologinya, motivasinya. Sebab tidak jauh beda dengan orang kecil pada umumnya. Semua orang rela berkorban demi mimpinya. Bedanya hanya eskalasi pengorbanan; teroris korban nyawa, sementara orang kecil pada umumnya korban seumur hidup diperbudak.

“Itu ciri orang kecil. Berlawanan dengan ciri orang besar, rela mengorbankan siapa saja demi mimpinya. Antara mangsa dan predator.”

Semua orang kecil, menurutnya, punya potensi jadi teroris. Sehingga tidak relevan memetakan apa-apa yang membuat orang jadi teroris, karena semua orang kecil punya potensi itu.

“Yang wajib dipetakan itu orang besarnya. Mereka yang menumbalkan buruhnya demi uang. Jualan ideologi, jualan mimpi. Negara bersama masyarakat harus memburu orang-orang besar ini, dan bantai.”

Jadi, kalau kita cuma melawan ideologinya, melawan mimpinya, ujar Fritz, itu malah sama saja ngasih makan mereka. Sebab perlawanan itu cuma menjadi bola umpan yang bisa diolah jadi bumbu penyedap indoktrinasi untuk budak-budaknya—dan 204 juta calon budaknya.

“Siapa mereka ini? Gamblang sekali. Benderanya di mana-mana. Sudah dibubarkan malah makin menyebar. Bahkan sudah bikin sekolah dari tingkat TK dan PAUD. Begitulah kalau cuma dicabut STNK-nya saja tapi tidak dicabut nyawanya. Mereka cukup ganti kendaraan saja, beres. Bisnis jalan terus. Malah ada pemasukan dari bisnis sekolah.”

Sponsornya pun, kata Fritz, makin puas dengan kinerja mereka, karena dipandang fleksibel, cepat beradaptasi, dan lihai mengubah kendala menjadi peluang. Walhasil kucuran dana malah makin deras.

“Maka bangunlah dari kegoblokan ini. Stop drama, mulai bergerak. Jangan cuma pungut daun kering yang gugur. Tebang pohon-pohonnya.”

Baca juga: