Tradisi Sufi dan Mistik Jawa di Islam Nusantara

Tradisi Sufi dan Mistik Jawa di Islam Nusantara
©Ist

Tradisi sufi dalam adat Jawa tak bisa dilepaskan dengan hal-hal yang berbau mistik. Sedangkan secara harfiah, mistik memiliki artian yakni suatu hal yang tidak bisa dijangkau dengan akal. Bisa dikatakan pula bahwa mistik ialah kebatinan.

Adapun mistik Jawa berarti kebatinan atau keyakinan orang Jawa dalam memahami alam semesta serta tuhan mereka. Kepercayaan itu dinamakan Kapitayan. Ini sudah berkembang sebelum agama-agama masuk ke nusantara.

Dari sini dapat kita telaah bahwasanya agama yang masuk, khususnya Islam, mengalami akulturasi dengan adat serta tradisi masyarakat Jawa yang memeluk paham kebatinan. Tidak menutup kemungkinan pula, tradisi masyarakat pemeluk agama islam di Jawa adalah sebuah warisan serta afiliasi dari tradisi Kapitayan.

Agama islam yang kini tersebar dan dianut oleh masyarakat Jawa sering disebut dengan Islam Nusantara. Islam Nusantara adalah Islam yang melebur secara harmonis dengan kebudayaan nusantara, syarak, kearifan yang tak melanggar syarak guna mendakwahkan Islam di bumi nusantara.

Dengan argumen tersebut, islam nusantara menjadi agama yang mudah diterima. Tak ada penolakan yang bersifat anarkis dari penduduk pribumi yang sebelumya belum pernah mengetahui seluk-beluk agama islam.

Masyarakat Jawa yang masih erat dengan kepercayaan kebatinan juga melakukan peribadatan yang mereka sebut sembahyang. Menurut Agus Sunyoto dalam bukunya Sufisme Jawa, masyarakat pemeluk kapitayan sudah melakukan syariat seperti agama Islam, yaitu salat.

Selain itu, adanya peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, dan 100 setelah kematian seseorang. Ini adalah tradisi yang berasal dari Hindu-Jawa sebelum masuknya Islam di tanah Jawa. Mereka percaya bahwa roh leluhur harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia.

Dewasa kini, umat islam radikal sedang gencar-gencarnya menyerang para pemeluk agama islam yang melakukan tradisi tersebut. Mereka menyatakan bahwa hal itu bidah. Bahkan mereka menganggap tradisi seperti itu termasuk syirik.

Hal inilah yang menyebabkan keadaan umat beragama sesama islam di Indonesia kian memburuk. Banyak tuduhan kepada golongan Nahdlatul Ulama yang setuju dengan konsep Islam nusantara. Karena ormas tersebut masih memegang tradisi masyarakat terdahulu dengan berlandaskan pada kaidah ushul fiqh, yakni al-‘addah al-muhakkamah.

Islam nusantara memang metodologi yang tepat untuk membumikan islam di nusantara. Karakter Islam Nusantara menunjukkan adanya kearifan lokal yang tidak menyalahi syariat Islam. Namun justru menyinergikan ajaran islam dengan adat istiadat lokal yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Pertemuan Islam dengan adat tradisi Nusantara itu kemudian membentuk sistem sosial, seperti lembaga pendidikan pesantren dan kesultanan.

Berdasarkan berbagai akulturasi kebudayaan untuk membumikan Islam di Nusantara, akhirnya agama Islam dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat Jawa yang umumnya sudah memiliki keyakinan dan kepercayaan yang kuat pada leluhur mereka.

Tak dapat disangkal lagi jika argumen Islam Nusantara itu adalah suatu teori yang sebenarnya sudah lama berkembang, namun generasi muda yang minim literatur serta telah terdoktrin pada radikalismelah yang dengan gencarnya menuduh bahwa Islam Nusantara itu sesat dengan segala tradisinya yang tak terdapat pada Alquran dan Hadis.

Maka dari itu, di sinilah peran penting Nahdlatul Ulama dalam melestarikan budaya nusantara dengan tidak meninggalkan nilai-nilai keislaman yang telah diajarkan para walisongo saat penyebaran islam pertama kali di tanah Jawa.

Baca juga:

    Moh. Ainu Rizqi

    Mahasiswa | Twitter: @ainurizqi342
    Moh. Ainu Rizqi

    Latest posts by Moh. Ainu Rizqi (see all)