Tesis Feuerbach, Marx, dan Tan Malaka tentang Agama

Tesis Feuerbach, Marx, dan Tan Malaka tentang Agama
Ilustrasi: Deskgram

Buku ini menyuguhkan ulang interpretasi kritis tentang kesalahpahaman makna revolusioner ajaran agama. Buku ini, terutama, menyimpulkan tesis Feuerbach, Marx, dan Tan Malaka tentang itu. Sehingga perdebatan dialektis di dalam menjadi hidup, mengajak kembali pada pesan mendasar tentang sejarah lahirnya agama.

Ada begitu banyak kritikan yang ditunjukkan penulis terhadap pola tindakan keberagamaan dalam kehidupan sosial. Sebuah keberagamaan yang begitu timpang antara konsep dasar agama, penghayatan keagamaan, peribadatan umat, dengan tindakan nyata dalam aktivitas kehidupan ekonomi sosial.

Saya sangat merekomendasikan kepada Anda sekalian untuk ikut bersama dalam perdebatan tentang pola keberagamaan yang timpang ini. Terutama tentang sosok Feuerbach dan Marx, yang menganggap bahwa kedua tokoh ini adalah musuh agama sekaligus ateis, yang gagasannya harus dilenyapkan. Serta pandangan kolot kita dalam menuduh Tan Malaka atas kritiknya terhadap logika mistika sebagai bentuk penyesatan.

Ada 6 (enam) bab yang tertera dalam buku ini. Saya akan membedahnya secara bab per bab. Dan bagi pembaca yang penasaran seluruh rangkaian perdebatan di dalamnya, saya sarankan untuk membacanya langsung. Karena ada banyak hal-hal yang penting di dalam buku tersebut yang tidak bisa saya ulas dalam tulisan ini.

Menggugat Agama yang Borjuis dan Egosentris

Di bab pertama, saya cukup dikagetkan oleh ulasan penulis tentang kritikannya terhadap pola keberagamaan umat manusia yang kehilangan arah dari jantung progresivisme agama terhadap misi sosial. Manusia beragama hari ini hanya disibukkan oleh hal-hal formalitas peribadatan keagamaan belaka. Menjadikan agama sebagai komoditas, menjadi garapan empuk oleh budaya konsumerisme, menggiring agama dalam labirin kapitalisme yang semakin tajam.

Manusia telah menggiring agama sebagai instrumen penghambaannya pada elitisme kelas borjuasi. Sehingga formasi agama kemudian dibatasi hanya pada ruang lingkup teks, tafsir teks, dan peribadatan simbolik.

Tenggelamnya agama dalam labirin borjuisme dan egosentrisme mengakibatkan agama kehilangan kekuatan. Ia kemudian tidak lagi mampu menghadapi gelombang korupsi yang semakin parah. Ia takluk dalam arus kepentingan ekonomi para borjuasi sebagai kelas dominan. Hingga manusia beragama hanya tunduk dalam komsumerisme massal.

Pada posisi ini, ia telah kehilangan kepeduliannya terhadap kerusakan-kerusakan alam yang diakibatkan oleh manusia-manusia modern. Ia hanya puas sebagai penonton, pendakwah di atas bukit, tanpa lagi terjun dalam sebuah perjuangan kemanusiaan dan kebenaran. Prinsipnya, ia telah kehilangan pikirannya yang hanya disibukkan oleh surganya sendiri dan apatis terhadap problem kehidupan ekonomi politik yang nyata dalam keseharian.

Inilah keberagamaan borjuasi hari ini yang harus ditinjau ulang secara kritis dan mengembalikannya pada posisi yang semula. Bahwa agama, sejatinya, membawa manusia pada kesadaran tertinggi yang teraktual secara nyata pada emansipasi dan pembebasan. Agama bukan untuk kepentingan pribadi. Ia adalah jalan semua manusia. Bahwa beragama berarti melebur dalam kesadaran semesta yang diamalkan dan memperjuangkannya lewat jalan-jalan revolusi pembebasan.

Kritik Ludwig Feuerbach atas Teosentrisme Agama

“Religion has its genesis in the essential difference between man and the animal-the animal have no religion (Agama berangkat pada perbedaan hakiki antara manusia dengan hewan, karena hewan tidak memiliki agama).”

Ludwig Feuerbach mendobrak interpretasi yang selama ini dipahami oleh umat manusia terhadap agama. Bahwa umat manusia terlalu dogmatis memahami agama dengan gaya teosentrisme.

Interpretasi bahwa agama itu dari tuhan, tuhanlah yang menciptakan agama. Agama adalah perkataan/petunjuk tuhan yang absolut yang harus dijalani/dipatuhi oleh umat manusia untuk mengabdi dan menghambakan diri di jalannya. Ini adalah interpretasi yang terlalu mengawang bagi Feuerbach. Paradigma teosentris agama sarat dengan dogmatisme, tidak berbasis pada fakta material yang sebenarnya dalam realitas kehidupan manusia.

Feuerbach menggiring interpretasi agama yang teosentris menuju interpretasi yang betul-betul lahir dari rahim sejarah manusia. Agama adalah sejarah manusia tentang kesadarannya dan personifikasi tentang tuhan. Itu sebenarnya merupakan transendesi kesadaran yang diciptakan serta dicapai dalam diri manusia, bukan tentang sejarah Tuhan yang menciptakan agama.

Ini adalah interpretasi sosiologis terhadap agama. Bahwa agama sebenarnya merupakan produk dari capaian rasionalitas manusia. Bahwa gambaran-gambaran tuhan dalam cerita-cerita agama merupakan sesuatu yang dipersonifikasikan oleh manusia menurut dirinya. Segala sifat tuhan dan hal-hal tentangnya adalah sifat manusia yang diuniversalkan oleh kesadaran manusia itu sendiri.

Mengapa manusia menciptakan agama? Karena agama diperuntukkan oleh manusia dalam mengatasi kehidupan sosialnya.

Contoh sederhana. Dalam kehidupan manusia, terjadi kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang kuat kepada yang lemah. Kerena tidak mampu menghadapi orang-orang kuat tersebut, orang-orang lemah kemudian menciptakan sesuatu dalam dirinya tentang imajinasi agar bisa bertahan dalam kehidupan yang kejam.

Konsep tentang pertolongan dan sesuatu yang lebih kuat kemudian menjadi bibit-bibit lahirnya kepercayaan tentang hal-hal yang abstak dalam dirinya. Di sinilah kemudian agama terlahir dalam kesadaran manusia, agar ia bisa bertahan hidup. Di sinilah terwujudnya agama, karena manusia teralienasi dari kehidupan sosialnya. Dan diharapkan agama mampu mengatasi problem sosial tersebut.

Sampai di sini, kita memahami bahwa Feuerbach menafikan agama sebagai produk ilahi dan sebagai bentuk kegunaaan pribadi. Tetapi bentuk dari kesadaran kehidupan sosial yang diperuntukkan untuk kehidupan bersama. Sebagai akibat teralienasinya manusia dari problem nyata dalam kehidupan. Di sini Feuerbach sungguh mengalami lompatan besar terhadap interpretasi di zamannya.  Ia menggiring agama yang diintepretasaikan sebagai sesuatu yang non-material menjadi hal yang material; agama yang bersifat teosentris menjadi sosiosentris.

Kritik Karl Marx atas Ludwig Feuerbach

Apa kritik Marx terhadap Feuerbach dalam menginterpretasikan agama?

Marx memandang bahwa Feuerbach menginterpretasikan kemunculan dan aktivitas keberagamaan itu bersifat pasif-kontemplatif pada keterwujudan agama dalam sosio-historis dinamika kehidupan. Sedangkan Marx melihat kehadiran agama itu justru muncul dalam sejarah manusia dengan wataknya yang aktif dan revolusioner. Artinya, kehadiran aktivitas agama dalam diri manusia membawa gerak perubahan pada sosio-historis, baik itu secara objektif, hubungan antara manusia, maupun secara subjektif terhadap dirinya sendiri.

Misi Manusia menurut Karl Marx

Sejarah kehidupan manusia pada intinya merupakan sejarah perkembangan kekuatan produksi. Ini pada awalnya dimulai dengan sebatas berburu. Hingga era perkembangan kapitalisme, kekuatan produksi manusia pun semakin meningkat dan modern.

Marx meyakini bahwa bekerja/kerja merupakan hal yang mendasar pada eksistensi manusia dalam mengejawantahkan serta mengembangkan dirinya secara objektif. Karena hal inilah Marx menolak sistem kapitalisme dalam mengatur kerja manusia.

Kapitalisme menjadikan manusia hanya sebatas sekrup dari proses produksi massal. Ia membawa manusia pada jurang-jurang dehumanisasi. Di dalam tubuh kapitalisme, manusia tidak lagi bekerja sebagai manusia merdeka. Esensi kemanusiaannya terjebak dalam labirin perbudakan hanya untuk kepentingan laba dan para pemodal.

Untuk itulah kapitalisme harus dimusnahkan. Agar manusia merdeka atas kerjanya dan tidak ada penghisapan kekayaan secara berpihak. Dan dalam menumbangkan kapitalisme, alat produksi harus direbut dari tangan borjuasi. Tidak boleh ada yang mengusai alat produksi.

Untuk mencapai jalan perjuangan ini, kekuatan massa dari seluruh kaum tertindas harus menyatu, menuju sebuah tatanan sejarah baru. Marx menyebut bahwa tatanan itu adalah era komunisme yang menjadi sistem kehidupan umat manusia. Agar tidak ada lagi penindasan dan penghisapan oleh manusia atas manusia lainnya di muka bumi. Agar keadilan merata untuk semua manusia.

Pada pembahasan bab ini, saya menyadari satu hal, bahwa misi Marx bukanlah menumbangkan agama. Sama sekali bukan itu. Tapi misi Marx adalah mengajak semua manusia untuk ikut menyadari betapa tidak adilnya ekonomi-politik yang diciptakan oleh sistem kapitalisme dalam kehidupan.

Maka, konsep perjuangan Marx sebenarnya mengarah pada perjuangan kelas. Konsep Marx adalah ideologi proletariat atas ekonomi politik, bukan ideologi agama dan ketuhanan.

Madilog dan Kritik atas Logika Mistika

Hal yang sama dengan Tan Malaka. Terlihat dalam karya Madilog-nya, tidak hendak masyarakat Indonesia terjebak dalam labirin logika misitika yang justu berpotensi besar dalam kemunduran bangsa. Bahwa masyarakat Indonesia tidak akan pernah maju ekonomi dan politiknya jika masih saja memakai pandangan kolot mistika dalam berkehidupan.

Logika keagamaan yang revolusioner yang mendorong masyarakat untuk sadar dengan dunia nyata. Itulah yang diharapkan Tan Malaka.

Dan untuk itu, Tan Malaka sangat jelas mendorong penuh masyarakat Indonesia agar menguasai persolan teknik, persolan ilmu pengetahuan. Dari teknik inilah kemudian menjadi kunci utama dalam percepatan kemajuan menuju seperti apa yang disebutnya sendiri sebagai Indonesia Merdeka 100%.

___________________

Judul: Agama Itu bukan Candu; Tesis-Tesis Feuerbach, Marx, dan Tan Malaka
Penulis: Eko P Darmawan
Penerbit: Resist Book, 2005
Tebal: 213 hlm.

___________________

Artikel Terkait:
Nasaruddin Ali
Nasaruddin Ali 11 Articles
Mahasiswa Filsafat UIN Yogyakarta | Wakil Ketua Umum Ikama Sulbar Yogyakarta | Komisaris GMNI UIN Periode 2017-2018