Tren Digital dan Posisi Generasi Milenial

Tren Digital dan Posisi Generasi Milenial
©Blogspot

Bukan seorang pakar ekonomi, bukan pakar di bidang teknologi, apalagi anak konglomerat. Ih, nggaklah! Saya hanya seorang penulis amatir, dengan background mahasiswa peternakan dan traveler dalam dunia gerakan (aktivis mahasiswa).

Jika ditanya soal emansipasi sebagai anak negeri, saya tak bisa berkata banyak. Silakan publik menilai. Sensibilitas sebagai generasi milenial yang bermukim di pintu batas RI-RDTL tak menyurutkan semangat juang dalam menggapai cita. Segala yang saya miliki telah terurai rapi dalam beberapa artikel yang dipublikasi oleh media konvensional (media massa dan online).

Scribo Ergo Sum (saya menulis maka saya ada). Frasa inilah yang memacu sukma untuk selalu mendokumentasikan gagasan serta memperkenalkan pribadi saya kepada orang lain. Sebagaimana yang dilakukan oleh Karl Marx, Sigmund Freud, Einstein, Niccolo Machiavelli, George Orwell, dan lain-lain.

Mereka adalah orang-orang hebat dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Dunia mengenal mereka berkat ide-ide yang telah mereka tuangkan dalam ilmu pengetahuan. Dan semua itu lewat tulisan. Hal tersebut yang mengasah “libido intelektual” saya, untuk terus membaca dan menulis.

Setiap artikel saya yang telah dibaca oleh para netizen Budiman, entah mendapat dampak positif ataupun tidak, bukan suatu persoalan. Yang menuai persoalan ketika generasi milenial menjauh dari buku, menjauh dari budaya, atau salah kaprah dalam memaknai literasi sebagai esensial.

Saat ini pemerintah dan para stakeholder lagi gencar melakukan kampanye literasi digital untuk menaikkan grafik Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menuju Indonesia Maju. Di satu sisi, kini kita telah memasuki era revolusi 4.0. Literasi digital menjadi tuntutan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Faithe Wempen, “Internet dan komputasi telah menyentuh setiap bagian dunia. Ini berarti literasi digital adalah suatu keharusan untuk mengikuti perkembangan dunia kita yang kian berubah.” Jika terabaikan, niscaya generasi ini akan diperbudak teknologi. Ini hanya sekadar pesan yang sengaja diselipkan dalam pengantar tulisan ini. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Sudahi dulu basa-basinya. Kata Tukul, “Kembali ke laptop!”

Yang patut diketahui bahwa di zaman modern ini, semula ada optimisme yang luar biasa dengan banyak harapan yang melambung tinggi jikalau kehidupan manusia akan berkembang makin lama makin lebih baik daripada sebelumnya (Jhony Kaunang, 2020).

Demikian besar optimisme itu. Sehingga ketika modernisme atau rasionalisme modern yang materialistik mulai diperkenalkan dan berproses meruntuhkan sistem monarki absolut dan meminggirkan teologi gereja Katolik di Eropa, kaum modernis dengan gagah berani, penuh percaya diri, mencanangkan bahwa zaman itu adalah zaman pencerahan atau zaman “renaissance”, atau zaman “aufklarung”.

Sejak itu pun ilmu pengetahuan dan teknologi modern mulai ditujukan untuk meningkatkan kecekatan manusia dalam menghasilkan sesuatu yang dikatakan bermanfaat secara nyata. Karena terhitung dan terukur, tumbuh dengan subur. Hal inilah yang patut dipahami oleh generasi milenial sebelum berpikir dan bertindak di era post-modern.

Saya menganjurkan generasi milenial, sebelum “bertolak lebih dalam” atau melangkah ke depan, minimal teori yang dikemukakan Marx terkait Materialisme, Diakletika, dan Historis (MDH) harus dikuasai secara matang. Ketiga poin ini sebagai cambuk untuk kita berpikir kritis dan adaptif di era 4.0 dan menyambut Indonesia emas di 2030 mendatang.

Dengan menguasai MDH, saya yakin kaum milenial memiliki pandangan dan metode berpikir yang jernih. Dengan itu, berarti mempunyai pedoman yang tepat untuk mengambil sikap dan bertindak yang tepat. Memiliki pandangan yang jauh ke depan. Mempunyai sikap yang teguh dan konsekuen. Tidak mudah digoyahkan oleh keadaan atau oleh gejala-gejala yang dihadapi dalam era digital.

Yang patut diketahui oleh mileniali bahwasanya era digital menyediakan berbagai ancaman bagi generasi saat ini. Salah satunya adalah terkikisnya fondasi karakter bangsa yang baik dan cerdas. Hal ini terjadi dikarenakan, era 4.0 menyediakan alternatif komunikasi gaya baru, yaitu melalui media sosial.

Merebaknya digitalisasi dalam dunia pendidikan, metode pembelajaran pun sudah beralih dari face to face menjadi e-learning. E-school News (2009) mencatat bahwa beberapa perusahaan teknologi seperti Verizon, Dell, Apple, dan Microsoft mendukung pendanaan e-learning, di mana dunia pendidikan pun harus ikut beralih ke era digital.

Baca juga:

Literasi digital dapat dijadikan salah satu sarana membentuk karakter anak bangsa melalui tradisi membaca di dunia maya. Literasi digital merupakan sebuah hal baru yang perlu ditradisikan agar anak bangsa mencintai membaca, mampu memilih informasi tepat, dan membangun informasi yang konstruktif.

Dengan berselancar di dunia maya, banyak pihak merasakan nyaman. Berbagai kemudahan itu, di sisi lain, menghadirkan ruang disrupsi.

Di era post-modern, di mana segala hal berubah dengan cepat, anak-anak harus dibekali dengan kemampuan literasi digital. Karena generasi era kekinian banyak bersinggungan dengan internet, maka literasi digital menjadi salah satu alternatif yang paling mungkin untuk membangun fondasi pendidikan karakter era kekinian.

Menurut McLuhan dan para pendukung teori technological determinism, teknologi adalah faktor penentu perubahan. McLuhan terkenal dengan frase Medium is the Message. Ini memberikan pandangan bahwa alat komunikasi manusia turut berperan dalam pembentukan perilaku mereka. Media mampu mengubah cara seseorang, berpikir, merasa, dan bertingkah laku.

Di sisi lain, perkembangan media digital memberikan peluang. Seperti, meningkatnya peluang bisnis e-commerce, lahirnya lapangan kerja baru berbasis digital, dan pengembangan kemampuan berbasis literasi tanpa menegasikan teks berbasis cetak.

Perkembangan pesat di era post-modern khususnya dalam dunia digital adalah munculnya ekonomi kreatif dan usaha-usaha baru guna menciptakan lapangan pekerjaan (Sahrul Mauludi, 2018). Hal inilah yang yang menjadi peluang dan tantangan bagi bangsa ini, terutama generasi milenialnya.

Jika milenialis tak mampu bersinergi dan caksp dalam bermedia ataupun adaptif dengan digitalisasi, maka kapal besar yang bernama Indonesia bakal karam diterpa derasnya gelombang teknologi.

Saat ini, generasi milenial menjadi salah satu unsur bangsa ini yang akan menentukan wajah Indonesia ke depan. Jumlah mereka setangah dari seluruh penduduk di Indonesia dan menjadi faktor penentu perubahan (Sahrul Mauludi, 2018). Diharapkan para milenial menjadi generasi cerdas, kreatif, dan inovatif.

Baca juga:

CEO Office Strategic Development Tokopedia, Doni Nathaniel, mengungkapkan, perkembangan dunia digital di Indonesia sejalan dengan penetrasi internet di Indonesia yang terus meningkat. Disebutkan, penetrasi internet di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Ini artinya potensi untuk mendukung perkembangan ekonomi digital sangat besar (Beritasatu, 2017).

Oleh sebab itu, generasi milenial jangan asal keren jika belum tanggap dengan perubahan zaman. Saya mengharapkan, kaum milenial harus cerdas dan memiliki literasi digital yang memadai. Agar kemajuan teknologi dan informasi komunikasi menjadi berkah untuk mendorong kemajuan.

Di setiap kesempatan, ketika mewakili PMKRI untuk memberikan sambutan ataupun materi dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa, tak luput saya menyampaikan jika generasi muda saat ini akan menjadi salah satu modal utama. Eksistensinya untuk membangun bangsa ini ke depan, mendorong pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan politik yang lebih demokratis.

Jangan berbangga diri ketika dicap sebagai milenial bila kita sendiri belum mampu mengelola dunia digital dengan kreatif dan inovatif, dan juga produktif. Apa gunanya memiliki gadget canggih dan mahal tapi tidak mampu berbuat apa-apa? Malah diperbudak oleh media sosial.

Itulah yang harus kita pertanyakan pada diri kita sendiri, di saat kita memiliki produk-produk teknologi yang mewah, ketika status selalu update, memiliki banyak followers. Lantas apa yang sudah saya hasilkan? Hal positif apa yang sudah saya sumbangkan bagi warganet? Apakah saya telah memberikan kontribusi demi kemajuan bangsa ini?

Ini yang mestinya milenial refleksikan sembari bertindak sejak dini demi menyeimbangkan geliatnya teknologi yang merebak bagai covid-19.

Bapthista Mario Y. Sara
Latest posts by Bapthista Mario Y. Sara (see all)