Toolkit Layanan Kekerasan Seksual yang Inklusif

Toolkit Layanan Kekerasan Seksual yang Inklusif
©Dok. Pribadi

Toolkit Layanan Kekerasan Seksual yang Inklusif

Pada Senin, 25 Maret 2024 sekitar pukul 14.00 WIB, saya mendapat pesan singkat dari rekan kerja. Pesan singkat itu berisi pemberitahuan ada undangan launching buku dan buka bersama dari teman-teman Jakarta Feminist di Hotel Forriz Yogyakarta.

Saya amini pesan singkat dari rekan saya tersebut. Bagi saya, ini merupakan suatu kehormatan selain dapat berjumpa dengan kawan-kawan aktivis feminis lintas daerah.

Di tengah teriknya panas matahari, saya melaju dari kantor langsung menuju Hotel Forriz. Perjalanan dari kantor sampai hotel kurang lebih setengah jam dengan membelah kota Jogja. Cuaca panas, jalanan macet, dalam keadaan puasa, cukup menguras kesabaran tentunya.

Perjalanan yang cukup panjang tersebut akhirnya terbayar juga ketika saya sampai hotel. Saya parkir motor di basement dan naik lift menuju lantai satu barulah hawa sejuk dari AC menyapa tubuhku. Lalu saya cari kursi untuk duduk dengan agak bingung juga karena panitia saya hubungi belum juga membalas chatku.

Beberapa saat kemudian chatku bergetar ada chat masuk. Ternyata dari panitia ia memberi tahu bahwa acaranya ada di ruang Graha Wijaya.

Setelah mendapat pesan itu, saya bergegas menuju ruangan yang dimaksud dengan agak khawatir jika saya terlambat. Tapi ternyata ketika saya masuk, acaranya belum dimulai dan para tamu undangan juga belum banyak yang hadir.

Sekitar setengah jam saya duduk akhirnya acara dimulai juga. Bentuk acara ini bisa dibilang talkshow dengan menghadirkan beberapa narasumber yang berkompeten di bidangnya dan dipandu oleh Yuri sebagai moderatornya.

Baca juga:

Adapun narasumber yang diundang antara lain Kalis Mardiasih, Khoirun Ni’mah, Mario Pratama, dan Pitra Hutomo. Semua narasumber ini merupakan aktivis perempuan dan penanganan korban kekerasan seksual. Sekitar dua jam mereka mempresentasikan materi masing-masing.

Inti dari pertemuan lintas aktivis feminis yaitu launching Toolkit dan SOP-nya dalam penanganan kasus kekerasan seksual.

Dewasa ini Indonesia mengalami peningkatan kasus kekerasan seksual atau biasa disingkat KBGS (Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual). Meningkatnya angka kriminalitas membuat kita semua merasa prihatin dan harus segera mencari jalan keluarnya.

Namun sering kali kasus kekerasan sekual ini jarang sampai ke meja pengadilan ya pastinya karena ada relasi kuasa dan lemahnya advokasi hukum di negeri ini. Parahnya para pelaku ini jarang yang tersentuh hukum. Maka toolkit ini sesunggunya hadir untuk memfasilitasi para lembaga penanganan kasus kekerasan seksual dengan membuat jejaring.

Di Indonesia ini banyak sekali lembaga NGO yang menangani kasus kekerasan seksual, misalnya seperti Rifka Anisa, Harapan Fian, PPKS Uin Sunan Kalijaga, LBH Yogyakarta, AJI Yogyakarta, Srikandi Lintas Iman, Solidaritas Perempuan Kinasih, dan masih banyak lagi. Namun lagi-lagi dalam penanganan kasus kekerasan seksual semua lembaga itu sering kali mengalami kendala dan terbatasnya fasilitas.

Jadi Toolkit ini adalah panduan pelayanan kasus yang lebih inklusif, mulai dari layanan pengaduan, penanganan awal, identifikasi kasus, asesmen kebutuhan, pendampingan, rujukan dan pelaporan. Toolkit bisa dipahami sebagai alat yang dirancang untuk memenuhi berbagai kebutuhan diri sendiri dengan kata lain memfasilitasi kebutuhan.

Jadi misal ada salah satu lembaga yang tidak memiliki fasilitas bantuan hukum, maka bisa bermitra dengan para aktivis LBH dan lain sebagainya. Atau misalnya lembaga tersebut butuh seorang psikolog, maka bisa bermitra dengan para psikolog yang berjejaring dengan Jakarta Feminist.

Itulah inti pembicaraan selama dua jam, lalu acara dilanjutkan dengan diskusi sampai menjelang buka puasa. Acara ini banyak dihadiri oleh aktivis feminis dan juga beberapa teman-teman berkebutuhan khusus yang rentan mengalami kekerasan seksual. Akhir acara ditutup dengan buka bersama dengan hidangan yang sudah disajikan para pramusaji hotel.

Bagi saya, pertemuan dengan teman-teman feminis ini membuka cakrawala pengetahuan kita tentang nasib para korban yang kasusnya mandek dan bahkan ditutup dan terkubur begitu saja. Alangkah batin korban begitu terluka melihat senyum manis para pelaku kejahatan seksual yang tidak dihukum sebagaimana mestinya.

Baca juga:
Ferry Fitrianto
Latest posts by Ferry Fitrianto (see all)