Trik

Trik
©wikiHow

Ketika mendapat laporan ada tamu yang datang, Pak Lurah mau melarikan diri lewat pintu belakang. Dia mengira ada anggota LSM atau wartawan. Tapi Pak Sekdes langsung menghadangnya.

“Yang datang itu anggota dewan, Pak!”

“Apa benar seperti itu?”

“Benar, Pak. Pastinya dia butuh dukungan dari kita untuk jadi Bupati. Tolong nanti bilangin saya siap jadi tim suksesnya!”

“Aparat desa itu harus netral kecuali mengundurkan diri!”

Pak Sekdes terdiam sambil menghela napas dan Pak Lurah melangkah menuju ruang tamu.

Tidak lama berselang, Pak Lurah memasuki ruang tamu. Kehadirannya langsung disambut anggota dewan itu dengan senyuman ramah, jabatan tangan dan cipika cipiki. Lalu Pak Lurah kembali mempersilakan tamunya duduk.

“Sebuah kehormatan di pagi yang cerah ini, saya mendapat kunjungan Bapak,” ungkap Pak Lurah sambil membaca nama yang tertulis di atas saku anggota dewan itu, “Bapak Ir. Sukroza Atmadja, SH, M,Pd,” lanjut Pak Lurah.

“Panggil saja saya Pak Sukro, biar terlihat lebih akrab.” Pak Sukro diam sejenak sambil membetulkan letak kaca matanya. “Saya juga merasa terhormat bisa bertemu dengan bapak. Seorang tokoh desa yang berhasil. Karena saya menilai bapak berhasil dalam membangun desa itu makanya saya kemari!”

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Pak Lurah membetulkan letak pecinya.

“Begini, Pak lurah, saya sudah melakukan survei tentang kriteria orang yang bisa terpilih menjadi Bupati dan semua kriteria itu hanya Pak Lurah yang memenuhi. Jadi saya berharap Pak Lurah bersedia untuk melakukan pengabdian yang lebih luas. Bukan hanya memajukan sebuah desa tapi memajukan satu Kabupaten dengan menjadi seorang Bupati!”

“Jujur saya merasa tersanjung, tapi saya merasa bapak lebih pantas menjadi Bupati!”

“Ini bukan masalah pantas, Pak Lurah, tapi soal peluang terpilih menjadi Bupati. Pantas tapi tidak terpilih untuk apa? Lebih bagus tidak pantas tapi terpilih. Saya ini politisi, pengusaha juga. Termasuk orang terkaya se Kabupaten, sepantas apa pun saya pasti tidak akan terpilih karena masyarakat cenderung antipati kepada orang kaya, politisi apalagi merangkap jadi pengusaha. Masyarakat kita itu masyarakat yang melodrama, acara lomba menyanyi saja sering yang diekpose kehidupan melo penyanyinya. Semakin pedih kehidupan pribadi sang penyanyi semakin banyak simpati penonton kepadanya. Nah Pak Lurah selain memiliki prestasi sebagai lurah, memiliki kemampuan tapi juga memiliki kehidupan yang melodrama dan nanti kita citrakan melodramanya lebih dramatis.”

Pak Lurah tertegun dengan kening berkerut. “Untuk mencalonkan jadi lurah saja butuh dana yang tidak sedikit, apalagi menjadi Bupati. Saya tak mungkin punya uang sebanyak itu!”

Pak Sukro tersenyum, “Untuk soal dana tidak usah khawatir, ada banyak pihak yang akan ikut membantu asal Pak Lurah bersedia dicalonkan!”

***

Setelah kedatangan Pak Sukro, beberapa hari kemudian Pak Lurah langsung terlihat sibuk. Drs. Karziman seorang konsultan yang mengatur semua kegiatannya. Dari kegiatan keliling menyapa warga, pergi ke tempat bencana hingga wawancara dengan televisi lokal. Termasuk mengatur pertanyaan yang diajukan dan juga jawabannya, begitu juga dengan dana membeli jam tayang. Drs. Karziman ini merupakan orang pilihan Pak Sukro dari lembaga konsultan politik ternama.

Meski sudah ada dana yang digalang Pak Sukro, yang entah didapat dari mana. Pak Lurah tetap harus ikut memberikan juga. Terpaksa sawah yang harus dijual demi perjuangan. Meskipun istri dan anaknya menentang, tetapi Pak Lurah tetap pada pendirian. Baginya ini adalah kesempatan yang mesti dimanpaatkan. Karena tidak semua orang bisa menjadi calon Bupati.

“Allah sudah membuka jalan yang tidak terduga buat ayah. Menjadi Bupati agar lebih luas pengabdian bapak!” ungkap Pak Lurah penuh keyakinan.

Pak Lurah memang terlihat yakin. Aura kemenengan itu bisa dia rasakan dari dukungan penduduk di desa-desa yang merasa bangga orang desa bisa menjadi Bupati. Terlebih Drs. Karziman memamaparkan kalau hasil survei terakhir kalau elektabilitasnya paling tinggi dibanding calon lain.

***

Dan atas dasar elektabilitas juga akhirnya Pak Sukro yang dijadikan calon wakil Bupati. Pak Lurah percaya saja apa yang disampaikan Drs. Karziman kalau menurut hasil surveinya menempatkan Pak Sukro yang memiliki elektabilitas tertinggi untuk jadi calon wakilnyanya. Tak banyak perdebatan, seluruh partai pengusung menyepakati Pak Lurah bersanding dengan Pak Sukro.

Pak Lurah makin tenggelam dalam kesibukan, semua peragkat desa pun diam-diam dia gerakan untuk membantunya.

“Dalam demokrasi, kecurangan itu biasa apalagi hanya sebatas memanfaatkan jabatan lurah!” ujar Drs. Karziman diakhiri dengan derai tawa.

Hingga akhirnya Pak Lurah tidak banyak bertanya apalagi protes. Dia ikuti saja apa peran yang harus dia mainkan, termasuk apa yang harus dia ucapkan di hadapan media. Dalam waktu singkat Pak Lurah sudah menjadi politisi hebat. Liputan media yang begitu massif, membuatnya dikenal sebagai calon Bupati yang tegas, bersih, cerdas, taat ibadah, merakyat dan berasal dari desa.

Pencitraannya yang begitu sempurna, membuatnya dipuja-puja pendukungnya laksana dewa. Menutupi citra buruk wakilnya, Ir. Sukroza Atmadja, SH, M,Pd. Yang meskipun diupayakan dibangun citranya sebagai orang yang dermawan dan berpendidikan, tetapi citra korup dan doyan main perempuan masih melekat.

***

Akhirnya, sesuai dengan hasil survei dan quick count, Pak Lurah terpilih menjadi  Bupati. Sebuah pesta kemenangan diadakan di hotel berbintang. Yang hadir datang dari berbagai kalangan, dari pendukung, tim sukses, LSM,  pejabat, para pakar sampai para penyandang dana. Pak Sukro terlihat bahagia, senyumnya selalu menghiasi bibirnya yang hitam. Sementara Pak Lurah hanya tersenyum bila ada yang mengajaknya salaman.

“Para pengusaha itu yang menggelontorkan dana kampanye buat kita. Para pejabat,  para pakar, media dan LSM itu juga berjasa buar kemenangan kita. Sekarang saatnya kita membalas jasa mereka!” ungkap Pak Sukro setengah berbisik.

“Saya paham.” Pak Lurahi mengangguk pelan.

“Tentu yang paling berjasa menjadikan bapak seorang Bupati itu saya, jadi saya mohon semua kebijakan nantinya dikonsultasikan dulu ke saya. Terutama soal ekonomi dan pengangkatan pejabat!” lanjut Pak Sukro dengan tenang.

Pak Lurah terdiam, dia menghela napasnya perlahan. Dia paham hari-hari terberat dalam hidupnya akan segera datang.

Wahyu Arshaka
Latest posts by Wahyu Arshaka (see all)