Tidak Ada “Pokoknya” dalam Matematika

Tidak Ada "Pokoknya" dalam Matematika
©Empathy Rooms

Dulu ketika belajar matematika di SD, saya sering mendengar hukum “pokoknya” dari guru saya. Ketika bu guru sudah mengeluarkan kata “pokoknya”, maka saya wajib ancang-ancang untuk mengingat dan mencatat apa yang ia sampaikan. Ini jelas informasi penting yang akan digunakan selamanya, sampai “mati” kali.

Ada banyak hukum “pokoknya” yang bahkan masih saya ingat sampai sekarang. Misal: “pokoknya semua bilangan dikali nol hasilnya adalah nol”, “pokoknya kalau luas itu pangkat 2 (dibaca cm persegi) kalau volume itu pangkat 3 (dibaca kubik)”, “pokoknya kalau dibagi pecahan itu sama artinya dikali tapi dibalik”, dan berbagai macam hukum “pokoknya” yang lain.

Apakah pengajaran itu dapat dibenarkan? Sekarang tentu tidak. Saya harus mengatakan bahwa guru-guru saya dulu salah dalam mengajarkan matematika. Tentu itu tidak mengurangi rasa hormat saya, la wong kalau ketemu saya juga masih mencium tangan mereka. Tapi bagaimana pun, apa yang mereka lakukan memang tidak tepat.

Benar karena hukum pokoknya saya mengingat semua hal-hal penting seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Tapi masalahnya belajar matematika itu bukan hafalan. Belajar matematika itu tentang bagaimana menggunakan nalar untuk menyelesaikan permasalahan.

Disadarj atau tidak, pengajaran seperti guru-guru saya dulu dapat menyebabkan banyak miskonsepsi pada pembelajaran masa depan di matematika. Saya beri contohnya. Karena hukum “pokoknya perkalian itu dihafal” dan “pokoknya semua bilangan dikali nol sama dengan nol”, maka tidak terbentuk koneksi antara perkalian dan penjumlahan dengan baik.

Bayangkan banyak siswa SMP yang tidak tahu bahwa 5 x 0 itu artinya sama pula dengan penjumlahan nol sebanyak 5 kali. Berikutnya, mereka kesulitan menentukan makna suku dalam aljabar seperti 2a atau 3b.

Lebih jauh, siswa juga gagal menentukan makna pembagian, la wong konsep perkaliannya lemah. Gagal menentukan pembagian menyebabkan siswa gagal pula menentukan, misalnya, nilai dari 1/0 atau 0/0. Padahal nantinya pemahaman akan ini penting ketika siswa belajar limit.

Nah kan, konsep yang tidak terbentuk kuat karena proses hafalan itu akan ditindih dengan konsep-konsep lain yang semakin kompleks yang harus dipelajari siswa. Ibarat gedung tingkat 10 tapi pondasinya cuma 1 meter dan batu batanya sudah rapuh. Suatu saat tentu akan roboh atau dalam kondisi anak mereka akan menyerah belajar matematika. Tentu ini kondisi yang sama-sama tidak kita inginkan.

Baca juga:

Ada banyak cara, alat peraga dan media yang bisa kita gunakan kok untuk menghindari hukum pokoknya. Tidak susah kok menjelaskan asal-usul segala sesuatu dalam matematika. Pernah kok saya menjelaskan kenapa perkalian nol menghasilkan nol pada anak kelas 3 SD.

Pilihannya tinggal kita mau berusaha atau tidak. Kalau tidak tahu, ya bisa tanya-tanya atau cari informasi dari media sosial.

Daripada waktunya digunakan untuk memikirkan nasib Andin yang hidupnya udah diatur sutradara, mending belajar matematika toh?

Rachmat Hidayat
Latest posts by Rachmat Hidayat (see all)