Tuah Pusaka

Tuah Pusaka
©The Faces of Indonesia

Saat sejuk hujan menjelajahi paru-paruku, pemuda yang sama sekali tidak mengerti tentang tosan aji[1] ini bilang, “Keris itu syirik!” setelah melihat fotoku mengenakan pakaian tradisional Jawa ketika menikah.

Keris tadi terselip di belakang pinggang, itu posisi yang terbilang sulit untuk bilah senjata dicabut dari sarungnya, bahkan bila lengah, orang lain dari belakang bisa melucuti keris tadi. Letaknya sengaja ditempatkan di sana karena memiliki filosofi bahwa perang adalah hal terakhir yang akan dipilih orang Jawa dalam menyelesaikan suatu perkara.

Keris diletakkan di belakang pinggang juga difungsikan demi kesopanan saat bercakap-cakap agar lawan bicara tidak merasa terintimidasi. Bayangkan bila keris itu diletakkan di samping pinggang? Tangan akan lebih leluasa mencabut dan menghunuskan bilah keris itu.

Mendengar penyataan Joni aku terkekeh, “Memiliki pasangan hidup juga bisa menjadi hal yang syirik, kalau kamu mau mengerti.”

Lawan bicaraku agak tersinggung mendengarnya, mungkin karena dia sendiri sudah bertunangan dengan gadis pujaannya, dan tentu tidak sependapat dengan guyonanku tadi, “Apa hubungannya punya istri dan punya keris? Memangnya kamu memandikan istrimu dengan air kembang tujuh rupa di malam satu Sura?”

Aku tertawa ringan, memaklumi ketidaktahuan temanku ini, “Pada dasarnya, proses pembuatan keris yang ditempa lipat sampai ratusan bahkan ribuan lipatan itu ditiap tempaannya didoai agar vibrasi yang dihasilkan bilah pusaka tersebut memancarkan energi yang positif, Joni.”

“Blah! Lantas apa hubungannya dengan istri? Lagi pula, kita membahas tentang kesyirikan.”

“Begini, manusia sendiri memiliki medan energi di sekitar tubuhnya yang disebut sebagai aura. Termasuk istriku, ataupun tunanganmu, bahkan pada diri kita sendiri. Cuma getaran energi manusia lebih rentan berubah-ubah, dari positif ke negatif maupun dari negatif ke positif. Berbeda dengan tanaman yang cenderung selalu positif selama dia tumbuh segar,” dan aku melirik ke cincin batu akik yang Joni kenakan, “Itu batu tiger eye, yah?”

Joni tampak teralihkan, “Iya, bagus, kan? Aku suka warna kuning kecokelatan pada batu akik ini. Membuat jariku terlihat lebih elegan.”

“Nah, kawanku Joni, batu yang sedang kamu kenakan sekarang pun memiliki tuahnya sendiri. Dengan sudut pandanganmu, aku yakin barang yang kamu kenakan itu juga menimbulkan kesyirikan.”

“Ini cuma hiasan tangan, tidak lebih. Lagi pula, tuah macam apa yang akan dihasilkan dari sepotong batu yang telah dipoles ini, Lingga?”

“Kalau tidak salah, tuah batu itu untuk kepercayadirian, kewibawaan, dan menolak aura jahat bagi pemakainya.”[2]

“Aku tak memercayainya.”

“Percaya atau tidak percaya, getaran energi dari cincin yang kamu kenakan itu akan berefek padamu. Persis seperti tanaman beringin rindang itu,” aku menunjuk ke arah kebunku, “kalau beringin itu tidak ada, suasananya tidak akan seteduh ini.”

“Ah, berbeda! Pohon memang enak dipandang. Lain dengan keris yang kesannya wingit.”

Sebelum aku menjawab, istriku datang membawakan dua cangkir kopi untukku dan kawanku yang sedang bertamu. Dan hujan masih juga berjatuhan menyerbu reremputan.

Tubuh langsing istriku dibalut daster bergambar bunga, rambut lurusnya dikuncir kuda, dia tampak sangat sederhana, cuma suara lembutnya ketika mengatakan, “Silakan dinikmati kopinya.” Menurutku sangat istimewa, karena hatiku menjadi damai saat mendengarnya. Dan barangkali kalau istriku adalah pusaka, maka tuahnya adalah kedamaian. Haha.

Saat istriku sudah kembali ke dalam, aku menyeduh kopi di depanku untuk mengusir dingin di dalam tubuh, begitu pula Joni. Setelah Joni menyesap kopi panasnya, dia meminta jawaban dari pertanyaan yang belum sempat kujawab tadi. Maka kuputuskan untuk menjelaskan dengan lebih efektif.

Aku mengambil dua keris, yang satu keris berdapur[3] Tilam Sari dengan pamor[4] udan mas, dan keris berdapur Singo Barong dengan pamor kelengan.

Joni agak kaget saat melihat dua keris yang kubawa. Dan lebih kaget lagi karena aku menyuruhnya untuk membukanya.

“Ada apa ini?”

“Ini cara paling bagus agar kamu paham.” kataku dengan suara selembut mungkin namun masih terkesan tajam. Dan dengan enggan, akhirnya Joni mau mencabut keris Singo Barong terlebih dahulu. Ada satu hal yang aku lalaikan, yakni tata cara membuka keris kepada Joni.

Dia mencabut keris seperti seorang samurai mencabut katana[5] dari sarung pedangnya. Cara mencabut keris dari warangka semacam itu menandakan hendak melukai. Daya magis di dalam keris pun menjadi lebih aktif memancarkan auranya karena cara membuka kerisnya begitu. Dan yah, sudah terlambat, Joni sekarang mimisan karena tak kuat terkena gelombang energi besar dari keris Singo Barong.

Joni kaget karena ada hawa panas menghampirinya dan dia mimisan, “Kok bisa berefek begini, Ling?”

“Iya, katakanlah keris tadi beraura negatif,” aku mengambilkan daun sirih hijau untuk mengobati mimisannya, dan setelah kuobati, aku memintanya untuk membuka keris Tilam Sari, dia menolak beberapa kali, tapi setelah kubilang energi Tilam Sari ini positif, dia setuju meski sangat ragu.

Sebelum itu, aku mengajarkan bagaimana caranya menarik bilah keris dari sarungnya. Pertama, hadapkan keris ke atas, tangan kanan memegang deder[6], tangan kiri memegang sarungnya. Jempol kanan digunakan untuk mendorong warangka keris keluar, lalu tangan kiri tadilah yang menarik warangka dari sang keris ke atas. Bukan bilahnya yang ditarik ke bawah.

Tuah dari keris Tilam Sari ini untuk kedamaian. Joni pun jadi merasakan pancaran energi dari keris yang sekarang ia pegang, dan ketenangan mengalir di hatinya.

Melihat Joni terkagum-kagum dengan keris itu, aku merasa agak lucu. Soalnya tadi dia bilang keris itu syirik. Lalu kutanyai lagi, “Jadi, apakah keris itu syirik?”

Sekarang Joni bingung, tapi tetap denial, “Iya, keris itu tetap bisa menjadi benda yang menduakan Allah.”

Aku tertawa dan mengemasi dua keris tadi untuk kemasukkan ke dalam rumah. Kembalinya aku bilang, “Benda seperti keris, batu mustika, pohon angker, atau apa pun itu hanya memberikan vibrasi tertentu untuk memperkuat getaran doa yang kita panjatkan kepada Tuhan. Dan mengenai dikabulkan atau tidaknya itu sepenuhnya urusan Allah.”

Joni pun menyimpulkan, “Jadi maksudmu, benda bertuah ini hanyalah semacam antena agar doa-doa yang kita terbangkan setelah salat itu bisa mencapai langit?”

“Eh? Ya, bisa dikatakan begitu…”

Setelah menghabiskan minuman hangat dan mengobrol tentang kenangan yang ingin kulupakan sewaktu kami berdua bersekolah di tempat yang sama, Joni pulang membawa pemahaman baru yang cenderung lebih menghormati barang peninggalan nenek moyang.

Jombang, 28 Juni 2020

[1] Tosan aji singkatnya adalah senjata berbahan dasar besi yang dianggap sebagai pusaka.

[2] Sumber referensi: https://realtigereye.wordpress.com/batu-mulia-tiger-eye/

[3] Dapur adalah bentuk keris, misal, keris berbentuk Naga Sasra, Naga Raja, Naga Siluman, semua dapur tadi punya ciri khasnya sendiri karena beda ricikan.

[4] Pamor bisa dibilang adalah corak yang tergambar di bilah pusaka berkat dari cara seni tempaan tertentu.

[5] Pedang khas Jepang.

[6] Deder itu gagang keris.

Arham Wiratama
Latest posts by Arham Wiratama (see all)