The Intelligence of Humanity

The Intelligence of Humanity
©iPleaders

The Intelligence of Humanity

Saya menghadapi banyak momen kehidupan yang ambigu dan absurd dalam segala hal dan spektrum yang luas. Saya tidak bisa menghindarinya karena itu sudah menjadi sebuah sistem yang universal. Ketika pembunuhan global dimulai, maka bisnis-bisnis kapitalis pun mendarah daging pada urat syaraf manusia. Teologisme pada akhirnya ikut berpartisipasi menjadi dogma bahwa “Jika kamu melawan, sama saja kamu menentang Tuhan”.

Saya mengetahui itu karena memang Tuhan adalah nama yang simbolis untuk dijadikan kepentingan politik, dan mereka menggunakan itu sebagai sebuah senjata. Kita terpecah belah karena adanya persepsi ganda yang mengalahkan keyakinan kita. Ini adalah sebuah bencana besar peradaban yang d imana kita tidak mempunyai idealisme yang kuat. Kita terlalu mudah digiring secara frontal, opini kita dibentuk media massa agar sesuai skenario yang dibuat oleh elite.

Apa yang terjadi di Kuba, Myanmar, Vietnam, dan bahkan di Indonesia sendiri membuktikan kita kalah dengan struktur Intelligence. Jika di Amerika ada CIA, M16 milik Inggris dan juga KGB (intelijen komunis) dari Uni Soviet.

Dari setiap tugas yang dijalankan oleh mereka sebagai agen intelijen adalah tugas kepentingan politik untuk seperti operasi senyap, pelatihan militer khusus, strategi agitasi dan propaganda, menguasai peta geografis, pembunuhan secara terpolarisasi, penculikan kolektif dan menguasai stasiun radio serta memanipulasi informasi media massa. Itu adalah beberapa pelatihan intelijen yang memiliki tingkat presisi yang sangat tinggi, dan mereka sudah terlatih secara individu, baik melalui instrumen mental maupun kondisi fisik yang sejatinya mereka hanya mengandalkan kecerdasan struktur dari hasil kesimpulan pemikiran mereka sendiri.

Lalu untuk apa semua itu? Dan apa tujuannya?

Saya pikir kita hanya perlu menerka bahwa pekerjaan intelijen adalah pekerjaan politik untuk menguasai sesuatu. Dan sesuatu itu bisa dalam konteks apa saja. Saya tidak begitu mengetahui apakah Badan Intelijen Negara (BIN)-nya Indonesia melakukan tugas yang sama walaupun saya sempat mendengar berita bahwa ada mortir yang digunakan BIN untuk operasi di Papua di mana mortir itu dibawa dari negara Serbia dan dari pihak BIN membantah isu tersebut.

Dari beberapa literatur yang saya baca, seperti buku berjudul Dokumen CIA Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S 1965 terbitan dari Hasta Mitra, ini berisi mengenai memorandum dan telegram rahasia dari para Staff Intelijen CIA dengan para petinggi kementerian yang memanfaatkan konflik internal Angkatan Darat kala itu yang ingin merencanakan kudeta secara masif kepada pemerintahan resmi Presiden Soekarno dengan melatih beberapa anggota militer yang pada akhirnya mereka diberi nama Pasukan Cakrabirawa.

Narasi yang sama juga disampaikan oleh Peter Dale Scott dalam bukunya yang berjudul CIA dan Penggulingan Bung Karno yang kurang lebihnya yaitu mengungkapkan langkah-langkah Amerika Serikat melalui CIA untuk operasi senyap yang dijalankan melalui tubuh internal militer Angkatan Darat dan juga dukungan utuh kepada Jenderal Soeharto untuk merebut kursi jabatan presiden dari tampuk kekuasaan Soekarno.

Baca juga:

Di sisi lain, buku tersebut juga memiliki kolerasi pada pertambangan Freeport di Papua seperti yang dijelaskan pada buku yang ditulis oleh Paharizal dan Ismantoro Dwi Yuwono yang berjudul Freeport Fakta-Fakta yang Disembunyikan yang berisi tentang Amerika Serikat melalui CIA yang mencoba mempertahankan ideologi kapitalisme melalui bisnis besar pada Freeport, serta penjajahan ekonomi dan militerisasi terhadap rakyat Papua. Sehingga hal tersebut mengundang kegeraman Presiden Soekarno untuk mempertahankan Papua dari cengkeraman imperialisme.

Naluri kapitalisme Amerika Serikat tidak bisa menerima kebijakan Soekarno, komunisme di Indonesia juga menghalangi cita-cita Amerika untuk menguasai sumber daya alam di tanah nusantara. Maka diberantaslah para komunis dan dilengserkanlah Soekarno setelah itu menaikkan Soeharto sebagai presiden yang kedua untuk bisa sejalan dan searah dari kehendak Amerika.

Dari situlah muncul istilah Presiden Boneka yang tetaplah kebijakan dan regulasi konstitusi harus sesuai dan memiliki satu suara yang sama terhadap kepentingan politik Amerika, yang tidak lain adalah kepentingan kapitalisme. Sehingga adanya mandat konstitusi dari Soeharto tidak memungkinkan ia membuat kebijakan tersendiri tanpa melibatkan kepentingan politik asing. Sistem ini yang saya sebut sebagai sebuah kontradiksi yang tidak bisa dihindari, maka premis dasar dari intelligence adalah kepentingan politik.

Seperti Fidel Castro yang sebenarnya tidak mau negaranya jatuh dalam konflik horizontal antar rakyat akibat adu domba pihak asing. Invasi Teluk Babi menandakan keseriusan Castro untuk membendung imperialisme di Kuba dan lagi-lagi musuh Castro adalah CIA dan para pasukan oposisi anti-Castro yang melawan kepemimpinan Castro. Beruntung kecerdasan Castro ditambah dengan bantuan strategi dari Che Guevara membuat Kuba memenangkan pertarungan ini.

Teori konservatif mengenai intelijen adalah budaya destruktif dari dogma politik di setiap negara. Hal-hal seperti ini secara paradigma dan kebudayaan harus diubah melalui pendekatan kemanusiaan dan akal sehat dari setiap diri manusia. Berawal dari memupuk peradaban moral yang telah lama terdegradasi sekian lama, ini semua diperuntukkan bagi Anda para generasi muda yang ketika Anda nantinya ingin memasuki dunia intelijen maka Anda harus mengawali perubahan yang lebih baik.

Siklus kehancuran akan tetap berjalan kalau manusia saling tega terhadap manusia yang lain. Budaya pemikiran instan adalah proses membanting diri dan melakukan tindakan-tindakan brutal secara tidak manusiawi, mengerdilkan hati nurani, membodohkan nalar intelektual, serta membuang premis-premis dasar tentang realitas dan fakta kehidupan. Itu semua terjadi pada fenomena kehidupan di Indonesia.

Konflik kepentingan dan semua metode profesi yang tidak masuk dalam ranah bidang keilmuan serta dwi-fungsi politik yang merancukan kehidupan berbangsa adalah proses penghancuran diri terhadap peleburan-peleburan moral identitas setiap lini kehidupan masyarakat. Kebiasaan bodoh ini menyebabkan sektor-sektor pendidikan yang seharusnya menjadi harapan perjalanan intelektual bangsa menjadi lumbung-lumbung yang teralienasi dari konstelasi sosial, seperti istilah yang saya buat bahwa kita ini sudah masuk waktu pagi tetapi tidak bisa menikmati waktu di pagi hari.

Saya tidak begitu memiliki potensi untuk menjadi sebuah intelijen. Saya bahkan lemah dalam hal retorika bahasa sehingga sangat tidak artikulatif dalam berintelijen. Ini cukup lucu terhadap tulisan yang saya buat kali ini, tetapi itulah saya ketika disuruh memberi opini yang liar tentang intelijen dan lagi-lagi ini hanya menjadi sebuah wacana intelektual. Jadi saya menikmati dinamika kehidupan ini, sangat bahagia dan juga sangat kecewa karena hidup ini tidak statis tetapi sangat dinamis dengan segala dimensi tertentu.

Baca juga:

Saya tidak akan termakan stigma yang digencarkan penguasa, bahkan saya ingin jadi seorang propagandis yang menyeletuk tentang kebaikan dan kemanusiaan. Tetapi frekuensi itu terlalu jauh bagi saya sehingga saya hanya bisa ndandani diri saya sendiri. Kalau saya membahas itu dengan tulisan saat ini maka akan menjadi cerita yang panjang dan itu terlalu jauh sebagai suatu hal yang penting.

Berangkat dari regulasi sosial yang sangat tinggi, maka kepercayaan antar-masyarakat adalah suatu esensi dasar yang perlu direkatkan. Di Kalimantan tepatnya di Pontianak terdapat lembaga kredit yang mengutamakan sosialitas antar masyarakat bernama Credit Union. Lembaga kredit tersebut berorientasi pada pengembangan wirausaha tiap masyarakat dengan meminjamkan kredit dan setiap rutin mengadakan rapat pertemuan antar anggota di Credit Union agar masyarakat saling mengenal. Dan menurut saya itu adalah suatu nalar komunal yang sangat tinggi.

Kebijakan-kebijakan yang terbentuk dari masyarakat justru menimbulkan kesan nuansa kekeluargaan yang sangat tinggi seperti halnya Piagam Madinah yang dibuat oleh masyarakat Madinah untuk merekatkan persaudaraan antar-umat beragama, suku dan berbagai macam ras. Menjadi intelijen untuk diri sendiri dan mengawali segala bentuk pergerakan dari dalam diri serta mengutamakan kerendahan hati dan terbentuknya sebuah peradaban intelijen yang bermoral dan bermartabat.

Farouq Syahrul Huda
Latest posts by Farouq Syahrul Huda (see all)