Tertawalah ketika Lawakan Volodymyr Zelensky Tidak Lucu!

Tertawalah Ketika Lawakan Volodymyr Zelensky Tidak Lucu!
©CNN

Boleh saja Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, mantan pelawak, akhirnya tidak bisa tertawa dan melawak tatkala terjadi serangan Rusia terhadap negaranya. Andaikata dia sedang melawak, maka lawakannya hambar.

Umpama dia tertawa, lantas ketawanya pun tidak lucu lagi. Dia malahan hanya menertawai dirinya. Lelucon dari sosoknya yang lugu muncul tanpa panggung komedi, melainkan bayangan.

Anggaplah muncul ketidakhadiran kata andaikata atau bagaikan. Perang pun akhirnya pecah, yang tidak terelakkan berkecamuk antara Rusia dan Ukrania. Tetapi, kenyataannya berbeda dari perkiraan sebelumnya.

Beberapa tahun sebelum menjadi presiden, Zelensky pernah menjadi salah satu komedian televisi paling kondang di Ukrania. Tanpa mempertentangkan hak memilih dan dipilih dalam pemilihan presiden, Zelensky seorang komedian yang tidak memiliki pengalaman politik ketika terpilih kurang dari tiga tahun lalu, 2019.

Dia telah mengalahkan petahana, Petro Poroshenko, sosok penguasa yang Zelensky sindir dalam tayangan film serialnya, Servant of the People, secara harfiah berarti “Pelayan Rakyat”.

Dia tidak tiba-tiba saja muncul sebagai pemimpin perang yang meyakinkan, kecuali sekian banyak menjungkir-balikkan diri dalam dunia lain. Sebuah dunia yang tidak asing dia geluti di luar dunia politik.

Seperti logika Hegelian, sosok Zelensky yang kita bicarakan, tidak ada sanjungan berlebihan saat keputusan untuk memilih terjun ke gelanggang politik di tahun 2018. Servant of the People menjadi nama partai politik yang didirikan sesuai judul filmnya. Dia yang membiayai partai politiknya untuk membuktikan sindirannya, yang membuat tidak termaafkan oleh petahana yang korup dalam kondisi penilaian dan penggambaran dunia anti-kemapanan.

Keputusan berikutnya di luar perkiraan. Dunia mengingatkan Zelensky agar keluar dari pembatasan yang kaku. Daripada hanya sebagai pelawak, sang penghibur publik, mendingan memilih untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

Baca juga:

Jika Zalensky memainkan karakter fiksi sebagai seorang guru bernama Vasily Goloborodko berusia 30-an di serial Servant of the People, film fiktif. Pada suatu pagi, dia bangun tidur. Lalu, cukup penasaran untuk mengetahui bahwa dia telah terpilih sebagai presiden dengan meraup 67 persen suara. Dia memenangkan pemilihan presiden karena rakyat Ukrania telah mencapai titik jenuh yang memuncak hingga di ubun-ubun.

Dalam dunia nyata, dia mengalami pengulangan berbeda dalam yang sama. Berbeda karena apa yang terjadi dalam dunia mimpi menjadi dunia nyata. Yang sama karena dia bertarung dalam pemilihan presiden, yaitu peristiwa yang sama. Mula-mula sebagian orang menilai Zelensky tidak lebih dari suatu kisah dalam komik sebagai lelucon konyol.

Pada kenyataannya justru dia telah memenangkan secara telak dalam pemilihan presiden di tahun 2019 dengan meraih 73 persen suara.

Orang mengetahui bahwa peristiwa politik, dia menjalankan sisi lain sebagai pemanggung dunia dalam cara kondisional, dalam peran yang dimainkannya dari sebuah interpretasi atau arus balik suatu kalkulasi yang menghubungkan dengan kepentingan.

Satu contoh reflektif dari Zelensky tidak pernah cenderung untuk menyerah dalam kondisi sesulit apa pun. Sebagian orang justru meragukan kemampuannya. Berharap percaya diri dan keberaniannya seiring dengan perjuangan menghadapi ancaman masa depan negerinya.

Tetapi, kemenangan Volodymyr Zelensky pada pemilihan presiden itu menimbulkan aroma tidak sedap, karena sebagian besar kampanye ditengarai telah dicukongi oleh Igor Kolomoisky, sosok salah satu oligarki terkaya sekaligus paling korup di Ukrania.

Sebuah bahasa politik kesepakatan mengenai retorika, kepentingan, dan sebagainya dari sisi permainan belum usai. Di sinilah bentuk lain dari boneka oligarki membayangi negara; ketika korban retorika dan orang yang tidak bersalah memiliki bahasa sentilan, bukan picisan.

Kecurigaan pun muncul datang dari luar. Orang-orang khawatir karena di pikiran mereka hanya seputar kehadiran pemimpin boneka, yang terkendalikan sang cukong. Sehingga ada seseorang menilai Zelensky setelah menyusun undang-undang anti-oligarki hanyalah menopengi diri dari ketidakmampuannya untuk mengelola negara.

Halaman selanjutnya >>>
    Ermansyah R. Hindi