Tuduhan terhadap Liberalisme dan Pembajakan Sosialisme

Tuduhan terhadap Liberalisme dan Pembajakan Sosialisme
Foto: Indeks

Nalar Politik Dalam berbagai macam variannya, istilah dan gagasan liberalisme memang sering dituduh sebagai biang kerok dari seluruh persoalan hidup manusia. Mulai dari pembangunan ekonomi yang semrawut sampai pada kerusuhan yang terjadi di mana-mana, semua dipandang sebagai masalah yang berakar dari filsafat politik ini.

“Ada perang dunia, muncul orang seperti Donald Trump, itu semua dianggap malapetaka yang ditimbulkan oleh liberalisme,” kata Saidiman Ahmad dalam Diskusi Publik: Wacana Kebebasan dan Isu-Isu Indonesia Kontemporer di Jakarta, Jumat (9/8).

“Pandangan yang sangat tipikal. Jangan-jangan mereka tidak mengerti apa yang mereka tuduhkan?” tambah peneliti SMRC ini di acara yang Indeks selenggarakan dalam rangka peluncuran buku Liberalisme Klasik karya Eamonn Butler.

Liberalisme juga kerap dituduh tidak peduli terhadap masyarakat kecil. Para penganutnya acap dinilai abai pada isu-isu kemiskinan yang ada.

“Padahal, kalau kita baca sejarah, perubahan terbesar manusia, dari kemiskinan menuju kemakmuran, adalah satu sumbangan liberalisme.”

Tidak jarang pula dituding hendak memonopoli perekonomian. Gagasan-gagasannya sering kali diarahkan sebagai penyebab terjadinya monopoli perdagangan, atau ekonomi terpusat pada satu tangan, yang kemudian melahirkan banyak penindasan.

“Saya kira ini juga tuduhan yang tidak berdasar. Karena liberalisme tidak pernah bicara soal itu. Justru pada mulanya lebih banyak bicara soal sosial, soal toleransi, soal kebebasan masyarakat.”

Sudah bukan rahasia juga jika liberalisme gemar direduksi sebagai paham yang antiagama. Tak jarang para pegiatnya dilabeli sebagai orang-orang yang membikin ajaran agama hari ini jadi mundur dan terbelakang.

“Itu juga tuduhan yang tidak benar. Karena tidak ada di dalam doktrin liberalisme soal, misalnya, freedom from religion.”

Artinya, simpul aktivis JIL ini, yang liberalisme perjuangkan justru adalah bagaimana setiap orang bisa bebas beragama, menganut atau tidak. Jadi bukan malah hendak membatasi sebagaimana kaum kolot tuduhkan secara membabi buta.

“Orang liberal tidak bicara freedom from religion, tetapi freedom untuk agama, kebebasan untuk agama-agama.”

Sosialisme yang Dibajak

Saidiman juga turut menyentil kelompok-kelompok yang hari ini sukses membajak istilah khas liberalisme. Lantaran kelakuan mereka yang mempraktikkannya secara keliru, sang pemilik akhirnya berujung jadi golongan yang seolah berjarak jauh dari realitas kehidupan masyarakat.

“Liberalisme banyak sekali disalahpahami karena kebanyakan istilahnya diambil alih oleh kelompok yang seharusnya itu menjadi lawan dari gagasannya. Salah satu istilah yang penting, misalnya, sosialisme.”

Menurutnya, gagasan atau konsep sosialis, sosialisme, mestinya adalah konsep-konsep kelompok liberal. Karena kelompok inilah yang sejatinya percaya pada masyarakat dan sangat kritis terhadap negara.

“Lawan dari sosialisme mestinya statisme.”

Tetapi yang terjadi, mereka yang pede menggunakan istilah sosialis, sosialisme, malah percaya pada negara sebagai otoritas tunggal. Dalam kehidupan publik, mereka justru menghendaki intervensi negara yang lebih banyak.

“Itu sangat bertentangan dengan gagasan liberalisme klasik. Jadi, dibajak istilahnya. Itu yang paling ekstrem.” [in]

Share!