Tikus-Tikus Berlarian

Tikus-Tikus Berlarian
Ilustrasi: Pikiran Rakyat

Saya disergap bayang-bayang tikus-tikus berlarian dari lumbung padi yang terbakar.

Nalar WargaPilkada Jabar memperlihatkan cacat demokrasi kita. Cacat itu ialah penihilan betapa penting literasi bagi demokrasi, bangsa, dan negara.

Demokrasi bukan mengandaikan penduduk, tapi penduduk yang berkesadaran kewargaan. Kesadaran kewargaan hari ini hanya mungkin jika ada tradisi literasi. Tanpa tradisi literasi, kesadaran kewargaan tak akan hidup pasti.

Yang dimaksud literasi di sini bukan sekadar kemampuan baca-tulis, apalagi baca tulis secara teknis. Tapi kebiasaan dan kemampuan bernalar, kebiasaan dan kemampuan menganalisa, kebiasaan dan kemampuan memahami data dan fakta dengan jernih dan terbuka untuk diuji.

Kebiasaan dan kemampuan demikian mengandaikan kesetaraan dan keterbukaan. Ketersediaan kesetaraan dan keterbukaan memungkinkan nalar merdeka dan kritis tumbuh subur. Penelitian telik dan objektif berkembang. Opini publik bermunculan berdasarkan data, fakta, dan argumen yang siap dipertanyakan.

Namun, tak satu pun pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jabar yang memandang penting literasi. Begitu juga parpol-parpol pendukung dan para tim suksesnya serta para simpatisannya. Semua melulu sibuk mencitrakan pasangan calon yang paling Nyunda(nasionalis)-religius.

Untuk ini pun, yang diutamakan nyaris melulu atribut yang ditegas-tegaskan sebagai representasi Sunda(Indonesia)-Islam. Dan ini menampik dipertanyakan, menampik didiskusikan.

Maka, teranglah semua pihak yang berseteru untuk menduduki jabatan gubernur dan wakil gubernur Jabar itu bersekutu membangun masyarakat yang bertingkat-tingkat dan terkotak-kotak berdasarkan suku bangsanya dan agama yang tercetak di KTP-nya. Begitu pula parpol-parpol pendukungnya serta para tim suksesnya dan simpatisannya.

Semua justru jadi bersekutu makin menyulitkan literasi bertumbuh-kembang di setiap jengkal Jabar dengan pilkada Jabar. Padahal, penyelenggaraan pilkada ini terbanyak biayanya dari rakyat.

Ini tak lain tak bukan demi kemaslahatan segenap rakyat. Kemaslahatan yang dimaksud di antaranya adalah menjadikan pilkada sebagai pendidikan politik rakyat, yang merupakan salah satu praksis penanaman dan perawatan kewargaan.

Jika begitu dan terus begitu, pilkada tak mustahil hanya akan menguntungkan segelintir orang dan menambah berat beban hidup mayoritas penduduk. Demokrasi, negara, dan bangsa pun tak mustahil malah makin limbung di labirin gelap tak berujung.

Ketika begitu, apakah para penjual atribut nasionalisme-religius akan sudi bertanggung jawab? Apa mereka akan sudi berkorban menjadi juru selamat? Saya disergap bayang-bayang tikus-tikus berlarian dari lumbung padi yang terbakar.

*Hikmat Gumelar

___________________

Artikel Terkait:
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)