Tubuhku

Tubuhku
©Peakpx

Lihat tubuhku penuh dengan miniatur
Ada yang seperti apartemen, hotel, kampus, perpustakaan, terminal,
bandara, restoran, kafe, dan rumah ibadat.
Tetapi ada juga rumah bordil,
yang sering kali beradu mulut dengan rumah ibadat.
Setiap hari mereka bertengkar merebut tubuhku.
Mereka membawa aku ke sana kemari,
dan aku pun tak bertanya untuk apa.
Seketika itu cahaya pun tenggelam dalam doa.

Ketika aku melukai tubuhku, kuteringat mereka yang berada di panti asuhan itu,
tidak pernah meratapi tubuhnya yang menyebabkan mereka
tidak berharga di mata uang, mata duitan,
mata keranjang, dan mata-mata.
Tubuh yang cacat tidak pernah membenci Tuhan
Sejak Awal.

Memperanakkan Boneka

1/

Saya duduk di depan layar televisi. Menyaksikan artis memperanakkan boneka. Boneka itu lahir dari sumur kepalanya, yang airnya keruh. Lumut-lumut menempel pada langit-langit kepalanya, dan menjelma parasit.

2/

Artis itu memviralkan diri, tatkala ia sedang menggendong, memandikan, menyusui, dan meninabobokan boneka itu. Boneka itu tidak pernah bisa berbicara, dan berbuat apa-apa. Ia tahu ia hanyalah kolaborasi antara kain, plastik, sublimasi, simulasi, dan imajinasi.

3/

Saya sebenarnya tidak pernah ada, kata boneka itu pada dirinya sendiri. Imajinasi kreatif-lah yang menyebabkan dia ada, dan berada. Tapi artis itu tidak pernah mengerti boneka, yang merupakan hasil konstruksi imajinasi kreatif itu.

4/

Boneka adalah simulakra, sampai sebagian besar orang tidak sanggup membedakan boneka dari manusia. Tapi sebagian besar orang menyembahnya sampai lupa diri, dan tidak ingat lagi sesamanya.

5/

Boneka adalah corong menuju kesadaran palsu. Sebagian orang nyaris tidak sanggup membedakan kebenaran dan kebohongan!

Telat Enam Bulan

1/

Pada dini hari
seorang gadis kecil keluar dari sebuah kamar
Merayakan kematiannya detik demi detik
Menghentikan waktu yang meluncur begitu cepat di kamar kecil itu

“Pulang dari mana, Ine?” tanya pastor muda
yang menunggu sejak gadis kecil itu masuk ke dalam kamar kecil itu.
“Hehehe. Dari dalam, pastor.” ujarnya dengan sedikit kaget dan gemetar.
“Buat apa, Ine?”
“Semalam kerja tugas pelajaran biologi dengan Professor.”

2/

Pada siang hari
Gadis kecil itu
belajar menahan sakit entah apa,
Merawat lara di kamar kecilnya berbulan-bulan

“Tugas pelajaran biologi ini
bagus sekali, ada praktiknya lagi, apalagi
dengan profesor yang luar biasa bijak itu.
Akan kujadi kenangan terindah.”

3/

Pada malam hari, beberapa bulan kemudian
Gadis kecil itu
Menerobos masuk ke kamar kecil professor
Lalu duduk dan menangis

“Professor tahu lagu dari Jamrud itu?”
“Yang mana, Ine?”
“Telat 3 Bulan itu. Tapi saya sudah bulan keenam, Professor.”
“Saya lupa menghitung.”

Melki Deni
Latest posts by Melki Deni (see all)